Magnifica Humanitas

Surat Ensiklik Paus Leo XIV (26 Mei 2026)

“Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Buatan (AI)”

[ini adalah catatan pribadi saya, tentu dibantu AI]

Teknologi dan AI adalah karunia dari kreativitas manusia yang patut disyukuri. Namun, dinamika digital saat ini sebagian besar digerakkan oleh aktor komersial swasta yang minim akuntabilitas publik.

Gereja mengingatkan bahwa arah perkembangan AI tidak boleh hanya berorientasi pada profit, efisiensi optimal, dan pengumpulan modal finansial sepihak.

Ensiklik ini mengkritik keras ideologi transhumanisme dan posthumanisme yang memandang manusia layaknya mesin yang harus selalu di-upgrade tanpa batas.

• Dampak Buruk: Munculnya diskriminasi gaya baru, penguncilan sosial bagi yang “tidak produktif”, serta hilangnya keunikan eksistensi manusia.

• Martabat Ontologis: Nilai manusia bersifat mutlak sejak penciptaan, bukan dinilai dari performa atau angka komputasi.

Otomatisasi tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan PHK massal secara semena-mena demi memangkas biaya operasional.

Prinsip Utama Pekerjaan:

“Kerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sarana manusia mengaktualisasikan diri dan menjaga harga dirinya. AI harus menjadi mitra pembantu pekerja, bukan penggantinya.”

MASA DEPAN: PERADABAN KASIH

Paus Leo XIV menyerukan tata kelola AI global yang transparan, mengedepankan prinsip subsidiaritas (keterlibatan semua pihak) dan solidaritas demi kebaikan bersama (common good).

Silakan baca versi lengkanya di: https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/encyclicals/documents/20260515-magnifica-humanitas.html

Musik AI

Kreativitas tanpa batas?

Fenomena AI. Perkembangan AI sekarang ini cukup dahsyat, hampir semua lini sudah menggunakannya dari membuat tulisan, membuat tugas, layanan pelanggan, pengembang aplikasi, kendaraan self-driving sampai robot-robot hi-tech. Dengan adanya kemajuan dan kemampuan Generative AI (GenAI), seolah membuat kegiatan kreatif menjadi lebih cepat dan cukup variatif (terlihatnya).

Proses Kreatif menjadi cepat. Dengan GenAI, kita dapat melakukan hal yang cukup kreatif salah satunya dalam hal musik. Dalam hal ini kita melihat aransemen musik, bagaimana GenAI bisa membuat proses aransemen musik sangat cepat dan variatif. Kemampuan GenAI menggabungkan contoh aransemen musik ke suatu lagu yang ada, hasilnya cukup membuat orang sangat yakin bawah ini menjadi lebih bagus (awalnya). Terdengar sesuatu yang fresh/baru dari sebuah lagu yang kita kenal dengan memberikan banyak sentuhan aransemen baru dengan bantuan AI. Kemampuan vokal yang cukup bagus membuat musik buatan AI ini terasa sangat kreatif. Sangat betul bahwa proses kreatif itu menjadi sangat cepat dan singkat dari segi waktu.

YouTube adalah “tembok grafiti”. YouTube sekarang ini menjadi tempat orang melihat video dari macam-macam jenis dari podcast, lagu, live music dan macam-macam kegiatan ada di sini. Jadi ibarat YouTube adalah “tembok grafiti”, dimana semua orang menuangkan proses kreatifnya dan mem-publish untuk dinikmati banyak orang. Inilah yang dimanfaatkan para penggiat musik AI, mereka banyak melakukan aransemen lagu-lagu yang sudah dikenal dengan sentuhan baru dengan GenAI, sangat bagus dari sisi vokal dan aransemen yang cukup kreatif. Hal yang baru menjadi terealisasi dan dapat dinikmati orang lain melalui “tembok grafiti”. Ada hal yang cukup aneh musik AI ini, yaitu terlalu flat/kurang emosi dan seragam/monoton. Terlalu sempurna untuk suatu karya dengan vokal manusia.

Tidak sempurna, itulah “seninya”. Musik dengan vokal manusia akan memiliki karakter sendiri-sendiri tergantung jenis suara, artikulasi dan logat. Kemudian dari segi teknik vokal tidak seragam (tergantung skill masing-masing), serta ada naik turunnya. Inilah yang menjadi ciri khas dari semua lagu dan penyanyi. Begitulah musik yang diciptakan dan dilagukan oleh manusia. Ada rasa berbeda satu dengan yang lain, kadang tidak bisa dituliskan/dijelaskan tetapi bisa dirasakan oleh pendengarnya. Hal ini tidak ditemukan di musik AI, terlalu sempurna dan bagus sehingga akhirnya terasa monton, flat tidak ada perasaan/power. Sesuatu yang bagus itu karena variatif, tetapi musik AI itu ada polanya dan terlalu sempurna dari vokal dan terkadang artikulasi yang terlalu text book. Roh kreatif di musik menjadi hilang, ini yang terjadi sekarang dengan GenAI yang ada sekarang. Entahlah kalau nanti rasa itu bisa diciptakan oleh GenAI.

Manusia tetap hasil ciptaan yang “sempurna”. Jadi kembali ke hakikat manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna termasuk karya ciptaannya menjadi sangat sempurna dengan segala kekurangannya dan dinamikanya. Manusia tetap diatas ciptaannya sendiri.

Tulisan AI terasa hambar???

“ini adalah video dari Janoe Arijanto” dan “AI membantu membuat catatan dengan menonton video untuk kita”

Perkembangan Artificial Intelligent (AI) sangat membantu apa yang bisa kita lakukan. Salah satu contohnya adalah membuatkan catatan dari Video di YouTube untuk kita.

Caranya:

  1. Buka gemini.google.com
  2. Kemudian paste URL alamat video yang akan ditonton. tekan enter atau return.

Berikut ini adalah contoh catatan dari video: “Eps. 175 GoodTalk Tulisan AI Terasa Hambar? Janoe Arijanto Ungkap Pentingnya ‘Purpose’ dalam Narasi” di kanal Good News From Indonesia.

URL: https://www.youtube.com/watch?v=KK_9XxYpeTo

Dalam video berjudul “Eps. 175 GoodTalk Tulisan AI Terasa Hambar? Janoe Arijanto Ungkap Pentingnya ‘Purpose’ dalam Narasi” di kanal Good News From Indonesia, Janoe Arijanto menyoroti dampak mendalam penggunaan Generative AI terhadap otentisitas, cara berpikir, dan kualitas narasi manusia.

Berikut adalah poin-poin penting dan rangkuman gagasan yang disampaikan dalam video tersebut:

Fenomena dan “Krisis Otentisitas”

  • Keseragaman Jawaban Mahasiswa [02:00]: Janoe menceritakan eksperimen pribadinya saat mengajar 125 mahasiswa. Ia memberikan tugas UTS analitik tingkat lanjut yang belum pernah diajarkan. Hasilnya, semua bisa menjawab, tetapi lebih dari 80% jawabannya seragam (kembar). Di titik inilah otentisitas dan jati diri mulai hilang.
  • Hilangnya Karakter Media [03:15]: Sebuah media atau penulis akan mudah lenyap jika kehilangan karakter khasnya. Ia mencontohkan bagaimana Tempo sangat dipengaruhi gaya Gunawan Mohamad, Kompas dengan analitiknya, atau The Conversation yang bergaya setengah jurnal.

Bahaya “Utang Kognitif” (Cognitive Debt)

  • Riset MIT tentang Daya Ingat [04:40]: Penelitian dari MIT menunjukkan bahwa lebih dari 83% mahasiswa kesulitan mengingat kalimat atau pemikiran yang mereka tulis sendiri untuk sebuah tugas ketika menggunakan AI. Tidak ada rasa kepemilikan (ownership) terhadap tulisan tersebut.
  • Penurunan Aktivitas Otak [05:52]: Sensor otak menunjukkan kelompok pengguna ChatGPT memiliki aktivitas otak terendah karena proses analisis didelegasikan ke mesin. Terjadi penurunan keterlibatan kognitif hingga lebih dari 50%.
  • Konsep Cognitive Debt [06:35]: Kita mendapatkan banyak konten secara instan, namun kita “berutang” pada pikiran kita sendiri karena adanya penurunan kemampuan mengingat dan menganalisis yang sulit dibayar di masa depan.

Mengapa Tulisan AI Terasa Hambar?

  • Bias Positif (Positive Bias) [08:28]: AI cenderung menghindari premis yang radikal, kontroversial, sensitif, atau multitafsir. AI bertindak seperti “anak pramuka yang baik” yang selalu menyarankan hal-hal aman, normatif, dan berbasis etika, sehingga tidak ada loncatan pemikiran yang berani.
  • Struktur yang Terlalu Rapi tapi Dangkal [09:26]: Tulisan yang dihasilkan AI sangat teratur dan terstruktur secara tata bahasa, namun tidak memiliki kedalaman analisis dan miskin keragaman perspektif [10:00].
  • Ketidakmampuan Mengkap Hal Lokal & Arkais [11:51]: AI mengambil data dari hal-hal yang paling populer di internet (high exposure & SEO tinggi). AI tidak akan bisa meniru detail lokalitas yang mendalam seperti tulisan Clifford Geertz tentang hantu Jawa, atau diksi personal sastrawan seperti Eka Kurniawan [10:55].
  • Model Collapse [13:19]: Ketika internet mulai dibanjiri oleh konten buatan AI, model AI baru akan melakukan crawling (pemindaian) terhadap konten AI sebelumnya. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas secara melingkar karena mesin melatih mesin.
  • The Great Flattening [16:42]: Terjadinya homogenisasi massal di mana semua tulisan menjadi datar, tanpa ada dinamika logika, dialektika, kegelisahan, atau rasa penasaran.

Solusi: Cara Bijak Menggunakan AI

Janoe menegaskan bahwa dirinya dan GNFI tidak anti terhadap AI [00:42], melainkan menyoroti bagaimana cara kita menggunakannya.

  • Gunakan AI di Tahap Akhir (After) [18:46]: Studi MIT menemukan bahwa peserta yang pertama kali belajar dan membangun logika sendiri tanpa AI, lalu menggunakan AI di akhir sesi, justru mengalami lonjakan aktivitas otak yang sangat kuat.
  • Menjadikan AI Teman Diskusi [19:27]: Otak manusia akan bekerja lebih aktif ketika kita sudah memiliki sudut pandang (angle) sendiri, lalu menggunakan AI untuk menabrakkan atau menguji logika tersebut.
  • Menjaga Kedewasaan Berpikir [20:00]: Kita harus berhenti bertanya bagaimana mencegah AI membuat kita bodoh, melainkan mulai bertanya bagaimana memastikan AI membuat kita lebih bijaksana (wisdom). Pengguna harus tetap mengkritisi diksi, logika, mencari sumber minoritas, dan memasukkan karakter serta kepribadian asli manusia ke dalam narasi.

[hak cipta atas kekayaan intelektual ada di masing-masing pemilik konten]

AI: friend or foe?

AI (Artificial Intelligent) itu adalah tool yang dibuat oleh manusia dengan tujuan mempercepat pekerjaan manusia. Jadi sebagai tool selayaknya menjadikan manusia sebagai aktor utama atas pekerjaan yang dilakukan oleh AI tersebut.

Sekarang ini, dengan perkembangan teknologi komputasi yang sangat cepat dan mumpuni membuat AI berkembang sangat cepat dan eksponensial dengan kemampuan yang jika dibandingkan dengan kemampuan manusai seperti bisa mengalahkan penciptanya. Para pakar memprediksi dengan perkembangan model AI dengan teknologi komputasi seperti sekarang ini, tidak mustahil dalam 2027-2030 (prediksi Sam Altman dan Elon Musk) dapat mengalahkan kemampuan manusia. Bahkan ada profesor yaitu Yoshua Bengio (sebagai God Father of AI) dan Max Tegmark (dari MIT) mengusulkan “Pause Giant Experiement

Dari sejarah ciptaan manusia itu selayaknya untuk membuat kesejahteraan manusia, akan tetapi namanya manusia ada saja yang bisa menggunakan cipataan manusia lain untuk sesuatu yang negatif (seperti pencipta dinamit yang merasa bersalah digunakan untuk berperang). Demikian juga AI, namanya ciptaan manuasia bisa jadi disalahgunakan oleh para oknum untuk mencapai tujuannya dengan konotasi negatif.

Jadi AI itu bisa menjadi kawan dan juga lawan tergantung pada siapa yang menggunakan serta niat yang menggunakannya. Percayalah, manusia tetap lebih tinggi kemampuannya dibandingkan alat ciptaannya.

Koperasi yang berwarna itu

Gerakan kerakyatan melalui koperasi

Sekarang ini sedang marak bahwa pemerintah menggalakkan koperasi sampai di level Desa supaya bisa menggerakkan ekonomi. Saya belum membaca visi dan misi gerakan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah, hanya mendengar dari podcast youtube, dari berita yang ada di media online.

Sepanjang pengetahuan saya, koperasi itu gerakan pemberdayaan yang muncul dari kelompok yang ingin sama-sama bertumbuh dan berdaya untuk menuju kesejahteraan bersama. Kesadaran ini muncul sebagai gerakan untuk saling menjaga dan bekerja sama untuk bertumbuh. Dengan adanya bantuan dari pihak luar tentunya akan membuat gerakan ini semakin kuat dan cepat memberikan hasil untuk anggotanya. Inti dari gerakan koperasi adalah kesadaran anggota untuk tumbuh bersama. Gerakan yang tumbuh dari bawah.

Menilik gerakan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah sekarang ini cukup masif sampai level desa untuk membuat koperasi dengan segala kebutuhannya disiapkan oleh negara. Semua infrastruktur disiapkan termasuk anggaran untuk merealisasikan itu. Target dibentuk ribuan koperasi dengan waktu yang cukup singkat. Pertanyaannya, nanti anggotanya siapa? Bagaimana ini bertumbuh? Bagaimana ini semua dijaga (baca: aset, dll)? Kalau pendekatan dari atas kemudian turun ke bawah, bagaimana gerakan ini akan sesuai dengan kebutuhan anggota? Kembali ke semangat utama dari gerakan kerakyatan ini.

Dahulu sudah ada Koperasi Unit Desa (KUD) sampai level bawah, kenapa itu tidak berkembang? Hanya beberapa yang bisa tumbuh dan ada sampai sekarang, mengapa? Apakah adalah catatan/laporan atau apapun terkait ini? Dulu juga dicanangkan di level negara juga. Program pemerintah, yang masif juga. Kenapa sekarang seolah diulang kembali? Hal seperti ini yang membuat orang bertanya, apakah gerakan ini untuk rakyat atau untuk menyenangkan penggagas program, yang penting ada.

Kembali ke gerakan koperasi, secara tujuan sangat bagus sekali untuk menumbuhkan perekonomian rakyat. Tetapi jangan dilupakan caranya, jangan hanya mencari kuantitas tanpa melihat kualitas. Kalau kita lihat di daerah pasti banyak gerakan koperasi yang sudah berjalan dengan mandiri menurut kekuatan kelompok tersebut masing-masing. Contoh di Kalimantan Barat sudah ada jaringan koperasi yang sangat kuat bahkan jaringan tersebut terhubung dengan koperasi-koperasi yang ada di Pulau Jawa. Mengapa gerakan ini tidak difasilitasi dengan anggaran itu sehingga menjadi pengungkit gerakan yang sudah ada dan jelas memberikan manfaat kepada warga negara. Saya tidak tahu persis data yang ada, tentunya di setiap daerah ada koperasi (dalam bentuk apapun Credit Union atau BMT atau yg lain), yang sudah cukup berjalan dan memberikan kesejahteraan anggotanya. Itulah yang difasilitasi dengan dana-dana itu sehingga lebih mengungkit pertumbuhan dan memberikan manfaat lebih banyak lagi.

Kembali ke semangat koperasi berserikat dan berkumpul bersama menuju sejahtera dengan gerakan yang riil dan sesuai dengan kebutuhan anggota yang tersebut. Gerakan grown up yang tumbuh dari bawah, jelas akan dijaga dan dikembangkan. Tapi entahlah bagaimana para pemikir di pemerintahan bisa melakukan gerakan yang masif dan terlihat tidak jelas hasilnya. Semua jadi bertanya-tanya. Atau jangan-jangan yang melakukan ide ini tidak tahu esensi dari gerakan koperasi? Atau yang beride dan mengkonsep program ini belum pernah berkoperasi?