Waktu yang Berbeda

Konsep waktu semakin rumit ketika kita memaksakan waktu kita ke dalamnya.

Ketika Tuhan tidak pernah terlambat, hanya kita yang belum melihat seluruh waktunya.

Jam dan harapan. Setiap manusia memiliki jam, tentu sesuai dengan kondisinya masing-masing.

Ada jam bangun. Jam sekolah/kuliah. Jam bekerja. Jam meeting. Jam makan. Jam tidur.

Di sisi lain, kita juga punya jam harapan.

Saya ingin ini terjadi sekarang. Saya ingin jawaban sekarang.

Saya ingin doa ini dikabulkan sekarang.

Saya sudah berusaha. Mengapa hasilnya belum datang?

Dan ini adalah pertanyaan yang sering kita lontarkan:

“Mengapa Tuhan terlambat?”

Einstein sudah lebih dulu menunjukkan. Ia telah menunjukkan sesuatu yang pada zamannya sangat mengguncang pemahaman tentang waktu:

waktu tidak selalu diukur sama oleh semua pengamat.

Dalam kondisi gerak relatif, dua pengamat dapat memperoleh pengukuran selang waktu yang berbeda. Fenomena ini disebut time dilation.

Kita sering mengira waktu adalah sesuatu yang mutlak. Einstein menunjukkan bahwa waktu berkaitan dengan siapa yang mengamati dan dari kerangka acuan mana ia mengamati.

Kita sering menilai kehidupan dari jam kita sendiri.

Hari ini gagal → saya merasa semuanya gagal.

Usaha belum menghasilkan → saya merasa usaha saya sia-sia.

Doa belum terkabul → saya merasa Tuhan diam.

Padahal kita hanya melihat satu titik pada garis waktu. Seperti kita berfokus melihat satu titik pada grafik kehidupan tanpa melihat keseluruhan kurvanya. Ketika kita berada di satu titik, Tuhan pasti melihat seluruh perjalanan kita.

Doa + Usaha + Harapan. Dalam Teori Relativitas mengingatkan saya bahwa bahkan dalam dunia fisika saja, waktu tidak sesederhana yang saya kira. Maka dalam iman, saya belajar untuk tidak menjadikan jam saya sebagai satu-satunya ukuran bagi karya Tuhan. Kita tidak pernah diminta mengetahui kapan semuanya akan terjadi. Kita hanya diminta setia menjalani bagian hari ini. Kita ingin melihat titik akhir, tetapi Tuhan mengajak kita menjalani titik demi titik. Terkadang, ketika titik titik itu berbaris rapi, baru kita sadar bahwa Tuhan sedang memanggil.

Kalau hari ini belum terjadi, berdoalah.

Kalau masih ada yang bisa dikerjakan, berusahalah.

Kalau hasilnya belum terlihat, berharaplah.

Kita melihat waktu dari satu titik. Tuhan melihat perjalanan yang utuh. Waktu Tuhan selalu yang terbaik.

Hati-hati (jangan) Iri Hati

Dari mana datangnya iri? Dari Mata, diproses pikiran dan kemudian dimasukkan ke hati.

Semakin sering kita membandingkan diri dengan orang lain, semakin sulit kita menghitung berkat yang sudah ada di tangan kita sendiri.

Sifat Manusia. Ada satu sifat manusia yang aneh. Semakin banyak yang dimiliki, belum tentu semakin puas. Kadang justru semakin gelisah.

Penyebabnya bukan karena kekurangan. Penyebabnya adalah perbandingan.

Di zaman media sosial, ketika semua orang menampilkan dirinya dari kata-kata sampai cerita seribu kata berupa posting instagram, lalu tanpa sadar muncul pertanyaan di benaknya:

“Mengapa saya belum?”

“Mengapa hidup saya tidak seperti itu?”

Karena hal itu muncul formula:

Iri = Kemampuan Orang ÷ Kemampuan Saya

Ini hanya cara sederhana untuk memahami apa yang terjadi di hati manusia.

[menurut kbbi: merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya); cemburu; sirik; dengki:]

Ketika mulai membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang dimana kemampuan orang itu luasnya tak terbatas.

Kemampuan kita kalau memang belum mampu atau memiliki maka nilainya mendekati nol.

Nah kalau sampai membandingkan terus kita nilainya nol, hasilnya bisa tak terdefinisikan atau tak terhingga.

Ketika kita melihat kemampuan, keberhasilan, atau pencapaian orang lain, kita mulai membaginya dengan ukuran diri kita sendiri.

Selama kita masih mengenal kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita, hasilnya mungkin masih masuk akal. Kita bisa mengagumi tanpa harus iri.

Tetapi masalah muncul ketika penyebutnya mendekati nol.

Saat kita lupa bahwa Tuhan juga menitipkan talenta kepada kita.

Saat itulah rasa iri mulai membesar.

Dalam matematika, angka berapa pun yang dibagi dengan angka yang mendekati nol akan menghasilkan nilai yang sangat besar. Bahkan ketika penyebutnya benar-benar nol, hasilnya tidak terdefinisi. Seolah-olah nilainya melonjak ke tak berhingga.

Begitulah iri hati. Bagaimana mereduksi ini? Karena sumber iri hati bukanlah apa yang dimiliki orang lain. Sumber iri hati adalah penyebut yang terus mengecil di dalam diri kita. Iri hati membuat mata kita hanya melihat apa yang belum ada. Syukur membuat mata kita melihat apa yang sudah ada.

Kurangi iri hati. Mungkin cara mengurangi iri hati bukan dengan mengecilkan keberhasilan orang lain. Melainkan dengan memperbesar penyebutnya. Mengingat kembali talenta yang Tuhan berikan. Menghitung berkat yang sudah diterima.

Menyadari bahwa perjalanan hidup setiap orang berbeda. Karena ketika rasa syukur bertumbuh, penyebut itu tidak lagi nol. Dan ketika penyebutnya tidak lagi nol, iri hati kehilangan kekuatannya untuk menjadi tak berhingga.

Iri hati lahir ketika kita menghitung berkat orang lain. Syukur lahir ketika kita mulai menghitung berkat kita sendiri.

Kita tidak Berjalan di Timeline yang Sama

Apakah kehidupan bisa kita lihat dari Teori Relativitas? Sering sekali kita melakukan perbandingan dengan orang lain.

Perjalanan tidak bisa dibandingkan hanya dari titik akhirnya. Lihat proses dan perjuangan yang menyertainya.

Mulai dari titik yang sama. Bayangkan ada dua orang kita sebut A dan B:

  • lulus pada tahun yang sama,
  • masuk perusahaan yang sama,
  • jabatan awal sama,
  • kemampuan relatif sama,
  • bekerja keras sama-sama.

Kalau kita melihatnya dari satu foto, seolah-olah mereka berada di start yang sama.

Hidup bukan foto. Kehidupan adalah lintasan dalam ruang-waktu. Kalau kita lihat yg tadi: A kemudian mendapat kesempatan tertentu. B menghadapi situasi berbeda. A berpindah tempat. B tetap di tempatnya. A bertemu seseorang. B mengambil keputusan lain. Sedikit demi sedikit, lintasan mereka mulai berbeda. Dan beberapa tahun kemudian: A berada di titik X. B berada di titik Y.

Lalu kita bertanya: “Mengapa hasil mereka berbeda, padahal mereka memulai dari tempat yang sama?”. Sadar atau tidak, walaupun mereka memulai dari titik yang sama, tetapi menjalani lintasan yang berbeda.

Ada Teori Relativitas. Dalam relativitas, kita berbicara tentang worldline dimana lintasan suatu objek berada dalam ruang-waktu.

Bayangkan grafik:

sumbu vertikal = waktu
sumbu horizontal = posisi

A dan B mulai dari titik yang sama. Lalu garis mereka bercabang.

Bukan karena salah satunya “lebih baik”. Tetapi karena lintasannya berbeda.

Kita sering melihat kehidupan orang lain dari satu titik pengamatan:

“Dia sudah menjadi manager.”
“Dia sudah punya bisnis.”
“Anaknya sudah lulus.”
“Dia sudah sampai di sana.”

Perbandingan jadi kompleks. Lalu kita membandingkannya dengan posisi kita sekarang. Padahal kita tidak melihat seluruh lintasannya. Kita melihat satu titik pada worldline orang lain, sementara kita sedang mengalami worldline kita sendiri.

Maka perbandingan itu sebenarnya tidak sederhana. Kita sedang membandingkan:

dua lintasan yang berbeda,
pada kondisi pengamatan yang berbeda,
dengan sejarah yang berbeda.

Kita sering iri pada titik yang sedang dicapai orang lain, tanpa pernah melihat lintasan yang membawanya ke sana.

Jika Doaku Dinyanyikan Orang Lain, Apakah itu Masih Doaku?

Doaku dinyanyikan, dia masih doaku.

Doa tidak selalu harus keluar dari mulut kita untuk tetap menjadi doa kita.

Doa kita, orang melantunkan. Ada saatnya kita punya doa sendiri. Kita menulisnya. Kita mengucapkannya. Bahkan mungkin kita tidak sanggup lagi mengatakannya dengan suara keras.

Lalu suatu hari, seseorang menyanyikan kata-kata yang persis seperti doa kita.

Pertanyaannya:

Apakah ketika orang lain menyanyikannya, doa itu menjadi doa orang tersebut? Tidak.

Doa itu tidak kehilangan pemiliknya hanya karena suara yang mengucapkannya adalah suara orang lain.

Seperti surat:  Isi surat tetap berasal dari orang yang menulisnya, meskipun orang lain membacakannya.

Doa itu ajaib. Kata-katanya mungkin keluar dari mulut orang lain, tetapi kerinduan yang melahirkannya tetap berasal dari hati kita. Orang yang menyanyikan doa kita sebenarnya sedang melakukan doa untuk kita. Ia tidak mengambil alih doa kita. Ia berdiri di samping doa kita.

Seolah berkata:

“Aku mungkin tidak mengalami persis apa yang kamu alami. Tetapi aku akan membawa kata-katamu bersamaku kepada Tuhan.”

Dan di situlah doa pribadi menjadi sesuatu yang lebih besar daripada pribadi.

Kita sering mengira doa adalah aktivitas yang sangat personal:

aku → Tuhan.

Tetapi dalam komunitas iman, kadang bentuknya berubah:

doaku + suaramu = doa kita.

Bukan karena doaku berubah menjadi milikmu. Tetapi karena kamu bersedia ikut membawa doaku.

Persekutuan dalam Doa. Doa tidak hanya merupakan hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga memiliki dimensi persekutuan. Kita mendoakan orang lain. Orang lain mendoakan kita. Gereja mendoakan kita. Bahkan ketika kita tidak mampu berdoa dengan kata-kata sendiri, kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam doa.

Mungkin Tuhan tidak selalu meminta kita menemukan kata-kata yang sempurna untuk berdoa. Kadang Tuhan menghadirkan seseorang yang bersedia menyanyikan kata-kata kita.

Ketika doamu dinyanyikan orang lain, doamu tidak berpindah kepadanya. Ia hanya sedang membantu membawa doamu kepada Tuhan.

Pemulihan itu Kombinasi Pilihan

Pemulihan bukan selalu satu keputusan besar. Kadang ia adalah kombinasi dari keputusan-keputusan kecil.

Kemungkinan yang dilakukan. Kita sering mengira pemulihan adalah tentang apa yang kita lakukan. Padahal kadang persoalannya adalah kapan kita melakukannya. Dalam matematika kombinatorik, kita bisa menghitung berapa banyak jalan yang mungkin dari satu titik ke titik lain.

Secara sederhana:

Pemulihan tidak selalu mempunyai satu jalan.

Ada orang yang pulih melalui doa. Ada yang melalui percakapan. Ada yang melalui keheningan. Ada yang melalui pelayanan. Ada yang melalui waktu.

Ada yang melalui keberanian untuk mengatakan:

“Aku membutuhkan bantuan.”

Tuhan tidak selalu membawa kita pulang melalui jalan yang kita bayangkan.

Kita sering mengira pemulihan adalah garis lurus

Terjatuh → bangkit → selesai.

Padahal kenyataannya tidak begitu.

Matematika mengenal banyak kemungkinan jalan, apalagi dalam hidup. Dalam kombinatorik, sebuah titik awal dan titik tujuan dapat dihubungkan oleh banyak susunan dan kemungkinan.Dalam hidup tentu lebih banyak lagi.

Ada jalan yang lebih panjang. Jalan yang lebih panjang bukan berarti salah. Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima. Ada yang harus melewati kehilangan. Ada yang baru bisa mengampuni setelah bertahun-tahun.

Yang berbeda adalah jalannya, bukan selalu tujuannya.

Konsep Iman. Kita tidak selalu tahu jalan yang akan digunakan Tuhan untuk membawa kita kepada pemulihan.

Jangan membandingkan jalanmu dengan jalan orang lain

Dua orang bisa memiliki tujuan yang sama tetapi lintasan yang berbeda.

Pemulihan adalah kombinasi langkah kecil

Doa + waktu + keberanian + pengampunan + komunitas + harapan.

Tidak ada satu variabel yang selalu cukup. Kadang pemulihan muncul dari kombinasi yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Kemunduran adalah bagian dari fungsi proses, bukan bukti bahwa proses gagal.

Pemulihan tidak selalu datang dari satu pilihan. Bisa jadi ia lahir dari kombinasi banyak pilihan kecil.

Meredam Dendam

Mengapa dendam menciptakan reaksi berantai, dan mengapa pengampunan sering menjadi satu-satunya cara menghentikannya.

Hukum III Newton

Bunyi dan Rumus Hukum III Newton

  • Bunyi Hukum: Jika suatu benda memberikan gaya (aksi) pada benda lain, maka benda yang terkena gaya tersebut akan memberikan gaya (reaksi) pada benda pertama yang besarnya sama, tetapi arahnya berlawanan.
  • Rumus Matematis:

𝐅aksi=−𝐅reaksi


Tanda negatif  menunjukkan bahwa arah gaya reaksi berlawanan dengan arah gaya aksi. 

Bagaimana menghentikan aksi tadi? Tentunya akan memerlukan energi yang besar dengan meredam reaksi atas aksi yang terjadi.

Prinsip ditemukan dalam konteks lokal. Dalam konteks lokal, ada semacam prinsip Hukum Gigi Ganti Gigi (G3), dan inilah awal dari konsep dendam muncul.

Kalau kita lihat proses dendam.

Pengulangan inilah yang menjadikan Aksi dan Reaksi ini terus terjadi. Semakin besar aksi yang dilakukan, reaksi yang terjadi akan sama dengan merespon berlawanan arah terhadap aksi tersebut. 

Mengapa ada konsep pengampunan? Untuk meredam dendam

Dengan Maaf inilah aksi akan meredam reaksi, dan memang memerlukan energi yang sangat besar dan tentunya kelapangan hati. Hati yang luas itulah energi yang membentuk energi maaf.

Mudah tapi susah. Setiap manusia unik untuk itu bisa memilih sendiri bagaimana pengampunan dilakukan. Memaafkan tapi tidak melupakan itulah yang alamiah dilakukan oleh kita. Dendam membuat luka berpindah tangan. Pengampunan membuat luka berhenti di satu tempat.

Dan sering kali, dunia berubah bukan karena seseorang membalas dengan lebih keras, melainkan karena seseorang memilih untuk menghentikannya.

Sintesa Pengharapan

Pengharapan bukan sekadar percaya bahwa sesuatu akan terjadi. Ia adalah keberanian menyusun langkah, meski kita belum melihat hasil akhirnya.

Proses hipotesis menjadi teorema. Kita tidak selalu tahu ke mana sebuah langkah akan membawa kita. Tetapi kita bisa memastikan bahwa langkah itu benar. Sebuah pertanyaan kemudian menjadi hipotesis boleh saja terdengar menarik. Tetapi ia belum menjadi kebenaran hanya karena seseorang percaya.

Semua ada proses yang harus dijalani:

hipotesis → pembuktian → teorema

Yang menarik adalah proses tersebut membutuhkan keyakinan sekaligus kerendahan hati.

Keyakinan:

Saya percaya ada sesuatu yang bisa ditemukan.

Kerendahan hati:

Saya harus membuktikannya.

Yuk kita belajar dari matematikawan. Ia tidak membangun semuanya dari nol.

Ia menggunakan:

  • definisi yang sudah disepakati,
  • aksioma,
  • lemma,
  • proposisi,
  • teorema sebelumnya,
  • kaidah logika.

Kemudian semuanya dirangkai untuk menjawab pertanyaan baru.

Pengetahuan manusia sebenarnya juga seperti itu.

Kita menjalani hidup dengan membawa begitu banyak hal yang sudah dibangun oleh orang lain. Bahasa yang kita gunakan. Ilmu yang kita pelajari. Nilai yang diwariskan. Pengalaman orang tua. Nasihat guru. Kesalahan generasi sebelumnya.

Lalu kita menggunakan semuanya untuk membuktikan sesuatu dalam hidup kita sendiri.

Percaya para proses, hasil mengikuti. Seorang matematikawan dapat menghabiskan bertahun-tahun membuktikan sesuatu yang pada saat ditemukan tampak seperti permainan abstrak.

Ia tidak selalu tahu:

“Besok siapa yang akan membutuhkan ini?”

Tetapi itu tidak membuat pembuktian menjadi sia-sia.

Kebenaran tidak selalu harus langsung berguna untuk menjadi bernilai.

Kita sering kecewa karena apa yang kita lakukan hari ini belum menghasilkan sesuatu. Belajar belum menghasilkan pekerjaan. Berbuat baik belum menghasilkan penghargaan. Menabung belum terasa manfaatnya. Mendidik anak belum terlihat hasilnya.

Berdoa belum mendapatkan jawaban yang kita harapkan.

Padahal mungkin kita sedang membangun premis untuk sesuatu yang belum bisa kita lihat.

Kita sering ingin kepastian terlebih dahulu baru mau percaya. Padahal kehidupan jarang memberikannya.

Mungkin hidup memang demikian. Kita tidak selalu tahu teorema apa yang sedang dibuktikan oleh kehidupan kita. Tetapi kita selalu punya kesempatan untuk memastikan bahwa setiap langkahnya benar.

Ketika Turunan Menjadi Nol

Dalam hidup, kita sering baru memahami sebuah titik penting setelah kita melewatinya.

Konsep turunan dalam matematika. Ketika masih sekolah, saya sering bertanya-tanya untuk apa belajar turunan.

Mengapa harus mencari nilai ketika f'(x) = 0?

Mengapa harus repot mencari titik maksimum dan minimum? Biasanya kita akan fokus pada hasil akhirnya, berapa nilai sebuah fungsi, bukan begitu?

Hidup adalah sebuah fungsi. Bertahun-tahun kemudian, saya justru menemukan bahwa konsep itu jauh lebih dekat dengan kehidupan daripada yang saya kira. Bayangkan hidup kita adalah sebuah fungsi.

Hari ini ada nilainya. Besok ada nilainya. Minggu depan ada nilainya. Sepuluh tahun lagi juga ada nilainya.

Masalahnya, ketika sedang berada pada sebuah titik, kita tidak pernah tahu grafik besar yang sedang dibentuk.

Saat mendapat promosi, kita mengira grafik akan terus naik. Saat kehilangan sesuatu yang berarti, kita mengira grafik akan terus turun. Saat doa belum terjawab, kita mengira hidup sedang berhenti. Padahal kita hanya melihat satu titik.

Kita belum melihat seluruh kurva. Kita harus zoom out dari titik-titik yang tadi ada nilainya untuk melihat bentuk kurvanya. Dalam matematika, ada yang disebut titik ekstrim, yaitu sebuah titik ketika sebuah fungsi mencapai puncak atau lembah sebelum arahnya berubah.

Menariknya, titik ekstrim memiliki satu ciri khas:

Turunan pertama bernilai nol.

Secara sederhana, laju perubahannya berhenti sejenak. Grafik yang tadinya naik menjadi datar. Grafik yang tadinya turun menjadi datar.

Ada sebuah momen hening sebelum arah berubah.

Dalam kehidupan rohani pun berlaku. Saya merasa kehidupan rohani sering bekerja seperti itu. Kita mengira titik penting hidup terjadi saat semuanya bergerak cepat. Padahal seringkali justru terjadi ketika segala sesuatu terasa diam.

Saat kita kehilangan yang sangat berarti. Saat doa terasa tidak dijawab. Saat rencana hidup mendadak berhenti. Kita merasa tidak sedang ke mana-mana.

Tidak naik. Tidak turun. Hanya diam.

Namun dalam bahasa matematika, bisa jadi kita sedang berada di titik ekstrim. Titik ketika Tuhan sedang mengubah arah grafik kehidupan kita.

Masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa mengenali titik ekstrim ketika sedang berdiri tepat di atasnya. Kita baru menyadarinya setelah melihat rangkaian titik yang sudah dilalui. Barulah kita berkata:

“Oh, ternyata kehilangan yang itu, membawa saya untuk mendapatkan yang ini, lebih baru.”

“Oh, ternyata kegagalan itu yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat.”

“Oh, ternyata masa menunggu itu yang membentuk karakter saya.”

Grafik baru bisa dibaca setelah beberapa titik terhubung. Bukan saat kita sedang berada di salah satu titiknya. Mungkin karena itulah hidup mengajarkan kita untuk sesekali berhenti.

Diam.

Melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui. Memplot titik-titik yang pernah terjadi. Bukan untuk menyesali masa lalu, melainkan untuk menemukan pola yang selama ini tidak terlihat.

Karena tanpa melihat grafik secara utuh, kita tidak pernah tahu apakah hari ini adalah titik biasa. Atau justru titik ekstrim yang akan mengubah seluruh arah hidup kita. Dan mungkin iman adalah keberanian untuk tetap percaya kepada Sang Pembuat Grafik, bahkan ketika kita belum bisa melihat bentuk kurva yang sedang digambar-Nya.

Ketika hidup terasa diam, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa tidak ada yang terjadi. Dalam matematika maupun dalam iman, titik perubahan terbesar sering dimulai ketika turunan itu menjadi nol.

Ketika Kata-Kata Habis, Bernyanyilah

Ada masa ketika doa tidak lagi keluar sebagai kalimat. Sepertinya Tuhan memang menyediakan lagu untuk menggantikan kata-kata yang tidak sanggup kita ucapkan.

Tidak mampu berdoa. Terkadang ketika seseorang sedang menghadapi kehilangan, sakit, kegagalan, atau kecemasan; akan sulit mengucapkan doa karena lidah yang kelu sekelu perasaan hatinya. Akan tetapi adakalanya dia masih mampu bersendandung. Memang ajaib hati manusia, di tengah kegalauan dia masih tetap bisa merespon melodi yang menyentuhnya.

Melihat fenomena di musik dangdut. Coba perhatikan bagaimana fenomena lagu dangdut. Terkadang ada lagu dengan tema cerita yang amat sedih sampai ambyar tetapi penyanyinya tetap bergoyang dan juga pendengarnya terkadang ikut. Jadi, melodi itu memberi rasa yang berbeda pada sebuah cerita.

Emosi tidak muat dalam kalimat. Beberapa kasus ada perasaan atau emosi yang tidak muat untuk diungkapkan dalam sebuah kalimat. Begitu nada membentuk rangkaian melodi dan melingkupi kata-kata/syair itu, muncullah perasaan yang diinginkan. Ajaib? Memang begitulah yang terjadi.

Tradisi dalam Iman. Mari kita tengok tradisi iman. Kita mengenal suatu syair yang dinyanyikan untuk memuji sang Pencipta, dalam kasus ini disebut Kidung. Lebih khusus, jika syair-syair itu bersumber dari kitab Mazmur maka dia disebut Mazmur. Mari kita coba lihat dalam Ritus Keagamaan, dalam hal ini Perayaan Ekaristi atau Misa Kudus, kenapa ada nyanyian? Karena nyanyian itu merupakan dari bagian dari Doa untuk memuji Allah. Mungkin untuk Ritual Agama lain ada padanannya tapi saya tidak punya kapasitas membahas hal tersebut.

Ketika Lagu Menjadi Penopang Iman. Bagian paling personal dari pengalaman Iman masing-masing pribadi, banyak orang bertahan bukan karena menemukan jawaban, melainkan karena ada satu lagu yang terus mereka nyanyikan. 

Kadang Tuhan menitipkan jawaban atas masalah kita melalui sebuah lagu yang terus kita nyanyikan, bahkan ketika kita sudah tidak sanggup mengucap doa.

Kita Bilang ‘Kata Sistem’. Sistem Bilang Kata Siapa?

Masalah terbesar AI bukan ketika AI menjadi seperti manusia. Masalahnya justru ketika manusia mulai menyadari bahwa untuk beberapa pekerjaan bukan lagi membutuhkan manusia.

Artificial Intelligent (AI). AI banyak dipakai untuk membantu membuat keputusan manusia. Pernahkan kita melihat paradox: 

Sebuah sistem diciptakan oleh manusia, Model AI dilatih dengan data oleh manusia, parameter risiko ditentukan oleh manusia. Kebijakan bisnis dibuat oleh manusia, parameter pengawasan dibuat oleh manusia. Kemudian manusia membuat mesin itu berjalan untuk membantunya mengambil keputusan. Kalau sistemnya salah (dan manusia bingung), manusia bilang “kata sistem”.  Kemudian, pernah gak kepikiran trus “sistem akan berkata atas nama siapa?”.

Pedoman Tata Kelola AI. Menariknya, ketika OJK menerbitkan Pedoman Tata Kelola AI Perbankan Indonesia, fokusnya bukan hanya pada kecanggihan teknologi. Justru yang banyak dibahas adalah tata kelola, akuntabilitas, pengawasan manusia, dan manajemen risiko. Seolah regulator ingin mengingatkan bahwa ketika organisasi mulai menggunakan AI, pertanyaan terpenting bukanlah “seberapa pintar sistem ini?”, melainkan “siapa yang bertanggung jawab atas keputusan yang dihasilkannya?”

Patuh biar utuh. Selama ini fungsi kepatuhan membantu memastikan manusia mematuhi aturan. Di era AI, fungsi yang sama juga harus membantu memastikan bahwa aturan, nilai, dan prinsip organisasi tetap hadir ketika sebagian keputusan mulai dibantu oleh mesin.

Tantangan. Mungkin masalah terbesar AI bukanlah ketika mesin mulai berpikir seperti manusia. Atau mungkin masalah terbesar justru muncul ketika manusia mulai berhenti berpikir karena terlalu percaya pada mesin.

Sebab pada akhirnya, ketika sesuatu berjalan baik, kita dengan bangga mengatakan bahwa itu hasil kerja tim. Tetapi ketika sesuatu berjalan salah (dan kita dibuat bingung), kita sering tergoda mengatakan: “Itu kata sistem.” Padahal jika sistem bisa menjawab, mungkin ia akan balik bertanya: “Kata siapa?”

Di era AI sekarang ini, jangan-jangan yang hilang bukan pekerjaan kita, melainkan tanggung jawab kita.