Miskin itu adalah “Cara Berpikir”

Manusia harus menolong dirinya sendiri untuk mengubah hidupnya!

Manusia dilahirkan tanpa bisa memilih etniknya serta latar belakang keluarganya tetapi manusia bisa memilih jalur hidupnya sendiri. Mau kaya atau miskin maka pilihan ada ditangannya. The choice is yours.

Seperti halnya diberikan contoh oleh pendiri Credit Union bahwa manuasia harus menolong dirinya sendiri untuk mengubah nasibnya. Dengan cara mengubah cara berpikirnya dan dia harus menjadi berdaya.

Miskin itu cara berpikir bahwa akan selamanya miskin, tidak mampu berubah dan terus harus didukung dengan semua yang “gratis”. Menolong dengan memberikan kail/pancing bukan ikannya itu sangat relevan. Tapi sewaktu diberikan kail, dia harus dibekali dengan cara memakai kail yang efektif (menentukan umpan yang dipakai, mencari sungai/danau/laut yang akan dipancing serta bagaimana menjual/mengolah ikan). Selama itu masih belajar, harus diberi bekal (tunjangan gratis) sehingga bisa konsentrasi dan mempersiapkan diri. Tapi yang gratis itu harus ada akhrinya sehingga dia terpacu mengubah cara pikirnya bahwa dia harus berubah.

Tanpa perubahan fundamental cara berpikir untuk maju (mengubah hidup) maka miskin itu akan selalu dikepalanya dan merasuki kehidupan sehari-hari yang maunya disuapin dan enak tanpa capek.

Jadi, kalau mau jadi kaya harus berpikir seperti orang kaya. Seperti halnya Einstein pernah berkata, melakukan hal yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda adalah orang gila 🙂

Advertisements

Berlatih Adaptasi

Challenge the status quo!

Katanya status quo itu enak, jadi ngapain berubah?

Dunia sudah berubah. Sekarang ini suka atau tidak suka, perubahan terjadi setiap hari. Detik demi detik waktu berubah bukan? Jadi perbubahan itu suatu keniscayaan, tidak bisa dihindari. Tapi perubahan yang kecil tidak akan terasa (seperti waktu). Perubahan akan terasa kalau besar event-nya. Seperti pindah kerja, pindah rumah, berubah status atau apa saja yang besar atau berpengaruh besar bagi hidup masing-masing orang. Setelah perubahan pastinya orang akan berusaha menjadi normal (seperti biasa atau Business As Usual). Laksana air di bejana yang digoncang-goncang; awalnya akan beriak-riak hingga mungkin luber (atau tumpah). Tapi lama-lama akan tenang atau diam. Karena energi goncangannya habis atau teredam. Kalau sudah diam kemudian lama-lama menjadi status quo.

Memulai lagi. Cycle perubahan akan dimulai dari diri sendiri untuk memulainya tapi terkadang karena keadaan (baca: perubahan strategi bisni). Dengan perubahan besar orang akan kembali berlatih untuk beradaptasi. Jadi mari kita berlatih beradaptasi sendiri dengan cycle-nya masing-masing. Bisa 10 tahun sekali dengan renovasi rumah atau pindah rumah (baru), pindah kerja tiap 2/3 tahun sekali, atau apa saja yang dianggap sebagai perubahan signifikan.

Koperasi Digital

Zaman digital dengan merebaknya telepon selular telah banyak merubah bisnis termasuk koperasi. Kalau berbicara bank/institusi finansial, sudah banyak yang membuat layanan digital memudahkan orang bergabung. Hal tersebut karena tuntutan zaman. Semua layanan digital dengan mudah dimulai, daftar menggunakan nomor handphone/alamat e-mail dan handphone itu sendiri, beres dan jadi. Bisa langsung digunakan.

Koperasi going to digital. Ada beberapa layanan koperasi yang ikut menjadi digital dengan “menjual” tabungan. Jadi dengan mudah menabung dengan membuka layanan melalui handphone. Orang bisa mempunyai e-wallet, tabungan, bayar tagihan, transfer dan lain lain. Seperti halnya digital bank tapi ini koperasi digital. Kemudian bisa ditawarkan pinjaman karena produk koperasi kan simpan dan pinjam.

Rapat Anggota. Kalau menjadi anggota koperasi melalui digital kemudian rapat anggotnya gimana ya? Atau ternyata menjadi anggota luar biasa sehingga tidak memiliki suara di Rapat Anggota. Atau nanti voting lewat aplikasi online. Nanti dicari tahu lebih jauh.

 

Mewaspadai Lawan

Siapa yang menyangka bahwa ojek akan mejadi lawan dari perusahaan taxi?

Individu vs Grup. Kalau kita lihat secara langsung secara fisik, tidak mungkin ojek (yang merupakan individu dan bukan moda transportasi) akan menjadi lawan taxi apalagi perusahaan taxi. Ojek menjadi alternatif dari alat transportasi yang ada, jadi akan dipakai karena memang yang utama tidak ada atau tidak memungkinkan. Dengan segala remeh-temehnya (harga seenaknya dll), orang memakai jasanya karena terpaksa. Ojek menjadi alternatif dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Bagi beberapa orang bahkan ojek menjadi moda transportasi utama karena dia sudah tahu siapa tukang ojek-nya (baca: langganan). Jadi untuk menjadi ojek yang “enak” bagi beberapa orang harus melewati beberapa macam syarat yang dia tentukan, dengan cara langganan ojek, semua itu bisa didapat.

Ojek adalah individu-individu yang memberikan service-nya sendiri-sendiri dengan tarif seenaknya sendiri, karena memang tidak ada yang mengatur. Sementara itu, tengoklah taxi. Moda transportasi yang dimiliki oleh sebuah koroporasi yang memiliki aset dan diatur oleh regulator (organda, dephub). Secara kasat mata, ojek akan mustahil mengalahkan taxi dengan dukungan ekosistemnya termasuk dibelakangnya group perusahaannya.

Zaman Informasi. Dengan perkembangan zaman informasi dan teknologi sekarang ini, membuat orang menjadi mudah dalam mencari informasi dan mendapatkan informasi. Menurut Google, tidak ada lagi “Zero moment of truth“, orang tidak lagi terkejut dengan sebuah fakta dalam membuat keputusan karena memang sudah tahu persis luar-dalam, kiri-kanan dan atas-bawahnya. Kondisi ini menjadikan fenomena baru di sosial media, orang berbagi sewaktu jalan-jalan, mau makan, ada acara bersama, dan lain-lain. Kebiasaan berbagi menjadi merambah ke dunia yang lebih luas yaitu bisnis. Orang berbagi rumahnya untuk disewakan menjadi seperti hotel dan peluang ini diambil oleh AirBnB dan sukses menjadi perusahaan yang besar. Sharing ini kemudian menjalar juga ke dunia transportasi melalui UBER dengan membuat orang berbagi mobilnya menjadi seperti “taxi”. Banyak lagi diluaran sana sharing ekonomi menjadi “bisnis” tersendiri. Dan tren ini terbawa ke dunia perojekan juga. G0-jek dengan ide brilian membawa solusi untuk “bisnis” ojek sehingga membuat orang dengan mudah memakainya. Serta membuat orang juga tidak malu menjadi tukang ojek. Ini yang banyak orang disebuat “disruption” di dunia ojek.

Pengguna menjadi Raja. Dengan kekuatan “digital disruption”  (menggunakan media digital) dan pengguna yang cukup banyak membuat ojek jadi bukan lagi individu-individu, tapi adalah kekuatan kolektif melalui Go-jek sebagai pemersatunya. Dan disambut oleh antusiasme pengguna dengan memakainya sehingga ojek kemudian menjadi pilihan utama orang-orang untuk pergi jarak dekat atau menghindari kemacetan. Pengguna menjadi raja dengan bebas memilih ojek dan mulai meniggalkan taxi sebagai pilihan utama. Hal ini menjadi “ancaman” bagi taxi, karena pengguna banyak beralih. Bahkan sempat terjadi friksi antara taxi dan ojek karena hal ini. Selama ini ojek yang kecil bukan siapa-siapa bagi taxi dan perusahaan taxi tapi dengan kekuatan “digital disruption” serta “sharing economy” menjadi musuh bagi yang besar.

Waspadai Musuhmu. Jadi sekarang ini, tidaklah mustahil disekitar kita yang sekarang ini kita anggap bukan siapa-siapa atau mungkin mustahil untuk mengancam; bukan berarti tidak mungkin mengancam kita. Dengan cycle bisnis yang mulai memendek, serta kekuatan “digital disruption” dan “sharing economy” kita harus selalu belajar dan waspada. Siapa tahu yang ada disekitar anda itulah yang akan mengancam anda (baca: profesi anda). Bersiaplah untuk mempunyai kemampuan beradaptasi karena di zaman now: “Beradaptasi atau Mati“!