“Rumus: (2) pernyataan atau simpulan tentang asas, pendirian, ketetapan, dan sebagainya yang disebutkan dengan kalimat yang ringkas dan tepat” – KBBI
Apakah harus terkait pelajaran formal? Kalau merujuk definisi rumus dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ternyata rumus itu tidak harus terkait pelajaran formal. Ada di urutan pertama definisi rumus di KBBI adalah hal terkait dengan pelajaran formal (matematika, kimia dan sebagainya). Kemudian melihat definisi harapan, salah satunya adalah “keinginan supaya menjadi kenyataan”. Sementara pengungkit adalah “alat untuk mengungkit”. Jadi pengungkit harapan adalah “alat untuk mengungkit keinginan supaya menjadi kenyataan”. Kalau kita mau harapan menjadi kenyataan, maka yang harus dilkukan adalah memulai usaha untuk mewujudkannya. Bagaimana kalau kita buat bahwa usaha mewujudkan harapan ini ada alatnya sehingga bisa mengungkit harapan? Kadang manusia sudah berusaha, kemudian doa sudah dipanjatkan, tetapi harapan belum juga terwujud. Apakah ada sesuatu yang mengungkit harapan itu? Bagaimana hal ini dirumuskan?
Rumus pengungkit harapan. Mari kita mencoba hal yang sudah kita lakukan terkait harapan: (1) kita melakukan usaha nyata yang diperlukan dengan segala daya & upaya. (2) berdoa untuk mengiringi usaha supaya lebih maksimal. Ada satu faktor yang dapat mengungkit harapan, yaitu hati yang berserah. Jadi kalau kita lihat rumus pengungkit harapan adalah sebagai berikut:
(Doa + Nada) x Hati yang berserah = Pengungkit Harapan
Ini adalah yang kita lakukan tetapi dituliskan secara matematika. Doa kita pahami sebagai permintaan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Pada satu titik, Doa bukanlah cara untuk mengendalikan hasil, tetapi latihan untuk percaya. Nada adalah bentuk doa tanpa banyak kata, kadang ada perasaan yang terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kalimat. Maka kita bernyanyi. Doa berbicara kepada Tuhan dengan kata-kata. Nada berbicara kepada hati melalui rasa. Kita sudah pasti sudah melakukan itu ketika mempunyai harapan. Karena doa dan nada bisa saja hanya menjadi aktivitas saja apabila hati masih ingin mengendalikan semuanya. Untuk itulah diperlukan Hati yang berserah. Dan ini adalah faktor pengali, jadi kalau mau berhasil, faktor ini diperbesar. Berserah bukan berarti berhenti berharap. Berserah berarti berhenti memaksa Tuhan mengikuti skenario kita.
Pengungkit harapan. Itu tidak selalu mengubah keadaan seketika. Kadang yang berubah justru diri kita.
Masalah masih ada.
Jawaban belum datang.
Pintu belum terbuka.
Tetapi hati kita menjadi lebih kuat untuk melewati semuanya.
Ubah Perspektif kita. Harapan bukan selalu tentang Tuhan mengubah keadaan. Kadang harapan adalah cara Tuhan mengubah cara kita melihat keadaan.
Doa mengarahkan kita kepada Tuhan.
Nada membantu hati mengucapkan apa yang sulit dikatakan.
Dan penyerahan membuat kita percaya bahwa hidup tidak harus selalu berjalan menurut perhitungan kita.
Karena pada akhirnya, harapan bukan tentang seberapa kuat kita menggenggam keinginan.
Harapan justru tumbuh ketika kita berani membuka tangan.
Dan mungkin, di situlah Tuhan mulai mengangkat kita.
referensi: (1) https://kbbi.web.id/rumus (2) https://kbbi.web.id/harap (3) https://kbbi.web.id/ungkit

