Tantangan Membangun Keluarga dalam Budaya Urban

Budaya Urban - hak cipta pada yang memilikinya
Budaya Urban. [sumber silakan cek image source]

Jadilah pemberi nilai pada kehidupan

Prolog. Tulisan ini adalah penyerapan saya selama mengikuti salah satu sesi dalam rangka Rapat Kerja (Raker) Dewan Paroki Pleno (DPP) Santa Perawan Maria Ratu (SPMR) Blok Q Jakarta Selatan, di Wisma Erema Puncak pada tanggal 1 September 2016. Tulisan ini dibuat sangat telat karena penulisnya (sok) sibuk.

Sesi kali ini dibawakan oleh Rm. Mudji Sutrisno SJ sebagai salah satu tokoh kebudayaan yang sangat dihormati di tanah air ini. Hampir semua pengalaman beliau berhubungan dengan kebudayaan. Beliau bercerita bahwa baru saja pulang dari Malang menghadiri dan memberikan pidato kebudayaan dalam acara pesta budaya Singosari (Malang, Jawa Timur) dan Singaraja (Bali). Mereka mencoba mencari akar budaya dan kesamaan nama singo/singa.

Dalam sesi yang sangat berat kali ini Rm Mudji akan membahas tantangan membangun keluarga dalam himpitan budaya urban tentunya dari perspektif kebudayaan.

Disorientasi Nilai. Sekarang ini cukup sering kita melihat bagaimana pergeseran nila-nilai terjadi di masyarakat. Setiap hari kita melihat bagaimana nilai-nilai baik telah bergeser, seolah-olah yang baik menjadi luar biasa. Korupsi menjadi masif terjadi karena pergeseran nilai-nilai ini. Bahkan Pancasila yang dirumuskan oleh Bung Karno sebagai bagian dari rumusan kebudayaan telah mengalami reduksi dan pergeseran. Salah satu nilai dari Pancasila yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab telah bergeser seiring dengan perkembangan cara berpikir orang bahwa segala sesuatu harus diukur dengan uang. Telah terjadi reduksi nilai-nilai estetik karena harus diukur dengan uang. Uang telah menjadi “berhala” yang baru. Dipuja oleh kebanyakan sebagai alat ukur. Ditambah dengan semangat yang sekarang banyak dianut oleh kebanyakan orang yaitu konsumerisme, telah menjauhkan nilai keadilan dan juga kemanusiaan yang beradab. Orang akan cenderung untuk mengikut jargon “I consume therefore I exist” (ICTIE) melupakan bahwa penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan juga perlu diperhatikan.

Kekuatan informasi/digital. Dengan adanya jaman informasi seperti sekarang ini yang sudah tidak terbendung, banyak orang-orang dengan sukarela dan senang hati mempersilakan budaya baru untuk masuk kedalam kehidupannya. Dengan tuntutan budaya ICTIE ini, dengan mudahnya guru-guru baru dalam kehidupan kita telah tumbuh. Bagaimana generasi-generasi sekarang kehilangan arti “guru” yang sebenarnya. Guru yang baik adalah yang memberikan nilai-nilai kehidupan terhadap apa yang diajarkan bukan sekedar mengajarkan hal-hal yang ada seperti yang dilakukan oleh Google atau sumber informasi digital lainnya. Telah terjadi reduksi nilai-nilai belajar, orang hanya mengejar skill tetapi bukan menghayati bahwa belajar adalah proses bukan hasil.

Belajar itu proses. Orang jadi lupa bahwa dalam proses belajar itu ada juga proses bertutur dan bercerita mengenai sejarah. Bagaimana nilai-nilai itu ada dan terbentuk. Sekarang ini orang cenderung untuk ahistoris (melupakan sejarah) karena tidak mau/malas melihat proses. Semua harus instan untuk mendapatkan hasil. Ini yang membuat budaya instan ini sekarang menjadi suatu yang keniscayaan didalam kehidupan kita. Telah terjadi juga reduksi terhadap proses itu sendiri, yang berimplikasi terjadi budaya ahistoris.

Bagaimana kita menghadapi ini? Pertanyaan ini menjadi sangat valid dengan kondisi yang terjadi sekarang ini (yang dijelaskan diatas). Sebagai bagian dari orang-orang yang hidup dalam budaya urban ini, tentunya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sehingga kita dapat kembali menemukan kehidupan yang selaras dan seimbang serta tidak terbawa dalam budaya urban.

Sintesis dan Osmosis. Sebagai makhluk pembelajar, tentu kita bisa belajar melihat nilai-nilai (tesis-tesis) yang baik bagi kehidupan kita. Menyaring kembali nilai-nilai yang ada dan memberikan nilai-nilai baik sehingga menjadi tesis yang baru yang bernilai bagi kemanuasiaan. Memegang teguh prinsip hidup yang baik adalah suatu keharusan, tetapi tetap fleksibel dalam menjalankan prinsip hidup tersebut. Terkadang cara-cara pelaksanaan harus menjadi lebih kreatif.

Kehidupan spiritual berkelanjutan. Dalam kebudayaan urban, hidup menurut pasar (mengejar ambisi pribadi/bekerja) dilakukan oleh manusia dari Senin-Jumat (selama hari bekerja). Hidup spiritual itu hanya dilakukan sewaktu (Sabtu/Minggu) ketika ritual agama/spritualitas dilakukan. Kehidupan spritiual itu harus berkelanjutan dan harus “dipaksakan” sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Budaya urban telah memisahkannya, padahal kehidupan spiritual itu adalah proses dimana kita kembali kepada nilai-nilai sakral akan kehidupan sehingga hidup akan menjadi lebih bermakna. Kehidupan itu jauh lebih dalam dari sekedar mencari nafkah dan mengejar hal-hal duniawi. Manusia telah menjadi mahluk yang mulia dengan kemampuan memberikan makna pada kehidupannya. Jika kehidupan tidak bermakna dan bernilai akan menjauhkan manusia dari kodratnya, dia menjadi fauna. Human is meaning seeking animal. Be human not animal. Untuk itu lakukan dan berikanlah waktu hidup Anda untuk melakukan hening dan memberikan nilai spiritual kepada hidup Anda dan menemukan kembali makna yang lebih dalam hidup Anda.

Advertisements

Ingin Cepat Kaya

Siapa sih yang tidak ingin kaya? Hampir semua orang ingin kaya, punya uang banyak dan kalau bisa tidak usah kerja keras. Kalaupun harus berinvestasi maka harus cepat menghasilkan uang dengan cepat. Kalau menabung di bank bunganya kecil ditambah dipotong uang administrasi. Kemudian kalau investasi deposito lebih besar dibandingkan menabung tapi masih kecil juga bunganya. Investasi reksadana, belum dikenal luas, apalagi saham. Investasi langsung lewat usaha yang nyata, resikonya lebih besar dan juga kurang cepat hasilnya.

Secara hukum orang Indonesia mempunyai agama. Semua berusaha untuk mengikuti ajaran agamanya supaya hidupnya lebih terjamin dikemudian hari. Jadi agama itu termasuk investasi masa depan. Jika kita melihat pemuka agama (atau yang secara kasat mata sangat agamis), maka akan lebih percaya kepada orang tersebut karena memang kita adalah orang yang beragama.

Dua hal diatas sering dieksploitasi oleh oknum-oknum yang tahu persis kondisi orang-orang kita. Kisah berikut ini adalah kisah nyata, hanya namanya sudah disamarkan dan sebisa mungkin tidak menyinggung SARA.

Tersebutlah seseorang yang datang ke sebuah desa di wilayah kecamatan di lingkup sebuah kabupaten di daerah Lampung. Orang in terlihat sangat agamis dan sangat mudah bergaul. Dan orang ini mendirikan suatu koperasi simpan pinjam yang berdasarkan skema agama (jadi tidak ada konsep bunga). Supaya tidak menyudutkan sebut saja Koperasi Kredit (Kopdit) Mandini Raja (bukan nama sebenarnya). Kopdit ini kabarnya membeli Ruko dan membangun kantornya serta merekrut pegawai. Para pegawainya memakai dasi serta membawa laptop. Keren lah, Kopdit dimiliki orang yang sangat terlihat santun dan agamis serta memiliki kantor yang bagus dan karyawan yang keren-keren. Mereka menawarkan produk simpanan (penghimpunan dana) dengan skema yang sangat keren, yaitu jika menyimpan dana sebesar Rp. 5 juta akan mendapat hadiah langsung TV (produk dari Tiongkok) seharga 750 ribu serta dalam jangka waktu 3 bulan mendapatkan 150 ribu diakhir periode. Ditengah periode mendapatkan bonus bingkisan THR paket jika diuangkan bernilai 100 ribu. Totalnya memberikan 1 juta dalam 3 bulan untuk dana 5 juta (pengembalian 20% dalam 3 bulan). Luar biasa! Janji mereka terbukti bagi orang-orang angkatan awal yang menempatkan dana 5 juta. Semua mendapatkan hasil seperti janjinya. Dan ketika jatuh tempo, banyak yang ditwarkan untuk menempatkan kembali dengan menambah dananya. Karena mereka sudah membuktikan bisa memberikan hasil menggiurkan.

Semakin besar dana ditempatkan, semakin besar hasilnya. Menempatkan dana 50 juta dalam jangka waktu 1 tahun, akan mendapatkan  hadiah langsung 1 buah motor matik baru gres dari dealer. Akan lebih luar biasa kalau menempatkan dana 800 juta dalam waktu 2 tahun akan mendapatkan bonus awal penempatan 1 buah mobil Toyota Avanza gress dari dealer. Luar biasa!!! Entah berapa besar uang akan dijanjikan akan didapatkan jika akhir periode dari uang-uang tersebut jatuh tempo.

Yang lebih luar biasa lagi, ternyata para pegawai kopdit tersebut harus ikut menempatkan dana (sebagai saham?) sebesar 25 juta untuk bisa menjadi pegawainya. Dan mereka mendapatkan target untuk merekrut nasabah-nasabah baru. Sangat hebat pendirinya, mampu merekrut pegawai dalam jumlah relatif banyak.

Mereka ditengarai berhasil mengumpulkan dana milyaran rupiah. Ketika ditanya apakah mereka meminjamkan dana tersebut? Ternyata tidak! Kabarnya mereka menginvestasikan sendiri uang-uang itu melalui usaha si pemilik/pendiri. Kono kabarnya pendirinya memiliki usaha yang banyak di pulau Jawa. Bagi orang berpikiran normal, apakah hal itu mungkin? Bagi mereka yang menempatkan dananya, jawabnya mungkin! Bahkan ada yang percaya bahwa pendirinya memiliki usaha di luar negeri (rumor entah siapa yang menciptakan) bahkan simpanannya di bank Swiss (terkenal dengan private bank-nya) dan usahanya forex (entah siapa yang tahu).

Setelah 1 tahun berjalan mulailah wanprestasi seiring dengan berkurangnya nasabah baru yang ikut bergabung. Panik, rebut dan porak poranda impian para pemilik dana. Beberapa orang melaporkan ke Polsek setempat, yang akhirnya menangkap pemilik kopdit tersebut dan menahannya. Dan akhirnya diketahui bahwa pemilik juga pernah ditangkap oleh polisi di daerah jawa dengan kasus yang sama.

Jadi kalau kita lihat dari kasus ini, orang-orang yang dieksploitasi dan yang mengeksploitasi keserakahan masing-masing. Untuk itu kembalilah kepada yang disebut mantra dalam kehidupan ini “If it’s too good to be true then it’s too good to be true”.

(mulai menulis ini di bulan Juli, eh sudah ada kasus Dimas Kanjeng yang kurang lebih sama)

 

Potret kelas menengah

kelas menengah “ngehek!”

Katanya Indonesia punya banyak kelas menengah dan dalam kurun waktu 10 tahun ada sekitar 93 juta jiwa. Terutama di Jakarta, banyak kelas menengah adalah golongan pekerja yang mempunyai taraf hidup diatas rata-rata penghasilan serta memiliki hobi yang hype seperti jalan-jalan keluar negeri, belanja barang-barang ber-merk dan punya rumah/apartment di cluster yang hype juga. Karena sering jalan-jalan keluar negeri atau bekerja di perusahaan asing (sering berhubungan bisnis dengan perusahaan manca Negara), sering memakai bahasa asing. Untuk itu sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut sampai untuk yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, sudah mulai mengenalkan bahasa tersebut ke generasi penerusnya. Dengan berbagai motif termasuk supaya anaknya lebih siap untuk bersaing dan terbiasa berbicara dengan bahasa asing tersebut. Sampai urusan sekolah juga harus menyekolahkan anaknya di sekolah yang multi language. Sangat kompetitif. Tidak ada yang salah dengan cita-cita mulia orang tua untuk anaknya. Semuanya harus yang terbaik untuk anaknya.

Bahasa Ibu. Ada satu yang dilupakan, bahwa manusia dilahirkan dengan kodrat memiliki bahasa ibu, dimana anak akan berkomunikasi dan berpikir dengan kerangka bahasa ibu tersebut. Bahasa inilah yang dipunyai pertama kali untuk belajar untuk proses selanjutnya. Jadi menurut saya, bahasa ibu itu sangat penting termasuk sebagai salah satu identitas bagi yang bersangkutan. Sebagai orang Indonesia, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan juga identitas Negara. Jadi bahasa menunjukkan bangsa ada benarnya. Tidak ada yang salah dengan mengajarkan bahasa asing sejak kecil, selama Anda tinggal dan hidup dengan bahasa asing itu untuk seterusnya karena bagaimanapun sebagai warga Negara harus memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa yang diakui oleh negaranya. Banyak kelas menengah yang lupa bahwa mereka dulu juga belajar bahasa asing setelah menguasai bahasa negaranya. Jadi belajar bahasa asing bisa dilakukan setelah anak mempunyai bahasa ibu.

Outsourced nation. Sebagai kelas menengah sering sibuk mengejar karir demi mempersiapkan masa depan anak atau generasi penerusnya. Mempersiapkan dana untuk memberikan yang terbaiknya tetapi lupa dengan menyerahkan pendidikan dan pendampingan anaknya di-outsource ke pihak ketiga (suster/mbak) tanpa memberikan perhatian lagi. Semua diserahkan sebagaimana menyerahkan pendidikan kepada sekolah internasional yang mahal dan bergengsi serta multi language. Ini bukan generalisasi (steretotif) hanya  potret (snapshot). Semoga kita dijauhkan dari kondisi seperti diatas dan memberikan perhatian kepada generasi penerus kita.

Dangdut Elektronika

Dangdut is the music of my country” -project pop

Realita yang tidak dapat dipungkiri, dangdut adalah pemersatu bangsa. Diacara kampanye, syukuran atau acara pengumpulan masa lainnya. Dangdut adalah pemersatunya, semua berbaur mau bergoyang.

Duo kreatif asal Jogja menamakan diri Libertaria, beranggotakan Kill The DJ dan Balance, merilis album baru mereka dengan aliran dangdut elektronika. Yang menarik adalah tema lagu-lagu yang diangkat sangat relevan dengan tren sekarang dari digital (ojek/taksi online, citra/image) sampai masalah sosial (politisi serta realita kemiskinan). Kreatif sekali mereka dan lirik yang dipilih tidak lah vulgar (seperti campursari) tapi lebih cenderung cerdas dan kekinian.

Yang menarik bagi saya adalah lagu D.N.A (Dangdut Nang jero Ati – dangdut didalam hati) sangat relevan dengan digital era sekarang ini.

Dulu minyak tanah, sekarang elpiji // Naik ojek taksi pakai aplikasi // Perubahan jaman tak bisa dihindari // Tapi musik Dangdut tak kan pernah terganti! …” D.N.A by Libertaria Music.

Kewer-Kewer
List lagu Libertaria Music

Silakan download secara gratis di libertaria.id

Hidup Dangdut!

Belajarlah dari #FinTech

Beruntung bekerja di bank dimana budaya belajar diatur dalam sebuah peraturan bank Indonesia. Merupakan kewajiban bagi institusi untuk terus memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawannya sehingga wawasannya menjadi lebih luas dan dapat bekerja dengan baik. Dengan adanya kewajiban ini, maka bank kami setiap tahun membuat event yang namanya Learning Week kemudian namanya menjadi Learning Fair merupakan acara belajar selama seminggu penuh (diluar jam kerja) dengan mengambil tema yang sedang tren yang tentunya ada hubungannya dengan pekerjaan (finansial institusi) dan juga pengembangan diri (termasuk hobi). Learning Fair tahun ini mengambil tema Digital seiring dengan visi institusi kami untuk melakukan transformasi menjadi digital.

#FinTech Sesuai dengan tema digital dan juga tren yang ada sekarang berupa e-commerce, fintech dan community empowerment. Supaya sesuai dengan tema dan juga seiring dengan visi institusi, maka dipilihlah tema financial technology (#fintech). Dikarenakan secara bank kita memberikan pelayanan personal loan, investment dan juga transaction service ke nasabah maka kami belajar dari pinjam.co.id, bareksa.com serta dompetku. Selain itu kami juga belajar dari wujudkan.com (crowdfunding) yang merupakan bagian dari community empowerment. Cukup menarik mendengarkan pengalaman dari para founder/co-founder serta group head product-nya (utk dompetku). Bagaimana mereka mempunyai cita-cita mulia untuk berkontribusi membantu UKM dan juga memajukan industri digital di tanah air tercinta.

Pinjam.co.id adalah #fintech yang memberikan pelayanan pinjaman kepada nasabah dengan jaminan yang dimiliki (emas atau bpkb) semua lewat website. Seperti diketahui banyak orang akan malu utk “menyekolahkan” asetnya untuk mendapatkan pinjaman. Dengan adanya media digital memungkinkan mereka melalukan itu tanpa diketahui orang. Fokus pada pelayanan dengan kecepatan dan juga dalam penjemputan data serta kolateral asetnya. Mereka mengambil celah antara bank dan pegadaian. Dengan menyasar segmen UKM dengan memberikan fasilitas pinjaman yang lebih cepat.

Bareksa.com adalah portal investasi yang juga fokus pada edukasi. Menurut mereka Indonesia masih harus lebih banyak edukasi sambil memberikan layanan investasi lewat mereka sebagai supermarket reksadana.

Dompetku+ adalah e-wallet yang dikembangkan sebagai aplikasi Over The Top (OTT) sehingga memungkinkan pengguna telko lain register dompetku+

Wujudkan.com adalah crowdfunding service yang membuka pekerja kreatif dapat mewujudkan ide mereka dari donasi yang dikumpulkan secara transparan dari penggunaannya serta pertanggung-jawabannya.

Terus belajar. Semangat terus belajar adalah yang melandasi untuk belajar dari (calon) kompetitor kita. Belajar bagaimana mereka akan “mencuri” bisnis kita sehingga kita bisa mempersiapkan diri kita dikemudian hari untuk “melawan” mereka atau bekerja bersama mereka. Belajar dari analogi air dan beton. Dibanyak presentasi, orang sering mengasosiasikan bank dengan gedung yang kokoh kuat dari beton, sedangkan #fintech adalah air yang terlihat lemah dibanding beton, yang terus menerus menetesi dinding beton. Sadar atau tidak sadar, air itu akan mengikis beton bahkan bisa melubangi atau menghancurkan. Untuk itu perlu kita belajar dari kompetitor sebelum benar-benar menjadi kompetitor sehingga “beton” kita manjadi aman.

Budaya membaca

Membaca adalah salah satu cara untuk membuka wawasan. Dengan membaca kita bisa belajar. Seorang bijak pernah berkata “Pemimpin yang baik adalah seorah pembaca, sedangkan seorang pembaca belum tentu pemimpin yang baik“. Hampir semua pemimpin yang terkenal adalah seorang pembaca buku. Dari membaca buku, kita akan mendapatkan lebih banyak ilmu.

Mencontoh. Pengalaman pribadi saya, perlu orang terdekat yang memberikan contoh budaya membaca buku. Dari hal sepele, memberikan contoh selalu membaca disetiap kesempatan yang ada (waktu luang). Kemudian menunjukkan sesuatu melalui buku dengan mengajak untuk membaca bersama, merupakan cara yang cukup efektif untuk menularkan kebiasaan membaca. Itu merupakan pengalaman pribadi saya. Mungkin banyak cara yang lain yang dipakai untuk menularkan kebiasaan membaca. Mungkin Anda juga mempunyai cara sendiri, silakan dibagikan.

Berimajinasi. Dengan membaca juga membantu kita untuk berimajinasi. Dengan bacaan yang sama setiap orang akan mempunya imajinasi yang berbeda dan juga interpretasi yang juga bisa berbeda. Inilah yang menjadikan membaca adalah latihan untuk menjadi kreatif.

Tantangan. Untuk saya pribadi, sedang menantang diri saya untuk paling tidak membaca buku dalam satu bulan. Bagaimana dengan Anda?