Start-up itu bisnis

Selama beberapa minggu terakhir ini banyak yang membahas yang terjadi di dunia startup. Ada yang membahas lay-off, kesusahan mendapatkan pendanaan dan banyak hal lain. Start-up ini memang perusahaan, sehingga aktivitasnya juga pasti sama dengan perusahaan yang lain, hanya bedanya kalau kita menyebut start-up adalah perusahaan berbasis teknologi dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.

Start-up dibentuk pada awalnya mencoba menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi oleh orang pada umumnya dengan menggunakan teknologi. Dengan bantuan teknologi, kita dapat membuat solusi dengan efektif dan juga tepat guna. Harapan ini tentunya dilanjutkan dengan potensi bisnis yang akan dihasilkan dari kegiatan bisnis tersebut.

Sering dilupakan walaupun bisnis start-up memiliki pendekatan yang berbeda dengan bisnis konvensional tetapi pada akhirnya sebagai sebuah entity bisnis tentunya akan diminta untuk menghasilkan bisnis value. Karena hal inilah kaidah bisnis tetap harus berlaku. Untuk itu jangan lupa bahwa start-up ini adalah kegiatan bisnis yang diharapkan memberikan nilai bisnis yang lebih cepat dengan bantuan teknologi.

Adaptif

“Berubah atau ditinggalkan”

Dijaman yang serba cepat ini, kemampuan beradaptasi sangat diperulakan untuk teteap relevan. Belajarlah dari lagi campursari, dimana dia bisa beradaptasi dengan jenis musik apa saja. Dari namanya saja sudah membuka peluang untuk terbuka dengan semua jenis musik. Jadi supaya tetap relevan maka terbukalah terhadap sesuatu yang baru yang dapat memberikan nilai tambah. Hidup musik campursari.

Hasil Akhir

“Proses tidak menghianati hasil”

Banyak orang hanya melihat hasilnya tidak mau tahu prosesnya. Bahwa suatu karya minimal dari proses 10,000 jam berproses (doing mastery), ini adalah hasi penelitian. Tapi poinnya adalah semua hasil ada prosesnya entah apapun itu.

Berhasil menjual NFT milyaran rupiah atau punya aset kripto milyaran juga semua ada prosesnya. Ada proses belajar dan juga konsistensi dibelakangnya. Memang ada faktor luck juga katanya tetapi karena itu adalah faktor pengungkit diluar kuasa kita, maka fokuslah pada proses yg bisa kita kontrol.

Kalau dikaitkan dgn fungsi matematika, misal kesusksesan adalah fungsi f (x) dgn x adalah effort maka, pastikan kita sudah berusaha semaksimal mungkin sehingga 

f(x)= nx 

dgn n adalah koefissien usaha atau proses belajar. 

Kita lakukan secara konsisten karena kita percaya bahwa akan ada pengungkit hasil (kesempatan) yg menambahkan hasil di proses kita, kita sebut saja x pangkat n, sehingga kita percaya bahwa

f(x) = nx+ x^n

Dari sini kalau kita yakin yg kita lakukan termasuk akan datang waktunya atau kesempatan akan ada karena di universe fungsi kita ada hal tsb.

Karena kesempatan itu kita tidak bisa kontrol, kita percaya bahwa itu akan datang karena proses tidak akan menghianati hasil.

Menulis (lagi)

“Semua bisa menulis”

Karena ikutan sesi zoom Kelas Menulis Kreatif (KMK) bareng Ernest jadi ingin menulis lagi paling tidak di blog sendiri. Semua orang bisa menulis tapi kenapa gak semua mau ya. Tentu banyak alasan untuk itu. Termasuk saya, alan mudah membuat list kenapa gak mau konsisten menulis di blog atau media apapun. Untuk dapat list item sebanyak 100 alasan malas menulis akan cepat sekali. Karena hal negatif akan gampang didapat, termasuk tidak perlu mempelajari hal tersebut.

Coba kita tuliskan kenapa kita harus menulis secara konsisten?

1. Supaya melatih kreatifitas

2. Untuk mengekspresikan apa yg dipikirkan

3. Latihan story telling

4. Latihan membuat buku (banyak orang2 yg membuat buku dari tulisan di blog)

5. Supaya….

<lain kali kita update lagi>

Beneran susah ya… Inilah kenapa hal positif itu harus diusahakan karena hal negatif itu paling gampang didapat.

Kalau kita berada di lingkungan positif yg mendukung akan mendapatkan resonansi semangat tersebut. Ini yang harus kita usahakan untuk balancing negatif vibe tadi karena hidup manusia itu kompleks. Ada negatif dan positif yang harus lebih banyak positifnya supaya menghasilkan sesuatu sesuai harapan kita.  Misalkan mengarang buku kayak JK Rowling, Dan Brown, Michael Crichton, Andrea Hirata, Pramudya Ananta Toer atau pengarang2 besar yg lain karena kata pepatah “gantungkan cita-cita setinggi langit”

Berlatih Adaptasi

Challenge the status quo!

Katanya status quo itu enak, jadi ngapain berubah?

Dunia sudah berubah. Sekarang ini suka atau tidak suka, perubahan terjadi setiap hari. Detik demi detik waktu berubah bukan? Jadi perbubahan itu suatu keniscayaan, tidak bisa dihindari. Tapi perubahan yang kecil tidak akan terasa (seperti waktu). Perubahan akan terasa kalau besar event-nya. Seperti pindah kerja, pindah rumah, berubah status atau apa saja yang besar atau berpengaruh besar bagi hidup masing-masing orang. Setelah perubahan pastinya orang akan berusaha menjadi normal (seperti biasa atau Business As Usual). Laksana air di bejana yang digoncang-goncang; awalnya akan beriak-riak hingga mungkin luber (atau tumpah). Tapi lama-lama akan tenang atau diam. Karena energi goncangannya habis atau teredam. Kalau sudah diam kemudian lama-lama menjadi status quo.

Memulai lagi. Cycle perubahan akan dimulai dari diri sendiri untuk memulainya tapi terkadang karena keadaan (baca: perubahan strategi bisni). Dengan perubahan besar orang akan kembali berlatih untuk beradaptasi. Jadi mari kita berlatih beradaptasi sendiri dengan cycle-nya masing-masing. Bisa 10 tahun sekali dengan renovasi rumah atau pindah rumah (baru), pindah kerja tiap 2/3 tahun sekali, atau apa saja yang dianggap sebagai perubahan signifikan.

Koperasi Digital

Zaman digital dengan merebaknya telepon selular telah banyak merubah bisnis termasuk koperasi. Kalau berbicara bank/institusi finansial, sudah banyak yang membuat layanan digital memudahkan orang bergabung. Hal tersebut karena tuntutan zaman. Semua layanan digital dengan mudah dimulai, daftar menggunakan nomor handphone/alamat e-mail dan handphone itu sendiri, beres dan jadi. Bisa langsung digunakan.

Koperasi going to digital. Ada beberapa layanan koperasi yang ikut menjadi digital dengan “menjual” tabungan. Jadi dengan mudah menabung dengan membuka layanan melalui handphone. Orang bisa mempunyai e-wallet, tabungan, bayar tagihan, transfer dan lain lain. Seperti halnya digital bank tapi ini koperasi digital. Kemudian bisa ditawarkan pinjaman karena produk koperasi kan simpan dan pinjam.

Rapat Anggota. Kalau menjadi anggota koperasi melalui digital kemudian rapat anggotnya gimana ya? Atau ternyata menjadi anggota luar biasa sehingga tidak memiliki suara di Rapat Anggota. Atau nanti voting lewat aplikasi online. Nanti dicari tahu lebih jauh.

 

Tontonanku: YouTube

“Pah, aku nonton YouTube ya”

itu adalah password untuk nonton YouTube di rumah saya. Jadi anak-anak harus self declare kalau mereka akan menonton YouTube dan orang tuanya akan mengontrol secara random yang ditonton.

Kids Zaman Now lebih suka nonton YouTube dibanding TV. Kenapa ya?

Anak-anak senang sekali nonton TV sebelum mengenal YouTube. Mereka akan beralih ke YouTube (setelah tahu apa itu YouTube) karena mereka sendiri yang kontrol materi yang akan ditonton. Kalau lagi senang nonton “My Little Poni” terus-terusan nonton similar content (seri yang lain) sampai bosan.

Tantangan untuk orang tua adalah materi yang ditonton itu tidak disensor dan bisa disusupi apa aja. Jalan terbaik adalah memberikan pengertian kepada anak dan menanamkan trust. Meminta mereka untuk bercerita content apa saja yang ditonton utk check and recheck.