Pengharapan bukan sekadar percaya bahwa sesuatu akan terjadi. Ia adalah keberanian menyusun langkah, meski kita belum melihat hasil akhirnya.
Proses hipotesis menjadi teorema. Kita tidak selalu tahu ke mana sebuah langkah akan membawa kita. Tetapi kita bisa memastikan bahwa langkah itu benar. Sebuah pertanyaan kemudian menjadi hipotesis boleh saja terdengar menarik. Tetapi ia belum menjadi kebenaran hanya karena seseorang percaya.
Semua ada proses yang harus dijalani:
hipotesis → pembuktian → teorema
Yang menarik adalah proses tersebut membutuhkan keyakinan sekaligus kerendahan hati.
Keyakinan:
Saya percaya ada sesuatu yang bisa ditemukan.
Kerendahan hati:
Saya harus membuktikannya.
Yuk kita belajar dari matematikawan. Ia tidak membangun semuanya dari nol.
Ia menggunakan:
- definisi yang sudah disepakati,
- aksioma,
- lemma,
- proposisi,
- teorema sebelumnya,
- kaidah logika.
Kemudian semuanya dirangkai untuk menjawab pertanyaan baru.
Pengetahuan manusia sebenarnya juga seperti itu.
Kita menjalani hidup dengan membawa begitu banyak hal yang sudah dibangun oleh orang lain. Bahasa yang kita gunakan. Ilmu yang kita pelajari. Nilai yang diwariskan. Pengalaman orang tua. Nasihat guru. Kesalahan generasi sebelumnya.
Lalu kita menggunakan semuanya untuk membuktikan sesuatu dalam hidup kita sendiri.
Percaya para proses, hasil mengikuti. Seorang matematikawan dapat menghabiskan bertahun-tahun membuktikan sesuatu yang pada saat ditemukan tampak seperti permainan abstrak.
Ia tidak selalu tahu:
“Besok siapa yang akan membutuhkan ini?”
Tetapi itu tidak membuat pembuktian menjadi sia-sia.
Kebenaran tidak selalu harus langsung berguna untuk menjadi bernilai.
Kita sering kecewa karena apa yang kita lakukan hari ini belum menghasilkan sesuatu. Belajar belum menghasilkan pekerjaan. Berbuat baik belum menghasilkan penghargaan. Menabung belum terasa manfaatnya. Mendidik anak belum terlihat hasilnya.
Berdoa belum mendapatkan jawaban yang kita harapkan.
Padahal mungkin kita sedang membangun premis untuk sesuatu yang belum bisa kita lihat.
Kita sering ingin kepastian terlebih dahulu baru mau percaya. Padahal kehidupan jarang memberikannya.
Mungkin hidup memang demikian. Kita tidak selalu tahu teorema apa yang sedang dibuktikan oleh kehidupan kita. Tetapi kita selalu punya kesempatan untuk memastikan bahwa setiap langkahnya benar.

