“Diam bukan berarti tidak merayakan, kadang hening adalah cara terdalam untuk bersyukur”

Bukan pesta, tapi perenungan. Kalau tahun baru masehi identik dengan kembang api dan hitungan mundur yang meriah, Tahun Baru Jawa yang jatuh pada 1 Suro (1 Muharam dalam kalender Hijriyah) justru sebaliknya. Tidak ada terompet, tidak ada pesta. Yang ada adalah keheningan, doa, dan langkah kaki yang menyusuri malam dalam tradisi tapa bisu dan tirakatan. Unik sekali bukan? Di zaman di mana semua orang berlomba-lomba membuat momen jadi viral dan penuh suara, ada sebuah tradisi yang justru mengajak kita untuk berhenti sejenak, diam, dan mendengarkan ke dalam diri sendiri.
1 Suro itu apa sebenarnya? Kalender Jawa adalah perpaduan luar biasa antara sistem penanggalan Hindu-Buddha dan Islam yang disatukan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1633. Hasilnya adalah sistem waktu yang kaya dan penuh makna ada hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon), ada wuku, ada neptu. Semua berjalan beriringan seperti orkestra tanpa dirigent tapi tetap harmonis. 1 Suro adalah hari pertama dari bulan pertama dalam kalender ini, dan dianggap sebagai hari yang sangat sakral. Bukan untuk dirayakan dengan gaduh, tetapi untuk dihormati dengan laku prihatin yaitu sikap rendah hati dan menahan diri.
Tradisi yang masih hidup dan terasa. Di berbagai daerah di Jawa, 1 Suro disambut dengan cara yang berbeda-beda tapi punya rasa yang sama: khidmat. Di Yogyakarta dan Solo, Keraton mengadakan ritual Kirab Pusaka arak-arakan benda-benda pusaka kerajaan mengelilingi benteng di tengah malam, diiringi ribuan orang yang berjalan dalam diam. Di daerah pesisir, ada yang menggelar larung sesaji ke laut sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan. Masyarakat biasa pun tidak kalah banyak yang memilih malam 1 Suro untuk berziarah ke makam leluhur, mengaji, atau sekadar duduk bersama keluarga, merenung tentang setahun yang sudah berlalu. Sederhana, tapi penuh rasa.
Mistis? Iya, tapi jangan salah paham. Tidak bisa dipungkiri, 1 Suro juga lekat dengan nuansa yang dianggap “wingit” atau angker oleh sebagian orang. Ada pantangan menikah di bulan Suro, ada larangan pindah rumah, ada yang tidak berani keluar malam sendirian. Apakah ini takhayul semata? Bisa jadi. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang yang lebih jernih, semua pantangan itu sebenarnya mengandung pesan yang dalam: jangan gegabah, jangan sombong, dan jangan lupa bahwa hidup bukan hanya soal apa yang kelihatan. Ini bukan soal takut hantu, ini soal menghormati ritme alam dan waktu sesuatu yang sebenarnya sangat masuk akal jika kita mau berpikir pelan-pelan.
Relevan sampai sekarang. Di tengah dunia yang makin cepat, makin berisik, dan makin penuh notifikasi, filosofi 1 Suro terasa seperti antidot yang kita butuhkan. Bayangkan: satu malam dalam setahun di mana kita diajak untuk tidak posting, tidak scrolling, tidak huru-hara cukup duduk diam dan bertanya pada diri sendiri, sudah jadi manusia seperti apa aku tahun ini? Itu bukan kuno, itu justru sangat maju. Karena di zaman ini, kemampuan untuk diam dan merenung justru menjadi keahlian langka yang berharga. Jadi kalau kamu belum pernah merasakan malam 1 Suro, mungkin tahun ini saatnya dicoba bukan karena mistis, tapi karena kita semua butuh jeda.
Selamat Tahun Baru Jawa — 1 Suro. Muga-muga tansah pinaringan rahmat lan berkah.
catatan:
- artikel ini dibuat dengan bantuan Claude AI (by Anthropic) yang diminta melihat artikel di blog ini kemudian mencoba membuat dengan tema yang diberikan tetapi gaya yang sama.
- Gambar yang dipakai sebagai ilustrasi dibuat oleh Gemini AI (by Google).