blog baru di kompasiana.com/albertushendro

Supaya kekinian di ranah blog, bikin juga rumah baru di kompasiana.com URL-nya:

kompasiana.com/albertushendro

Tujuan blog di kompasiana tentunya diusahakan selalu menggunakan Bahasa Indonesia serta untuk ikutan kompetisi šŸ™‚

Tidak lebih supaya punya motivasi untuk lebih banyak menulis.

 

Advertisements

Potret kelas menengah

kelas menengah “ngehek!”

Katanya Indonesia punya banyak kelas menengah dan dalam kurun waktu 10 tahun ada sekitar 93 juta jiwa. Terutama di Jakarta, banyak kelas menengah adalah golongan pekerja yang mempunyai taraf hidup diatas rata-rata penghasilan serta memiliki hobi yang hype seperti jalan-jalan keluar negeri, belanja barang-barang ber-merk dan punya rumah/apartment di cluster yang hype juga. Karena sering jalan-jalan keluar negeri atau bekerja di perusahaan asing (sering berhubungan bisnis dengan perusahaan manca Negara), sering memakai bahasa asing. Untuk itu sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut sampai untuk yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, sudah mulai mengenalkan bahasa tersebut ke generasi penerusnya. Dengan berbagai motif termasuk supaya anaknya lebih siap untuk bersaing dan terbiasa berbicara dengan bahasa asing tersebut. Sampai urusan sekolah juga harus menyekolahkan anaknya di sekolah yang multi language. Sangat kompetitif. Tidak ada yang salah dengan cita-cita mulia orang tua untuk anaknya. Semuanya harus yang terbaik untuk anaknya.

Bahasa Ibu. Ada satu yang dilupakan, bahwa manusia dilahirkan dengan kodrat memiliki bahasa ibu, dimana anak akan berkomunikasi dan berpikir dengan kerangka bahasa ibu tersebut. Bahasa inilah yang dipunyai pertama kali untuk belajar untuk proses selanjutnya. Jadi menurut saya, bahasa ibu itu sangat penting termasuk sebagai salah satu identitas bagi yang bersangkutan. Sebagai orang Indonesia, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan juga identitas Negara. Jadi bahasa menunjukkan bangsa ada benarnya. Tidak ada yang salah dengan mengajarkan bahasa asing sejak kecil, selama Anda tinggal dan hidup dengan bahasa asing itu untuk seterusnya karena bagaimanapun sebagai warga Negara harus memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa yang diakui oleh negaranya. Banyak kelas menengah yang lupa bahwa mereka dulu juga belajar bahasa asing setelah menguasai bahasa negaranya. Jadi belajar bahasa asing bisa dilakukan setelah anak mempunyai bahasa ibu.

Outsourced nation. Sebagai kelas menengah sering sibuk mengejar karir demi mempersiapkan masa depan anak atau generasi penerusnya. Mempersiapkan dana untuk memberikan yang terbaiknya tetapi lupa dengan menyerahkan pendidikan dan pendampingan anaknya di-outsource ke pihak ketiga (suster/mbak) tanpa memberikan perhatian lagi. Semua diserahkan sebagaimana menyerahkan pendidikan kepada sekolah internasional yang mahal dan bergengsi serta multi language. Ini bukan generalisasi (steretotif) hanya Ā potret (snapshot). Semoga kita dijauhkan dari kondisi seperti diatas dan memberikan perhatian kepada generasi penerus kita.

Dangdut Elektronika

Dangdut is the music of my country” -project pop

Realita yang tidak dapat dipungkiri, dangdut adalah pemersatu bangsa. Diacara kampanye, syukuran atau acara pengumpulan masa lainnya. Dangdut adalah pemersatunya, semua berbaur mau bergoyang.

Duo kreatif asal Jogja menamakan diri Libertaria, beranggotakan Kill The DJ dan Balance, merilis album baru mereka dengan aliran dangdut elektronika. Yang menarik adalah tema lagu-lagu yang diangkat sangat relevan dengan tren sekarang dari digital (ojek/taksi online, citra/image) sampai masalah sosial (politisi serta realita kemiskinan). Kreatif sekali mereka dan lirik yang dipilih tidak lah vulgar (seperti campursari) tapi lebih cenderung cerdasĀ dan kekinian.

Yang menarik bagi saya adalah lagu D.N.A (Dangdut Nang jero Ati – dangdut didalam hati) sangat relevan dengan digital era sekarang ini.

Dulu minyak tanah, sekarang elpiji //Ā Naik ojek taksi pakai aplikasi //Ā Perubahan jaman tak bisa dihindari //Ā Tapi musik Dangdut tak kan pernah terganti! …” D.N.A by Libertaria Music.

Kewer-Kewer
List lagu Libertaria Music

Silakan download secara gratis di libertaria.id

Hidup Dangdut!

Belajarlah dari #FinTech

Beruntung bekerja di bank dimana budaya belajar diatur dalam sebuah peraturan bank Indonesia. Merupakan kewajiban bagi institusi untuk terus memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawannya sehingga wawasannya menjadi lebih luas dan dapat bekerja dengan baik. Dengan adanya kewajiban ini, maka bank kami setiap tahun membuat event yang namanya Learning Week kemudian namanya menjadi Learning FairĀ merupakan acara belajar selama seminggu penuh (diluar jam kerja) dengan mengambil tema yang sedang tren yang tentunya ada hubungannya dengan pekerjaan (finansial institusi) dan juga pengembangan diri (termasuk hobi). Learning Fair tahun ini mengambil tema Digital seiring dengan visiĀ institusi kami untuk melakukan transformasi menjadi digital.

#FinTech Sesuai dengan tema digital dan juga tren yang ada sekarang berupa e-commerce, fintech dan community empowerment. Supaya sesuai dengan tema dan juga seiring dengan visi institusi, maka dipilihlah tema financial technology (#fintech). Dikarenakan secara bank kita memberikan pelayanan personal loan, investment dan juga transaction service ke nasabah maka kami belajar dari pinjam.co.id, bareksa.com serta dompetku. Selain itu kami juga belajar dari wujudkan.com (crowdfunding) yang merupakan bagian dari community empowerment. Cukup menarik mendengarkan pengalaman dari para founder/co-founder serta group head product-nya (utk dompetku). Bagaimana mereka mempunyai cita-cita mulia untuk berkontribusi membantu UKM dan juga memajukan industri digital di tanah air tercinta.

Pinjam.co.idĀ adalah #fintech yang memberikan pelayanan pinjaman kepada nasabah dengan jaminan yang dimiliki (emasĀ atauĀ bpkb) semua lewat website. Seperti diketahui banyak orang akan malu utk “menyekolahkan” asetnya untuk mendapatkan pinjaman. Dengan adanya media digital memungkinkan mereka melalukan itu tanpa diketahui orang. Fokus pada pelayanan dengan kecepatan dan juga dalam penjemputan data serta kolateral asetnya. Mereka mengambil celah antara bank dan pegadaian. Dengan menyasar segmen UKM dengan memberikan fasilitas pinjaman yang lebih cepat.

Bareksa.com adalah portal investasi yang juga fokus pada edukasi. Menurut mereka Indonesia masih harus lebih banyak edukasi sambil memberikan layanan investasi lewat mereka sebagai supermarket reksadana.

Dompetku+ adalah e-wallet yang dikembangkan sebagai aplikasi Over The Top (OTT) sehingga memungkinkan pengguna telko lain register dompetku+

Wujudkan.com adalah crowdfunding service yang membuka pekerja kreatif dapat mewujudkan ide mereka dari donasi yang dikumpulkan secara transparan dari penggunaannya serta pertanggung-jawabannya.

Terus belajar. Semangat terus belajar adalah yang melandasi untuk belajar dari (calon) kompetitor kita. Belajar bagaimana mereka akan “mencuri” bisnis kita sehingga kita bisa mempersiapkan diri kita dikemudian hari untuk “melawan” mereka atau bekerja bersama mereka. Belajar dari analogi air dan beton. Dibanyak presentasi, orang sering mengasosiasikan bank dengan gedung yang kokoh kuat dari beton, sedangkan #fintech adalah air yang terlihat lemah dibanding beton, yang terus menerus menetesi dinding beton. Sadar atau tidak sadar, air itu akan mengikis beton bahkan bisa melubangi atau menghancurkan. Untuk itu perlu kita belajar dari kompetitor sebelum benar-benar menjadi kompetitor sehingga “beton” kita manjadi aman.

Budaya membaca

Membaca adalah salah satu cara untuk membuka wawasan. Dengan membaca kita bisa belajar. Seorang bijak pernah berkata “Pemimpin yang baik adalah seorah pembaca, sedangkan seorang pembaca belum tentu pemimpin yang baik“. Hampir semua pemimpin yang terkenal adalah seorang pembaca buku. Dari membaca buku, kita akan mendapatkan lebih banyak ilmu.

Mencontoh. Pengalaman pribadi saya, perlu orang terdekat yang memberikan contoh budaya membaca buku. Dari hal sepele, memberikan contoh selalu membaca disetiap kesempatan yang ada (waktu luang). Kemudian menunjukkan sesuatu melalui buku dengan mengajak untuk membaca bersama, merupakan cara yang cukup efektif untuk menularkan kebiasaan membaca. Itu merupakan pengalaman pribadi saya. Mungkin banyak cara yang lain yang dipakai untuk menularkan kebiasaan membaca. Mungkin Anda juga mempunyai cara sendiri, silakan dibagikan.

Berimajinasi. Dengan membaca juga membantu kita untuk berimajinasi. Dengan bacaan yang sama setiap orang akan mempunya imajinasi yang berbeda dan juga interpretasi yang juga bisa berbeda. Inilah yang menjadikan membaca adalah latihan untuk menjadi kreatif.

Tantangan. Untuk saya pribadi, sedang menantang diri saya untuk paling tidak membaca buku dalam satu bulan. Bagaimana dengan Anda?

Bermatematika bersama Hendra Gunawan

Dosen saya dulu (Prof. Hendra Gunawan) yang sangat concern terhadap pendidikan matematika membuat blog mengenai matematika dengan gaya yang lebih populer sehingga lebih membumi. Silakan kunjungi blog yang menarik dengan membawa judul “Bermatematika bersama Hendra Gunawan” dengan alamat bermatematika.net

Memberi contoh. Mengapa beliau membuat blog tersebut? Ini merupakan jawaban kongkret atas keprihatinan beliau atas blog yang mengatasnamakan matematika yang ada sekarang ini tetapi isinya lebih banyak ke artikel “bimbel matematika”. Bravo Prof, terus menulis yang ringan-ringan ya hehehe.

Matematika bukan sekedar berhitung

Matematika memang identik dengan menghitung tetapi bukan sekedar berhitung. Apakah definisi matematika?Ā Didalam artikel di livescience.comĀ [1] disebutkanĀ “Matematika adalah ilmu yang berhubungan dengan logika bentuk, kuantitas dan pengaturan. Matematika ada di sekitar kita, di segala sesuatu yang kita lakukan.” Jelas bahwa berhitung hanya satu bagian dari kegiatan bermatematika.

Cepat Berhitung = pintar matematika. Banyak yang beranggapan bahwa jika kita cepat berhitung maka dianggap pintar matematika. Tidak salah sih, hanya kurang tepat šŸ™‚ Kalau kita mau lihat mata kuliah di jurusan matematika hanya sedikit yang berhitung (melakukan operasi matematika dengan menghasilkan angka), dulu sewaktu masih kuliah ada mata kuliah Analisis Data, Kalkulus, Aljabar Elementer,Ā Metode Numerik yang banyak berhitung,Ā selebihnya banyak analisis. Proses yang sering dilakukan adalah bagaimana memecahkan masalah dan membuktikannya supaya diterima oleh kaidah logika serta kaidah yang diakui kebenarannya. Kemampuan menganalisis suatu masalah serta memecahkannya melatih kita untuk dapat berpikir kreatif.

Berfikir Kreatif. Sebenarnya matematika mengajarkan untuk selalu kreatif dalam menyelesaikan masalah. Lebih sering masalah yang terlihat sederhana (sedikit fakta)Ā dalam matematika akan sangat kompleks dan sulit dalam membuktikannya. Membuktikan suatu masalah dalam matematika jarang sekali linier, dari depan kebelakang, selesai terbukti. Terkadang harus dari belakang ke depan kemudian mencari jalan lain ditengahnya. Dengan analogi ataupun membuktikan bahwa yang masalah yang akan dibuktikan adalah salah (negasi). Jadi kalau mau kreatif, lebih sering memecahkan masalah matematika šŸ™‚ Terutama untuk para programmer, menyukai matematika akan memberikan nilai tambah ketika melakukan bug fixing maupun troubleshooting suatu masalah.

referensi:

[1] http://www.livescience.com/38936-mathematics.html