“Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Buatan (AI)”
[ini adalah catatan pribadi saya, tentu dibantu AI]
Teknologi dan AI adalah karunia dari kreativitas manusia yang patut disyukuri. Namun, dinamika digital saat ini sebagian besar digerakkan oleh aktor komersial swasta yang minim akuntabilitas publik.
Gereja mengingatkan bahwa arah perkembangan AI tidak boleh hanya berorientasi pada profit, efisiensi optimal, dan pengumpulan modal finansial sepihak.
Ensiklik ini mengkritik keras ideologi transhumanisme dan posthumanisme yang memandang manusia layaknya mesin yang harus selalu di-upgrade tanpa batas.
• Dampak Buruk: Munculnya diskriminasi gaya baru, penguncilan sosial bagi yang “tidak produktif”, serta hilangnya keunikan eksistensi manusia.
• Martabat Ontologis: Nilai manusia bersifat mutlak sejak penciptaan, bukan dinilai dari performa atau angka komputasi.
Otomatisasi tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan PHK massal secara semena-mena demi memangkas biaya operasional.
Prinsip Utama Pekerjaan:
“Kerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sarana manusia mengaktualisasikan diri dan menjaga harga dirinya. AI harus menjadi mitra pembantu pekerja, bukan penggantinya.”
MASA DEPAN: PERADABAN KASIH
Paus Leo XIV menyerukan tata kelola AI global yang transparan, mengedepankan prinsip subsidiaritas (keterlibatan semua pihak) dan solidaritas demi kebaikan bersama (common good).
Fenomena AI. Perkembangan AI sekarang ini cukup dahsyat, hampir semua lini sudah menggunakannya dari membuat tulisan, membuat tugas, layanan pelanggan, pengembang aplikasi, kendaraan self-driving sampai robot-robot hi-tech. Dengan adanya kemajuan dan kemampuan Generative AI (GenAI), seolah membuat kegiatan kreatif menjadi lebih cepat dan cukup variatif (terlihatnya).
Proses Kreatif menjadi cepat. Dengan GenAI, kita dapat melakukan hal yang cukup kreatif salah satunya dalam hal musik. Dalam hal ini kita melihat aransemen musik, bagaimana GenAI bisa membuat proses aransemen musik sangat cepat dan variatif. Kemampuan GenAI menggabungkan contoh aransemen musik ke suatu lagu yang ada, hasilnya cukup membuat orang sangat yakin bawah ini menjadi lebih bagus (awalnya). Terdengar sesuatu yang fresh/baru dari sebuah lagu yang kita kenal dengan memberikan banyak sentuhan aransemen baru dengan bantuan AI. Kemampuan vokal yang cukup bagus membuat musik buatan AI ini terasa sangat kreatif. Sangat betul bahwa proses kreatif itu menjadi sangat cepat dan singkat dari segi waktu.
YouTube adalah “tembok grafiti”. YouTube sekarang ini menjadi tempat orang melihat video dari macam-macam jenis dari podcast, lagu, live music dan macam-macam kegiatan ada di sini. Jadi ibarat YouTube adalah “tembok grafiti”, dimana semua orang menuangkan proses kreatifnya dan mem-publish untuk dinikmati banyak orang. Inilah yang dimanfaatkan para penggiat musik AI, mereka banyak melakukan aransemen lagu-lagu yang sudah dikenal dengan sentuhan baru dengan GenAI, sangat bagus dari sisi vokal dan aransemen yang cukup kreatif. Hal yang baru menjadi terealisasi dan dapat dinikmati orang lain melalui “tembok grafiti”. Ada hal yang cukup aneh musik AI ini, yaitu terlalu flat/kurang emosi dan seragam/monoton. Terlalu sempurna untuk suatu karya dengan vokal manusia.
Tidak sempurna, itulah “seninya”. Musik dengan vokal manusia akan memiliki karakter sendiri-sendiri tergantung jenis suara, artikulasi dan logat. Kemudian dari segi teknik vokal tidak seragam (tergantung skill masing-masing), serta ada naik turunnya. Inilah yang menjadi ciri khas dari semua lagu dan penyanyi. Begitulah musik yang diciptakan dan dilagukan oleh manusia. Ada rasa berbeda satu dengan yang lain, kadang tidak bisa dituliskan/dijelaskan tetapi bisa dirasakan oleh pendengarnya. Hal ini tidak ditemukan di musik AI, terlalu sempurna dan bagus sehingga akhirnya terasa monton, flat tidak ada perasaan/power. Sesuatu yang bagus itu karena variatif, tetapi musik AI itu ada polanya dan terlalu sempurna dari vokal dan terkadang artikulasi yang terlalu text book. Roh kreatif di musik menjadi hilang, ini yang terjadi sekarang dengan GenAI yang ada sekarang. Entahlah kalau nanti rasa itu bisa diciptakan oleh GenAI.
Manusia tetap hasil ciptaan yang “sempurna”. Jadi kembali ke hakikat manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna termasuk karya ciptaannya menjadi sangat sempurna dengan segala kekurangannya dan dinamikanya. Manusia tetap diatas ciptaannya sendiri.
“ini adalah video dari Janoe Arijanto” dan “AI membantu membuat catatan dengan menonton video untuk kita”
Perkembangan Artificial Intelligent (AI) sangat membantu apa yang bisa kita lakukan. Salah satu contohnya adalah membuatkan catatan dari Video di YouTube untuk kita.
Caranya:
Buka gemini.google.com
Kemudian paste URL alamat video yang akan ditonton. tekan enter atau return.
Berikut ini adalah contoh catatan dari video: “Eps. 175 GoodTalk Tulisan AI Terasa Hambar? Janoe Arijanto Ungkap Pentingnya ‘Purpose’ dalam Narasi” di kanal Good News From Indonesia.
Dalam video berjudul “Eps. 175 GoodTalk Tulisan AI Terasa Hambar? Janoe Arijanto Ungkap Pentingnya ‘Purpose’ dalam Narasi” di kanal Good News From Indonesia, Janoe Arijanto menyoroti dampak mendalam penggunaan Generative AI terhadap otentisitas, cara berpikir, dan kualitas narasi manusia.
Berikut adalah poin-poin penting dan rangkuman gagasan yang disampaikan dalam video tersebut:
Fenomena dan “Krisis Otentisitas”
Keseragaman Jawaban Mahasiswa [02:00]: Janoe menceritakan eksperimen pribadinya saat mengajar 125 mahasiswa. Ia memberikan tugas UTS analitik tingkat lanjut yang belum pernah diajarkan. Hasilnya, semua bisa menjawab, tetapi lebih dari 80% jawabannya seragam (kembar). Di titik inilah otentisitas dan jati diri mulai hilang.
Hilangnya Karakter Media [03:15]: Sebuah media atau penulis akan mudah lenyap jika kehilangan karakter khasnya. Ia mencontohkan bagaimana Tempo sangat dipengaruhi gaya Gunawan Mohamad, Kompas dengan analitiknya, atau The Conversation yang bergaya setengah jurnal.
Bahaya “Utang Kognitif” (Cognitive Debt)
Riset MIT tentang Daya Ingat [04:40]: Penelitian dari MIT menunjukkan bahwa lebih dari 83% mahasiswa kesulitan mengingat kalimat atau pemikiran yang mereka tulis sendiri untuk sebuah tugas ketika menggunakan AI. Tidak ada rasa kepemilikan (ownership) terhadap tulisan tersebut.
Penurunan Aktivitas Otak [05:52]: Sensor otak menunjukkan kelompok pengguna ChatGPT memiliki aktivitas otak terendah karena proses analisis didelegasikan ke mesin. Terjadi penurunan keterlibatan kognitif hingga lebih dari 50%.
Konsep Cognitive Debt [06:35]: Kita mendapatkan banyak konten secara instan, namun kita “berutang” pada pikiran kita sendiri karena adanya penurunan kemampuan mengingat dan menganalisis yang sulit dibayar di masa depan.
Mengapa Tulisan AI Terasa Hambar?
Bias Positif (Positive Bias) [08:28]: AI cenderung menghindari premis yang radikal, kontroversial, sensitif, atau multitafsir. AI bertindak seperti “anak pramuka yang baik” yang selalu menyarankan hal-hal aman, normatif, dan berbasis etika, sehingga tidak ada loncatan pemikiran yang berani.
Struktur yang Terlalu Rapi tapi Dangkal [09:26]: Tulisan yang dihasilkan AI sangat teratur dan terstruktur secara tata bahasa, namun tidak memiliki kedalaman analisis dan miskin keragaman perspektif [10:00].
Ketidakmampuan Mengkap Hal Lokal & Arkais [11:51]: AI mengambil data dari hal-hal yang paling populer di internet (high exposure & SEO tinggi). AI tidak akan bisa meniru detail lokalitas yang mendalam seperti tulisan Clifford Geertz tentang hantu Jawa, atau diksi personal sastrawan seperti Eka Kurniawan [10:55].
Model Collapse [13:19]: Ketika internet mulai dibanjiri oleh konten buatan AI, model AI baru akan melakukan crawling (pemindaian) terhadap konten AI sebelumnya. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas secara melingkar karena mesin melatih mesin.
The Great Flattening [16:42]: Terjadinya homogenisasi massal di mana semua tulisan menjadi datar, tanpa ada dinamika logika, dialektika, kegelisahan, atau rasa penasaran.
Solusi: Cara Bijak Menggunakan AI
Janoe menegaskan bahwa dirinya dan GNFI tidak anti terhadap AI [00:42], melainkan menyoroti bagaimana cara kita menggunakannya.
Gunakan AI di Tahap Akhir (After) [18:46]: Studi MIT menemukan bahwa peserta yang pertama kali belajar dan membangun logika sendiri tanpa AI, lalu menggunakan AI di akhir sesi, justru mengalami lonjakan aktivitas otak yang sangat kuat.
Menjadikan AI Teman Diskusi [19:27]: Otak manusia akan bekerja lebih aktif ketika kita sudah memiliki sudut pandang (angle) sendiri, lalu menggunakan AI untuk menabrakkan atau menguji logika tersebut.
Menjaga Kedewasaan Berpikir [20:00]: Kita harus berhenti bertanya bagaimana mencegah AI membuat kita bodoh, melainkan mulai bertanya bagaimana memastikan AI membuat kita lebih bijaksana (wisdom). Pengguna harus tetap mengkritisi diksi, logika, mencari sumber minoritas, dan memasukkan karakter serta kepribadian asli manusia ke dalam narasi.
[hak cipta atas kekayaan intelektual ada di masing-masing pemilik konten]
Sekarang ini sedang marak bahwa pemerintah menggalakkan koperasi sampai di level Desa supaya bisa menggerakkan ekonomi. Saya belum membaca visi dan misi gerakan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah, hanya mendengar dari podcast youtube, dari berita yang ada di media online.
Sepanjang pengetahuan saya, koperasi itu gerakan pemberdayaan yang muncul dari kelompok yang ingin sama-sama bertumbuh dan berdaya untuk menuju kesejahteraan bersama. Kesadaran ini muncul sebagai gerakan untuk saling menjaga dan bekerja sama untuk bertumbuh. Dengan adanya bantuan dari pihak luar tentunya akan membuat gerakan ini semakin kuat dan cepat memberikan hasil untuk anggotanya. Inti dari gerakan koperasi adalah kesadaran anggota untuk tumbuh bersama. Gerakan yang tumbuh dari bawah.
Menilik gerakan koperasi yang dilakukan oleh pemerintah sekarang ini cukup masif sampai level desa untuk membuat koperasi dengan segala kebutuhannya disiapkan oleh negara. Semua infrastruktur disiapkan termasuk anggaran untuk merealisasikan itu. Target dibentuk ribuan koperasi dengan waktu yang cukup singkat. Pertanyaannya, nanti anggotanya siapa? Bagaimana ini bertumbuh? Bagaimana ini semua dijaga (baca: aset, dll)? Kalau pendekatan dari atas kemudian turun ke bawah, bagaimana gerakan ini akan sesuai dengan kebutuhan anggota? Kembali ke semangat utama dari gerakan kerakyatan ini.
Dahulu sudah ada Koperasi Unit Desa (KUD) sampai level bawah, kenapa itu tidak berkembang? Hanya beberapa yang bisa tumbuh dan ada sampai sekarang, mengapa? Apakah adalah catatan/laporan atau apapun terkait ini? Dulu juga dicanangkan di level negara juga. Program pemerintah, yang masif juga. Kenapa sekarang seolah diulang kembali? Hal seperti ini yang membuat orang bertanya, apakah gerakan ini untuk rakyat atau untuk menyenangkan penggagas program, yang penting ada.
Kembali ke gerakan koperasi, secara tujuan sangat bagus sekali untuk menumbuhkan perekonomian rakyat. Tetapi jangan dilupakan caranya, jangan hanya mencari kuantitas tanpa melihat kualitas. Kalau kita lihat di daerah pasti banyak gerakan koperasi yang sudah berjalan dengan mandiri menurut kekuatan kelompok tersebut masing-masing. Contoh di Kalimantan Barat sudah ada jaringan koperasi yang sangat kuat bahkan jaringan tersebut terhubung dengan koperasi-koperasi yang ada di Pulau Jawa. Mengapa gerakan ini tidak difasilitasi dengan anggaran itu sehingga menjadi pengungkit gerakan yang sudah ada dan jelas memberikan manfaat kepada warga negara. Saya tidak tahu persis data yang ada, tentunya di setiap daerah ada koperasi (dalam bentuk apapun Credit Union atau BMT atau yg lain), yang sudah cukup berjalan dan memberikan kesejahteraan anggotanya. Itulah yang difasilitasi dengan dana-dana itu sehingga lebih mengungkit pertumbuhan dan memberikan manfaat lebih banyak lagi.
Kembali ke semangat koperasi berserikat dan berkumpul bersama menuju sejahtera dengan gerakan yang riil dan sesuai dengan kebutuhan anggota yang tersebut. Gerakan grown up yang tumbuh dari bawah, jelas akan dijaga dan dikembangkan. Tapi entahlah bagaimana para pemikir di pemerintahan bisa melakukan gerakan yang masif dan terlihat tidak jelas hasilnya. Semua jadi bertanya-tanya. Atau jangan-jangan yang melakukan ide ini tidak tahu esensi dari gerakan koperasi? Atau yang beride dan mengkonsep program ini belum pernah berkoperasi?
“Energi positif itu menular dan saling beresonansi menuju kemenangan”
Sebuah catatan dari kegiatan pentas akhir tahun House of Jagoan 2025
House of the Year 2025 (HoS x HoBB) [foto: panitia HoJ]
House of Jagoan. Kami yang bekerja di PT Bank Jago Tbk (saya sebut Jago Universe) disebut sebagai Jagoan. Setiap tahun kami memiliki acara kebersamaan/ kolaborasi dan kompetisi antar unit/direktorat/clan dan juga saudara kami di DKatalis (partner teknologi kami) yang disebut sebagai House of Jagoan (HoJ). Ini adalah tahun ke-empat kami melakukan ini, ada 8 kelompok (yang disebut house) dengan nama diturunkan dari nilai-nilai/value Jago yaitu House of Life- Centricity, House of Fearless Creativity, House of Empowered Agility, House of Purposeful Growth, Hose of Innovation, House of Collaboration, House of Breaking Boundaries dan House of Simplicity. Di dua tahun pertama kompetisi dilakukan antar house sendiri-sendiri, sedangkan mulai tahun ketiga dilakukan antar kolaborasi 2 house. Sepanjang tahun para house akan berkompetisi untuk mengumpulkan poin dan akan memperebutkan trofi House of the Year sebagai pemenang/urutan peratam. Kompetisi yang dilakukan untuk tahun ini adalah:
Jago Olympic: kompetisi olah raga yaitu Pingpong, Badminton dan Futsal. Selain itu juga ada kompetisi yel-yel antar house yang berkolaborasi.
Jago Fun Run: kompetisi mengumpulkan milage (KM) dari setiap anggota house yang melakukan kegiatan lari juga ada acara fun run 5KM or 10 KM secara bersama.
Jago Fundtastic: kompetisi finansial literasi dengan memberikan kesempatan kepada anggota house untuk mengenalkan Solusi Jago untuk perencanaan keuangan.
Year End Performance: kompetisi penampilan/performance dari kolaborasi house.
Tema untuk tahun ini adalah Bond to Beyond yang merupakan ajakan untuk berkolaborasi menuju Jago 2.0 (Visi Jago yang baru sebagai lanjutan dari Jago 1.0). Pembagian tim yang berkolaborasi adalah membagi 4 house teraktif dipasangkan dengan 4 house yang belum maksimal keaktifannya, sehingga diharapkan ada sinergi antar house untuk saling mengisi dan menggapai kemenangan bersama. Kami di House of Simplicity (HoS) berkolaborasi dengan House of Breaking Boundaries (HoBB) sepanjang tahun 2025.
HoS adalah house yang cukup aktif dan diperhitungkan dengan capaian tertinggi urutan ke-2 pada tahun kedua HoJ. Sedangkan HoBB tahun lalu berkolaborasi dengan House lain yg menjadi urutan 1 (House of the Year), tetapi karena posisi yang selalu di bottom 4 jadi merasa belum berhasil mencapai kemenangan hanya merasa sebagai pengantar untuk House yang menang.
Persaingan yang ketat. Dari beberapa 3 kompetisi yang telah dilakukan sepanjang tahun, selisih poin antara posisi 1-4 sangat tipis dan dari perhitungan, siapa yang memenangkan Year End Peformance akan menjadi House of the Year 2025. Dengan mengusung tema yang sama Bond to Beyond, para house diminta untuk menampilkan performance terbaiknya dengan konsep paling kreatif dengan mengajak sebanyak mungkin anggota house bahkan house sponsor. Masing-masing penampilan tidak boleh melebihi 7 menit dan jika melewati akan dikenakan pinalti pemotongan poin. Selain itu juga, peserta di atas panggung dibatasi maksimal 10 orang pada saat penampilan berapapun total jumlah peserta yang ikut menjadi penampil.
Creative ideas, good talents and winning spirit. Dengan mengusung tema musikal dan tari, kemudian menampilkan konsep yang kuat memvisualkan bagaimana Jagoan itu bertumbuh dari lahir sampai menjadi seorang Jagoan yang berkolaborasi untuk menggapai masa depan Jago Universe, menjadi kristalisasi dari tema bond to beyond. Jumlah penampil yang spekatkuler 30 orang termasuk 3 vokalis bertalenta, digarap sangat apik oleh Director kita Vanda, dengan pelatih profesional untuk acting, seasoned team utk konsep kostum sampai tim multi media sekelas film holywood, menjadikan semangat tim makin menggebu untuk menjadi House of Jagoan.
Berlatih, berlatih dan berlatih. Tiada kata lelah untuk target juara, kami berlatih disela-sela jam kerja (break makan siang atau after office). Berlatih dengan tekun kemudian refinement setiap kali berlatih dengan melakukan review video setelah latihan, menjadikan acting para pemain menjadi makin moncer. Semua menjadi hafal diluar kepala dan memastikan bagaimana ritme lagu dan acting gerak bisa selaras. Inilah hebatnya para talents, yang akhirnya bisa menyelaraskan dan juga memastikan segmen-segmen menjadi sangat hidup dan mengalir. Rasa ingin menampilkan yang terbaik, menjadikan ini kesempatan meraih juara, itulah yang menjadikan aura kemenangan bahkan dirasakan sebelum kami tampil. Kami yakin kami menang, hanya dengan melakukan yang terbaik sepanjang penampilan di panggung.
Bumi Terindah dan Greet Tomorrow. Kedua lagu dari Alffy Rev yang digabungkan untuk memvisualkan perjalanan hidup Jagoan dari lahir sampai menjadi real Jagoan yang bersama menuju Jago 2.0 berhasil membawa kami menjadi House of Jagoan 2025. Konsep yang kuat, para talent yang berbakat serta semangat menjadi juara telah bersatu dan menjadikan event year end performance ini menjadi tidak terlupakan bagi kami. Proses 15 hari berlatih ini menjadikan kami belajar bahwa semangat menjadi terbaik itu beresonansi seperti kutipan dari note terimakasih dari pelatih kami “Verba volant exempla trahunt” (kata-kata itu cepat berlalu, tetapi keteladanan abadi). Inilah teladan yang kami alami bersama menjadi buah manis dan penuh kenangan bagi kami para anggota house dan membawa kami menjadi “House of the Year 2025”. Selamat untuk semuanya dan terima kasih atas keteladanannya.
Melihat perkembangan dunia sepak bola di Asia sekarang ini terutama Asia Tenggara sedang heboh dengan sanksi FIFA kepada FAM (Federasi Sepakbola Malaysia) yang ditemukan memalsukan dokumen asal usul dari pemain yang dinaturalisasi.
Berbagai komentar dari pecinta sepak bola di seluruh dunia berseliweran di media sosial. Bahkan dari negara yang dikenakan sanksi pun juga turut “menuduh” ada pihak lain yang melakukan ini. Menurut mereka, sebelumnya sudah tidak masalah (pemain naturalisasi ini), kenapa kemudian menjadi masalah.
Dari tujuh pemain yang dinaturalisasi ini, semuanya dikenakan sanksi juga dengan denda dan larangan bermain selama 12 bulan. Tentunya ini adalah bencana besar bagi dunia sepak bola sebagai bagian dari olah raga yang seharusnya menjunjung sportivitas tetapi melakukan pemalsuan dokumen.
Sebagai seorang yang beragama tentu akan percaya kepada Tuhan yang dinyatakan dalam syahadat. Termasuk agama saya di mana memiliki dua versi syahadat yaitu Syahadat yang singkat dan Syahadat versi panjang.
Di dalam versi panjang, atau yang disebut Nicea-Konstantinopel, bagian awal disebutkan bahwa kita percaya akan satu Allah, Bapa yang maha kuasa pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan (Kol 1:16).
Jadi jelas di situ ada sesuatu yang tidak kelihatan yang tentunya mereka juga memiliki dunia sendiri. Mungkin di agama atau kepercayaan yang lain juga memiliki sesuatu yang tidak terlihat atau mungkin yang disebut gaib atau apa saja sebutan yang dipadankan.
Beberapa orang menyebutnya spirit atau roh, pada dasarnya kita hidup berdampingan dengan mereka dan mungkinkah interaksi dua dunia ini bisa dilakukan? Apakah dalam dunia tak terlihat itu seperti dunia kita pada umumnya atau karena sifat dasar manusia akan menilai sesuatu dari apa yang diketahuinya maka bisa jadi proyeksi kita terhadap dunia tak terlihat itu berdasarkan dunia kita, jadi sering orang mempersamakan kondisi di sana.
Bagaimana menurut Anda atau ada yang punya pengalaman dengan dunia tersebut?
Mengapa olah raga ini kurang populer di Indonesia, padahal banyak dijumpai di pos keamanan/tempat orang nongkrong, (biasanya) ada papan catur.
Mari kita lihat bagaimana India melahirkan juara dunia catur dan juga banyak yang bergelar Grand Master masih sangat muda dan cukup diperhitungkan di dunia percaturan.
Cina juga bisa melahirkan juara dunia catur, kemudian banyak juga pemain mudanya.
Kalau kita lihat potensi kita, seharusnya kita juga mampu menghasilkan juara dunia, dengan materi pemain dan bibit yang tak kalah dengan Cina, India, Amerika, dll.. mungkin satu yang diperlukan dukungan baik dari pihak swasta maupun pemerintah sehingga seperti halnya Badminton dimana posisi kita sangat diperhitungkan.
Semoga Catur akan menemukan dukungannya dalam waktu dekat.
“bagi pengendara sepeda motor di Jakarta, masih adakah konsep bergantian di jalan”
Ini murni pengamatan saya sebagai pengendara motor dan juga kebetulan menyetir mobil di jalan Jakarta. Kalau di jalan, apalagi kita memakai mobil dan jam dimana sendang banyak sepeda motor, ketika bertemu di perempatan jalan dan tidak ada lampu pengatur lalu lintasnya (baca: lampu merah), yang akan dirasakan oleh pengendara mobil adalah, tidak ada kata bergantian bagi motor kecuali kalah posisi.
Yang saya alami tersebut mungkin berbeda dengan yang dialami oleh para pengendara yang lain. Hal ini murni pengamatan saya di sekitaran Jakarta Selatan yang memiliki ruas jalan yang kebetulan banyak sepeda motor. Terlebih pada kondisi banyak kendaraan, di pagi hari, di perempatan, tidak ada lampu lalu lintas, tidak ada “Pak Ogah”. Itulah dimana kondisi begitu ada celah, motor akan melaju tidak peduli yang penting dirinya sendiri. Orang lain, terutama pengendara mobil, dianggap melihatnya dan maklum akan dia sendiri yang paling buru-buru dari semua yang ada di jalan.
Semoga semua yang membaca ini tidak mengalami dan kita tidak termasuk pada golongan yang tidak mengalah (di jalan).
Di zaman yang serba ingin cepat, serba persaingan dan juga ingin selalu terbaik, membuat kita lebih fokus kepada sesuatu yang mendukung untuk bisa lebih cepat, dapat bersaing dan menjadi yang terbaik. Orang lebih fokus kepada nilai daripada proses.
Melupakan bahwa proses yang baik dan terus dijaga menjadi baik akan menghasilkan nilai yang baik. Tetapi jika berfokus pada nilai sehingga akan dikejar hasil akhir yang sering melupakan proses. Orang menjadi lebih berpusat pada hasil, mengajar hasil, ingin selalu mendapat yang terbaik.
Orang hidup itu bisa saja naik dan turun, seperti kata pepatah “hidup itu seperti roda” maka dari itu marilah berfokus pada proses yang baik dan percaya akan hasil yang baik. Hasil yang baik tidak harus selalu terbaik. Terkadang kita mendapatkan yang tidak diharapkan tetapi itu tentunya menjadi hasil yang baik bagi kita, misal untuk belajar lagi atau akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik lagi nantinya.
Jadi belajarlah nilai-nilai kehidupan, bukan mengejar nilai-nilai mata pelajaran saja tetapi melupakan proses yang baik untuk menjadi baik. Lebih baik belajar membuang sampah pada tempatnya lebih dahulu daripada belajar berhitung.