Tulisan AI terasa hambar???

“ini adalah video dari Janoe Arijanto” dan “AI membantu membuat catatan dengan menonton video untuk kita”

Perkembangan Artificial Intelligent (AI) sangat membantu apa yang bisa kita lakukan. Salah satu contohnya adalah membuatkan catatan dari Video di YouTube untuk kita.

Caranya:

  1. Buka gemini.google.com
  2. Kemudian paste URL alamat video yang akan ditonton. tekan enter atau return.

Berikut ini adalah contoh catatan dari video: “Eps. 175 GoodTalk Tulisan AI Terasa Hambar? Janoe Arijanto Ungkap Pentingnya ‘Purpose’ dalam Narasi” di kanal Good News From Indonesia.

URL: https://www.youtube.com/watch?v=KK_9XxYpeTo

Dalam video berjudul “Eps. 175 GoodTalk Tulisan AI Terasa Hambar? Janoe Arijanto Ungkap Pentingnya ‘Purpose’ dalam Narasi” di kanal Good News From Indonesia, Janoe Arijanto menyoroti dampak mendalam penggunaan Generative AI terhadap otentisitas, cara berpikir, dan kualitas narasi manusia.

Berikut adalah poin-poin penting dan rangkuman gagasan yang disampaikan dalam video tersebut:

Fenomena dan “Krisis Otentisitas”

  • Keseragaman Jawaban Mahasiswa [02:00]: Janoe menceritakan eksperimen pribadinya saat mengajar 125 mahasiswa. Ia memberikan tugas UTS analitik tingkat lanjut yang belum pernah diajarkan. Hasilnya, semua bisa menjawab, tetapi lebih dari 80% jawabannya seragam (kembar). Di titik inilah otentisitas dan jati diri mulai hilang.
  • Hilangnya Karakter Media [03:15]: Sebuah media atau penulis akan mudah lenyap jika kehilangan karakter khasnya. Ia mencontohkan bagaimana Tempo sangat dipengaruhi gaya Gunawan Mohamad, Kompas dengan analitiknya, atau The Conversation yang bergaya setengah jurnal.

Bahaya “Utang Kognitif” (Cognitive Debt)

  • Riset MIT tentang Daya Ingat [04:40]: Penelitian dari MIT menunjukkan bahwa lebih dari 83% mahasiswa kesulitan mengingat kalimat atau pemikiran yang mereka tulis sendiri untuk sebuah tugas ketika menggunakan AI. Tidak ada rasa kepemilikan (ownership) terhadap tulisan tersebut.
  • Penurunan Aktivitas Otak [05:52]: Sensor otak menunjukkan kelompok pengguna ChatGPT memiliki aktivitas otak terendah karena proses analisis didelegasikan ke mesin. Terjadi penurunan keterlibatan kognitif hingga lebih dari 50%.
  • Konsep Cognitive Debt [06:35]: Kita mendapatkan banyak konten secara instan, namun kita “berutang” pada pikiran kita sendiri karena adanya penurunan kemampuan mengingat dan menganalisis yang sulit dibayar di masa depan.

Mengapa Tulisan AI Terasa Hambar?

  • Bias Positif (Positive Bias) [08:28]: AI cenderung menghindari premis yang radikal, kontroversial, sensitif, atau multitafsir. AI bertindak seperti “anak pramuka yang baik” yang selalu menyarankan hal-hal aman, normatif, dan berbasis etika, sehingga tidak ada loncatan pemikiran yang berani.
  • Struktur yang Terlalu Rapi tapi Dangkal [09:26]: Tulisan yang dihasilkan AI sangat teratur dan terstruktur secara tata bahasa, namun tidak memiliki kedalaman analisis dan miskin keragaman perspektif [10:00].
  • Ketidakmampuan Mengkap Hal Lokal & Arkais [11:51]: AI mengambil data dari hal-hal yang paling populer di internet (high exposure & SEO tinggi). AI tidak akan bisa meniru detail lokalitas yang mendalam seperti tulisan Clifford Geertz tentang hantu Jawa, atau diksi personal sastrawan seperti Eka Kurniawan [10:55].
  • Model Collapse [13:19]: Ketika internet mulai dibanjiri oleh konten buatan AI, model AI baru akan melakukan crawling (pemindaian) terhadap konten AI sebelumnya. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas secara melingkar karena mesin melatih mesin.
  • The Great Flattening [16:42]: Terjadinya homogenisasi massal di mana semua tulisan menjadi datar, tanpa ada dinamika logika, dialektika, kegelisahan, atau rasa penasaran.

Solusi: Cara Bijak Menggunakan AI

Janoe menegaskan bahwa dirinya dan GNFI tidak anti terhadap AI [00:42], melainkan menyoroti bagaimana cara kita menggunakannya.

  • Gunakan AI di Tahap Akhir (After) [18:46]: Studi MIT menemukan bahwa peserta yang pertama kali belajar dan membangun logika sendiri tanpa AI, lalu menggunakan AI di akhir sesi, justru mengalami lonjakan aktivitas otak yang sangat kuat.
  • Menjadikan AI Teman Diskusi [19:27]: Otak manusia akan bekerja lebih aktif ketika kita sudah memiliki sudut pandang (angle) sendiri, lalu menggunakan AI untuk menabrakkan atau menguji logika tersebut.
  • Menjaga Kedewasaan Berpikir [20:00]: Kita harus berhenti bertanya bagaimana mencegah AI membuat kita bodoh, melainkan mulai bertanya bagaimana memastikan AI membuat kita lebih bijaksana (wisdom). Pengguna harus tetap mengkritisi diksi, logika, mencari sumber minoritas, dan memasukkan karakter serta kepribadian asli manusia ke dalam narasi.

[hak cipta atas kekayaan intelektual ada di masing-masing pemilik konten]

QRIS Payment: Kemudahan dan Modus penipuan

Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Payment, sekarang ini menjadi jenis pembayaraan yang sangat populer di masyarakat Indonesia. Mengapa? karena cukup dengan membawa HP yang ada aplikasi mobile banking atau aplikasi e-money bisa melakukan pembayaran (dengan syarat punya saldo). Dengan QRIS payment ini, sangat memudahkan kita dari beli gorengan, beli air mineral atau es kopi, belanja di warung madura, super market sampai belanja di market place bisa dilakukan pembayaran dengan QRIS ini. Sangat mudah, cepat, efisien, handal dan murah…. seperti slogan QRIS dari Bank Indonesia CEMUMUAH (CEpat, MUdah, MUrah, Aman dan Handal).

Mekanisme QRIS Payment. Dalam QRIS payment ini ada beberapa pihak yang terlibat dalam transaksinya. Kita sebut saja semua pihak Penyedia Jasa Pembayaran ini sebagai PJP. Kalau pengguna mobile banking/aplikasi e-money kita sebut saja Pengguna, dan aplikasi yg dipakai sebagai Aplikasi QRIS. Untuk dapat membayar pakai QRIS, Aplikasi QRIS ini harus memiliki sumber dana pembayaran. Kalau Aplikasi QRIS dari pemilik e-money, maka sumber dananya e-money itu sendiri, contoh: Dana, Gopay, Ovo, dll. Aplikai QRIS ini dimiliki oleh Penerbit QRIS (Issuer QRIS) adalah juga pihak yang melakukan administrasi sumber dana dari Aplikasi QRIS tersebut. Kalau Bank, tertunya sumber dana bisa Tabungan atau Kartu Kredit. Contoh Issuer QRIS yaitu bank-bank pada umumnya ataupun pemilik e-money. Nah QR Code yang dicetak ditaruh di merchant dimana kita biasa beli barang itu dikeluarkan oleh Pihak Acquirer QRIS (pihak yang memiliki merchant dan mencetak kartu QR kodenya). Nah para Acquirer dan Issuer ini diatur oleh Self-Regulatory Organization (SRO) yang juga diawasi oleh otoritas pengawas sistem pembayaran yaitu Bank Indonesia. Para Acquirer ini lah yang mencari merchant kemudian bekerja sama dengan mereka serta mencetak kartu QR Code. Biasanya para Issuer juga memiliki Unit bisnis Acquirer juga. Jadi contohnya Gopay sebagai issuer qris (dengan e-money) juga memiliki izin bisnis sebagai acquirer (memiliki merchant). Jadi secara garis besar alur tansaksi QRIS: Pengguna – Acquirer – Issuer (yang melakukan otorisasi transaksi atas sumber dana yang digunakan).

Bahaya dibalik kemudahan. Di balik kemudahan dan popularitas, ternyata banyak juga yg mencoba mengeksploitasi menjadi alat untuk menipu. Memang para penjahat ini sangat kreatif kalau mencoba mencari celah untuk melakukan kejahatan. Itulah gunanya integritas bagi orang yang menjalankan/mengembangkan inovasi teknologi.

Modus penipuan dengan QRIS Payment. Ada banyak modus yang digunakan oleh penipu untuk QRIS Payment ini.

  1. Generate Bukti Pembayaran Palsu. Ini mengeksploitasi pembayaran yang tidak dicek oleh pedagang/merchant. Para pedagang ini harusnya melakukan pengecekan kalau pembayarannya berhasil (masuk ke histori transaksi di rekening penampung milik pedagang). Nah karena ada pegagang yang tidak mengecek setelah transaksi, celah ini dipakai oleh penipu dengan menggunakan aplikasi yang dapat membuat bukti bayar QRIS palsu. Nah ini diatasi dengan sekarang ini ada beberapa acquirer yang melengkapi notifikasi transaksi QRIS yang berhasil dengan bunyi serta suara yang membacakan notifikasi penerimaan transaksi. Ada juga yang menggunakan mesin EDC (electronic data capture) sehingga memastikan uang sudah masuk rekening baru dicetak bukti bayarnya.
  2. QR code ditempel dengan QR penipu. Ini yang paling marak, para penipu (biasa sebagai pedagang/merchant) kemudian mencetak QR Code mereka kemudian ditempelkan ke kartu QR Code target, sehingga kalau orang scan code itu, uangnya akan masuk ke rekening penipu. Nah ini juga harus hati-hati bagi para pihak pengguna Kartu QR COde, silakan sering-sering cek QR Code-nya apakah masih sama atau ada yang mencoba menempel stiker QR yg baru.
  3. QR Code digunakan untuk top up kegiatan ilegal (jud*l). Ini yang kemarin marak, karena para penyelenggara kegiatan ilegal ini sudah menggunakan rekening Bank, jalan lainnya menggunakan QR Code, seolah-olah membayar suatu transaksi padahal uang yg masuk itu dipindahkan (bisa manual atau otomatis) ke dompet/rekening untuk kegiatan ilegal.

Jadi dari sisi pengguna selalu waspada dan memastikan bahwa QR Code yang dipindai/Scan benar adalah milik pedagang/merchant. Kemudian para Pedagang juga memastikan bahwa QR Code-nya tetap aman tidak coba diganti oleh orang yang tidak bertanggung jawab.