Harapan itu selalu ada bagi yang percaya.
Yang tersisa setelah melakukan rilis doa+nada.
Ada hal aneh yang datang sehari setelah sesuatu yang lama hanya menjadi ide, kemudian direalisasikan dengan tangan sendiri tentu dengan bantuan AI dan teman-teman yang baik. Hari ini yang paling terasa bukan soal albumnya, tapi soal harapan yang saya titipkan di dalamnya.
Album yang kemarin dirilis sekarang sudah bukan sesuatu yang bisa saya atur lagi. Siapa yang mendengarnya, kapan, dalam keadaan hati seperti apa, sudah lepas dari tangan saya sejak kemarin. Harapan yang saya bawa saat membuatnya pun, mau tidak mau, ikut lepas bersamanya.
Menulis dan merilis itu dua hal yang berbeda.
Menulis bisa diulang, diperbaiki, dibaca ulang sendiri sebelum siapa pun tahu. Tapi merilis hanya terjadi sekali. Setelah itu, karya itu berjalan sendiri, bertemu orang-orang yang tidak pernah saya duga, di waktu yang tidak bisa saya pilih.
Saya sempat merasa ini sebagai kehilangan kendali. Tapi semakin dipikirkan, rasanya lebih tepat disebut kepercayaan. Mempercayakan harapan yang sudah saya kerjakan sebaik mungkin, kepada tangan yang lebih tahu siapa yang perlu menerimanya.
Titik yang berulang, juga berlaku di sini.
Titik kecil bernama satu album, yang dulu hanya ide dan harapan, sekarang bisa menjadi satu titik dalam perjalanan orang lain yang bahkan saya tidak kenal.
Saya tidak akan pernah tahu titik mana dari album ini yang akan berarti bagi siapa, atau harapan siapa yang akan terjawab lewatnya. Itu bukan bagian saya untuk tahu. Bagian saya sudah selesai kemarin.
Yang saya bisa lakukan sekarang hanya satu, melepaskan harapan itu dengan tenang, dan percaya ia akan sampai ke tempat yang seharusnya.








