Paradox

Definition of paradox. Menurut Merriam-Webster dictionary [1]:

  1. :  a tenet contrary to received opinion

  2. 2a :  a statement that is seemingly contradictory or opposed to common sense and yet is perhaps true

    b :  a self-contradictory statement that at first seems true

    c :  an argument that apparently derives self-contradictory conclusions by valid deduction from acceptable premises

 

:  one (as a person, situation, or action) having seemingly contradictory qualities or phases

Boleh diartikan bahwa paradok itu suatu statement/premis yang saling kontradiksi (mengandung unsur kebenaran dan salah secara bersamaan).

Matematika dan Paradok. Paradok banyak ditemui di dunia matematika. Hal ini banyak berhubungan dengan logika. Ada premis yang akan saling berkontradiksi. Contoh Paradoks Zeno: Achilles dan Kura-kura. Achilles berlomba dengan kura-kura. Sang kura-kura boleh berlari 1 km di depan Achilles dan Achilles berlari santai dengan kecepatan 2 kali kecepatan kura-kura. Siapa yang akan menang lari? Menurut Zeno, Achilles tidak akan pernah menyalib sang kura-kura. Karena itulah kura-kura yang menang. Tetapi 2000 tahun kemudian (dengan adanya konsep ketaterhinggaan) dibuktikan bahwa Zeno salah.

Zaman Media Sosial. Di zaman media sosial, dimana privasi setiap orang dengan sadar dan tanpa paksaan diumbar, banyak sekali paradok yang bisa kita lihat. Status di media sosial, cukup banyak contoh paradok.

Contohnya: Status di media sosial “Saya tidak suka pamer” padahal ditulis di dinding media sosial yang bisa dilihat oleh semua orang seantero jagad media sosial.

 

 

References: [1] https://www.merriam-webster.com/dictionary/paradox

Tahun Baru, Semangat Baru

Selamat Tahun Baru 2017! Semoga tahun ini lebih baik dari tahun lalu.

Resolusi. Apakah sudah membuat resolusi di tahun baru ini? Mari menulis lebih sering dan tidak putus tiap minggu sampai akhir tahun. Secara teori akan ada 52 tulisan baru di tahun ini. Let’s see in the end of the year.

QR Code Payment

google_search_-_albertus_hendro

Definisi. QR (Quick Response) Code adalah barcode 2 dimensi digunakan pertama kali di industri otomotif Jepang, merupakan label yang bisa dibawa lewat mesin dan memiliki informasi yang berhubungan dengan label tersebut. Jadi kalau barcode (berupa garis tebal tipis) yang dapat dibaca oleh mesin berisikan angka-angka, ditambahkan informasi lain jadilah QR Code ini. Sekarang ini barcode sudah banyak dikenal dan dipakai oleh industri untuk memberikan informasi SKU atau kode barang. Hampir semua kemasan makanan sekarang ini sudah ada barcode-nya. Untuk membacanya sudah banyak device yang dijual cukup terjangkau di pasaran. Bahkan ketika kita membayar di kasir convenience store a.k.a *mart itu, mbak kasirnya memindai kode barcode tersebut. Kemudian aplikasi POS-nya akan menampilkan harga dan juga deskripsi barangnya. Barcode memiliki keterbatasan yang hanya berupa label, untuk itulah QR code diciptakan. Penggunaan QR Code sekarang ini mulai meluas setelah diadopsi oleh indstri selain otomotif di Jepang. Banyak yang memakai QR code untuk menampilkan informasi yang banyak.

Design QR Code.  Kalau barcode hanya terlihat seperti garis-garis hitam dengan ketebalan yang berbeda-beda, QR code mulai banyak pilihannya. Sekarang ini desain QR Code bisa ditambahkan logo perusahaan sehingga bisa menjadi alat untuk promosi juga. QR Code berguna untuk menampilkan informasi yang lebih banyak dengan representasi seperti barcode.

QR Code payment. Di dunia fintech, sekarang ini QR Code juga dipakai sebagai salah satu media untuk melakukan pembayaran. Jadi merchant akan mencetak QR Code ketika pembeli akan melakukan pembayaran. Setelah dipindai, pembeli akan mengetahui detail transaksi yang akan dibayar. Jika setuju akan membayar, pembeli akan memproses pembayaran melalui aplikasi mobile yang sudah terhubung dengan akun untuk melakukan pembayaran tersebut. Bisa akun e-Wallet atau bahkan akun tabungan (kartu debit) melalui mobile banking. Payment method semacam ini jadi mungkin karena sekarang ini mayoritas pengguna handphone memiliki kamera. Di Taiwan atau Cina, aplikasi chatting yang populer dan banyak dipakai sudah mengimplementasikan QR Code payment. Jadi pengguna hanya memakai aplikasi chatting tersebut. Cukup mudah karena sudah terintegrasi dan juga banyak merchant yang memakai cara pembayara ini.

Tantangan. Walaupun penggunaan smartphone dan handphone berkamera sudah sangat bayank, QR Code scanner belum menjadi default app di banyak HP. Pengguna harus mengunduh aplikasi tambahan untuk dapat memindai QR code ini. Jadi ini salah satu hambatan mengapa payment method jenis ini belum banyak dipakai. Selain itu kemampuan memindai QR Code tergantung dari tampilan QR Code sendiri. Jika ditampilkan di layar POS/EDC yang resolusinya kurang memadai, akan sulit bagi aplikai pemindai untuk menampilkan informasi yang terkandung dalam kode tersebut.

Peluang. Berkaca dari pengalaman di Cina atau Taiwan, aplikasi QR Code payment ini harus terintegrasi dengan aplikasi yang sering dipakai orang. Artinya kemudahan mempunyai fasilitas/metode bayar QR Code payment ini mejadi kunci akan dipakainya metode ini. Selain itu harus banyak merchant yang bisa menerima cara pembayaran ini. Kalau merchant punya aplikasi yang bisa memproses metode bayar ini dengan mudah, misalnya dengan HP yang dimiliki penjualnya maka akan lebih luas lagi penerimaan masyarakat akan cara bayar QR ini. Jadi kalau kita bisa beli gorengan atau teh botol di pinggir jalan bisa bayar pakai QR Code ini maka itu tanda bahwa metode ini sudah banyak diterima dan dipakai oleh masyarakat luas. Apakah Anda pernah membayar dengan metode ini?

Credit Union (CU) Mobile App

credit-union

Memberdayakan anggota untuk dapat menolong dirinya sendiri

Credit Union. Apa sih Credit Union? supaya lebih mudah, adalah sebuah koperasi (anggota yang berserikat dan berkumpul untuk mendapatkan manfaat bersama) dengan fokus pemberdayaan anggota untuk dapat menolong dirinya serta mengubah cara pandang atas kehidupan melalui pendidikan. Jadi kalau CU tidak memberikan banyak program pendidikan akan seperti koperasi pada umumnya yang akan cuma berorientasi pada simpan dan pinjam saja (uang semata).

Pemberdayaan Anggota. CU lebih fokus pada memberdayakan anggota dengan pendidikan. Orang akan berubah jika cara pandangnya diubah. Untuk itu CU percaya bahwa pendidikan akan mengubah anggotanya. Anggota akan berdaya dan lebih menghargai masa depan dengan mulai mempersiapkannya sendiri. Dimulai dari program pendidikan dasar yang memberikan nilai-nilai CU, pola kebijakan produk dan layanan serta bagaimana mengatur keuangannya sendiri sehingga anggota bisa menabung dan juga bertanggung jawab jika memiliki pinjaman. Menyadarkan anggota itu merupakan program berkelanjutan, sehingga di CU diberikan pelatihan-pelatihan lain seperti Literasi Keuangan, kewirausahaan, dll.

Walk the talk. Mekanisme CU seperti koperasi, semua anggota adalah pemilik lembaga dan kekuasaan tertinggi ada di rapat anggota. Semua anggota mempunyai kewajiban untuk saling mengingatkan jika ada anggota yang lalai dalam membayar kewajiban angsuran pinjaman. CU sangat mencerminkan semangat gotong-royong, saling menolong dan kemandirian. CU percaya bahwa yang bisa mengubah nasih manusia adalah dirinya sendiri. Untuk itu semboyan “membantu anggota untuk menolong dirinya sendiri” tidak menjadi retorika belaka tapi merupaka “walk the talk” dari semangat CU.

Digital Era. CU juga harus modern. Salah satu tokoh dalam pengembangan CU adalah Rm. Fredy Rante Taruk, Pr. percaya bahwa CU juga harus beradaptasi dengan perkembangan jaman terutama tantangan masyarakat urban (seperti di Jakarta) berbeda dengan masyarakat di daerah. CU harus mampu memberikan pelayanan yang profesional. Salah satu bentuk adaptasi terhadap perkembangan jaman adalah dibuatnya aplikasi Android untuk CU Pelita Sejahtera (CUPS). CUPS adalah CU yang dibentuk di wilayah Blok Q Jakarta Selatan. Aplikasi mobile ini memungkinkan anggota untuk mengecek informasi saldo pinjaman dan simpanannya serta mengetahui perkembangan CUPS. Selain itu anggota juga bisa melakukan simulasi pinjaman untuk mengetahui jumlah angsuran serta meliha daftar anggota yang mempunyai bisnis sehingga dapat dihubungi jika dibutuhkan.

Aplikasi CUPS Mobile ini bisa diunduh di Google Play.

google_play-290x100

 

Tantangan Membangun Keluarga dalam Budaya Urban

Budaya Urban - hak cipta pada yang memilikinya
Budaya Urban. [sumber silakan cek image source]

Jadilah pemberi nilai pada kehidupan

Prolog. Tulisan ini adalah penyerapan saya selama mengikuti salah satu sesi dalam rangka Rapat Kerja (Raker) Dewan Paroki Pleno (DPP) Santa Perawan Maria Ratu (SPMR) Blok Q Jakarta Selatan, di Wisma Erema Puncak pada tanggal 1 September 2016. Tulisan ini dibuat sangat telat karena penulisnya (sok) sibuk.

Sesi kali ini dibawakan oleh Rm. Mudji Sutrisno SJ sebagai salah satu tokoh kebudayaan yang sangat dihormati di tanah air ini. Hampir semua pengalaman beliau berhubungan dengan kebudayaan. Beliau bercerita bahwa baru saja pulang dari Malang menghadiri dan memberikan pidato kebudayaan dalam acara pesta budaya Singosari (Malang, Jawa Timur) dan Singaraja (Bali). Mereka mencoba mencari akar budaya dan kesamaan nama singo/singa.

Dalam sesi yang sangat berat kali ini Rm Mudji akan membahas tantangan membangun keluarga dalam himpitan budaya urban tentunya dari perspektif kebudayaan.

Disorientasi Nilai. Sekarang ini cukup sering kita melihat bagaimana pergeseran nila-nilai terjadi di masyarakat. Setiap hari kita melihat bagaimana nilai-nilai baik telah bergeser, seolah-olah yang baik menjadi luar biasa. Korupsi menjadi masif terjadi karena pergeseran nilai-nilai ini. Bahkan Pancasila yang dirumuskan oleh Bung Karno sebagai bagian dari rumusan kebudayaan telah mengalami reduksi dan pergeseran. Salah satu nilai dari Pancasila yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab telah bergeser seiring dengan perkembangan cara berpikir orang bahwa segala sesuatu harus diukur dengan uang. Telah terjadi reduksi nilai-nilai estetik karena harus diukur dengan uang. Uang telah menjadi “berhala” yang baru. Dipuja oleh kebanyakan sebagai alat ukur. Ditambah dengan semangat yang sekarang banyak dianut oleh kebanyakan orang yaitu konsumerisme, telah menjauhkan nilai keadilan dan juga kemanusiaan yang beradab. Orang akan cenderung untuk mengikut jargon “I consume therefore I exist” (ICTIE) melupakan bahwa penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan juga perlu diperhatikan.

Kekuatan informasi/digital. Dengan adanya jaman informasi seperti sekarang ini yang sudah tidak terbendung, banyak orang-orang dengan sukarela dan senang hati mempersilakan budaya baru untuk masuk kedalam kehidupannya. Dengan tuntutan budaya ICTIE ini, dengan mudahnya guru-guru baru dalam kehidupan kita telah tumbuh. Bagaimana generasi-generasi sekarang kehilangan arti “guru” yang sebenarnya. Guru yang baik adalah yang memberikan nilai-nilai kehidupan terhadap apa yang diajarkan bukan sekedar mengajarkan hal-hal yang ada seperti yang dilakukan oleh Google atau sumber informasi digital lainnya. Telah terjadi reduksi nilai-nilai belajar, orang hanya mengejar skill tetapi bukan menghayati bahwa belajar adalah proses bukan hasil.

Belajar itu proses. Orang jadi lupa bahwa dalam proses belajar itu ada juga proses bertutur dan bercerita mengenai sejarah. Bagaimana nilai-nilai itu ada dan terbentuk. Sekarang ini orang cenderung untuk ahistoris (melupakan sejarah) karena tidak mau/malas melihat proses. Semua harus instan untuk mendapatkan hasil. Ini yang membuat budaya instan ini sekarang menjadi suatu yang keniscayaan didalam kehidupan kita. Telah terjadi juga reduksi terhadap proses itu sendiri, yang berimplikasi terjadi budaya ahistoris.

Bagaimana kita menghadapi ini? Pertanyaan ini menjadi sangat valid dengan kondisi yang terjadi sekarang ini (yang dijelaskan diatas). Sebagai bagian dari orang-orang yang hidup dalam budaya urban ini, tentunya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sehingga kita dapat kembali menemukan kehidupan yang selaras dan seimbang serta tidak terbawa dalam budaya urban.

Sintesis dan Osmosis. Sebagai makhluk pembelajar, tentu kita bisa belajar melihat nilai-nilai (tesis-tesis) yang baik bagi kehidupan kita. Menyaring kembali nilai-nilai yang ada dan memberikan nilai-nilai baik sehingga menjadi tesis yang baru yang bernilai bagi kemanuasiaan. Memegang teguh prinsip hidup yang baik adalah suatu keharusan, tetapi tetap fleksibel dalam menjalankan prinsip hidup tersebut. Terkadang cara-cara pelaksanaan harus menjadi lebih kreatif.

Kehidupan spiritual berkelanjutan. Dalam kebudayaan urban, hidup menurut pasar (mengejar ambisi pribadi/bekerja) dilakukan oleh manusia dari Senin-Jumat (selama hari bekerja). Hidup spiritual itu hanya dilakukan sewaktu (Sabtu/Minggu) ketika ritual agama/spritualitas dilakukan. Kehidupan spritiual itu harus berkelanjutan dan harus “dipaksakan” sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Budaya urban telah memisahkannya, padahal kehidupan spiritual itu adalah proses dimana kita kembali kepada nilai-nilai sakral akan kehidupan sehingga hidup akan menjadi lebih bermakna. Kehidupan itu jauh lebih dalam dari sekedar mencari nafkah dan mengejar hal-hal duniawi. Manusia telah menjadi mahluk yang mulia dengan kemampuan memberikan makna pada kehidupannya. Jika kehidupan tidak bermakna dan bernilai akan menjauhkan manusia dari kodratnya, dia menjadi fauna. Human is meaning seeking animal. Be human not animal. Untuk itu lakukan dan berikanlah waktu hidup Anda untuk melakukan hening dan memberikan nilai spiritual kepada hidup Anda dan menemukan kembali makna yang lebih dalam hidup Anda.

Ingin Cepat Kaya

Siapa sih yang tidak ingin kaya? Hampir semua orang ingin kaya, punya uang banyak dan kalau bisa tidak usah kerja keras. Kalaupun harus berinvestasi maka harus cepat menghasilkan uang dengan cepat. Kalau menabung di bank bunganya kecil ditambah dipotong uang administrasi. Kemudian kalau investasi deposito lebih besar dibandingkan menabung tapi masih kecil juga bunganya. Investasi reksadana, belum dikenal luas, apalagi saham. Investasi langsung lewat usaha yang nyata, resikonya lebih besar dan juga kurang cepat hasilnya.

Secara hukum orang Indonesia mempunyai agama. Semua berusaha untuk mengikuti ajaran agamanya supaya hidupnya lebih terjamin dikemudian hari. Jadi agama itu termasuk investasi masa depan. Jika kita melihat pemuka agama (atau yang secara kasat mata sangat agamis), maka akan lebih percaya kepada orang tersebut karena memang kita adalah orang yang beragama.

Dua hal diatas sering dieksploitasi oleh oknum-oknum yang tahu persis kondisi orang-orang kita. Kisah berikut ini adalah kisah nyata, hanya namanya sudah disamarkan dan sebisa mungkin tidak menyinggung SARA.

Tersebutlah seseorang yang datang ke sebuah desa di wilayah kecamatan di lingkup sebuah kabupaten di daerah Lampung. Orang in terlihat sangat agamis dan sangat mudah bergaul. Dan orang ini mendirikan suatu koperasi simpan pinjam yang berdasarkan skema agama (jadi tidak ada konsep bunga). Supaya tidak menyudutkan sebut saja Koperasi Kredit (Kopdit) Mandini Raja (bukan nama sebenarnya). Kopdit ini kabarnya membeli Ruko dan membangun kantornya serta merekrut pegawai. Para pegawainya memakai dasi serta membawa laptop. Keren lah, Kopdit dimiliki orang yang sangat terlihat santun dan agamis serta memiliki kantor yang bagus dan karyawan yang keren-keren. Mereka menawarkan produk simpanan (penghimpunan dana) dengan skema yang sangat keren, yaitu jika menyimpan dana sebesar Rp. 5 juta akan mendapat hadiah langsung TV (produk dari Tiongkok) seharga 750 ribu serta dalam jangka waktu 3 bulan mendapatkan 150 ribu diakhir periode. Ditengah periode mendapatkan bonus bingkisan THR paket jika diuangkan bernilai 100 ribu. Totalnya memberikan 1 juta dalam 3 bulan untuk dana 5 juta (pengembalian 20% dalam 3 bulan). Luar biasa! Janji mereka terbukti bagi orang-orang angkatan awal yang menempatkan dana 5 juta. Semua mendapatkan hasil seperti janjinya. Dan ketika jatuh tempo, banyak yang ditwarkan untuk menempatkan kembali dengan menambah dananya. Karena mereka sudah membuktikan bisa memberikan hasil menggiurkan.

Semakin besar dana ditempatkan, semakin besar hasilnya. Menempatkan dana 50 juta dalam jangka waktu 1 tahun, akan mendapatkan  hadiah langsung 1 buah motor matik baru gres dari dealer. Akan lebih luar biasa kalau menempatkan dana 800 juta dalam waktu 2 tahun akan mendapatkan bonus awal penempatan 1 buah mobil Toyota Avanza gress dari dealer. Luar biasa!!! Entah berapa besar uang akan dijanjikan akan didapatkan jika akhir periode dari uang-uang tersebut jatuh tempo.

Yang lebih luar biasa lagi, ternyata para pegawai kopdit tersebut harus ikut menempatkan dana (sebagai saham?) sebesar 25 juta untuk bisa menjadi pegawainya. Dan mereka mendapatkan target untuk merekrut nasabah-nasabah baru. Sangat hebat pendirinya, mampu merekrut pegawai dalam jumlah relatif banyak.

Mereka ditengarai berhasil mengumpulkan dana milyaran rupiah. Ketika ditanya apakah mereka meminjamkan dana tersebut? Ternyata tidak! Kabarnya mereka menginvestasikan sendiri uang-uang itu melalui usaha si pemilik/pendiri. Kono kabarnya pendirinya memiliki usaha yang banyak di pulau Jawa. Bagi orang berpikiran normal, apakah hal itu mungkin? Bagi mereka yang menempatkan dananya, jawabnya mungkin! Bahkan ada yang percaya bahwa pendirinya memiliki usaha di luar negeri (rumor entah siapa yang menciptakan) bahkan simpanannya di bank Swiss (terkenal dengan private bank-nya) dan usahanya forex (entah siapa yang tahu).

Setelah 1 tahun berjalan mulailah wanprestasi seiring dengan berkurangnya nasabah baru yang ikut bergabung. Panik, rebut dan porak poranda impian para pemilik dana. Beberapa orang melaporkan ke Polsek setempat, yang akhirnya menangkap pemilik kopdit tersebut dan menahannya. Dan akhirnya diketahui bahwa pemilik juga pernah ditangkap oleh polisi di daerah jawa dengan kasus yang sama.

Jadi kalau kita lihat dari kasus ini, orang-orang yang dieksploitasi dan yang mengeksploitasi keserakahan masing-masing. Untuk itu kembalilah kepada yang disebut mantra dalam kehidupan ini “If it’s too good to be true then it’s too good to be true”.

(mulai menulis ini di bulan Juli, eh sudah ada kasus Dimas Kanjeng yang kurang lebih sama)

 

Potret kelas menengah

kelas menengah “ngehek!”

Katanya Indonesia punya banyak kelas menengah dan dalam kurun waktu 10 tahun ada sekitar 93 juta jiwa. Terutama di Jakarta, banyak kelas menengah adalah golongan pekerja yang mempunyai taraf hidup diatas rata-rata penghasilan serta memiliki hobi yang hype seperti jalan-jalan keluar negeri, belanja barang-barang ber-merk dan punya rumah/apartment di cluster yang hype juga. Karena sering jalan-jalan keluar negeri atau bekerja di perusahaan asing (sering berhubungan bisnis dengan perusahaan manca Negara), sering memakai bahasa asing. Untuk itu sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut sampai untuk yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, sudah mulai mengenalkan bahasa tersebut ke generasi penerusnya. Dengan berbagai motif termasuk supaya anaknya lebih siap untuk bersaing dan terbiasa berbicara dengan bahasa asing tersebut. Sampai urusan sekolah juga harus menyekolahkan anaknya di sekolah yang multi language. Sangat kompetitif. Tidak ada yang salah dengan cita-cita mulia orang tua untuk anaknya. Semuanya harus yang terbaik untuk anaknya.

Bahasa Ibu. Ada satu yang dilupakan, bahwa manusia dilahirkan dengan kodrat memiliki bahasa ibu, dimana anak akan berkomunikasi dan berpikir dengan kerangka bahasa ibu tersebut. Bahasa inilah yang dipunyai pertama kali untuk belajar untuk proses selanjutnya. Jadi menurut saya, bahasa ibu itu sangat penting termasuk sebagai salah satu identitas bagi yang bersangkutan. Sebagai orang Indonesia, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan juga identitas Negara. Jadi bahasa menunjukkan bangsa ada benarnya. Tidak ada yang salah dengan mengajarkan bahasa asing sejak kecil, selama Anda tinggal dan hidup dengan bahasa asing itu untuk seterusnya karena bagaimanapun sebagai warga Negara harus memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa yang diakui oleh negaranya. Banyak kelas menengah yang lupa bahwa mereka dulu juga belajar bahasa asing setelah menguasai bahasa negaranya. Jadi belajar bahasa asing bisa dilakukan setelah anak mempunyai bahasa ibu.

Outsourced nation. Sebagai kelas menengah sering sibuk mengejar karir demi mempersiapkan masa depan anak atau generasi penerusnya. Mempersiapkan dana untuk memberikan yang terbaiknya tetapi lupa dengan menyerahkan pendidikan dan pendampingan anaknya di-outsource ke pihak ketiga (suster/mbak) tanpa memberikan perhatian lagi. Semua diserahkan sebagaimana menyerahkan pendidikan kepada sekolah internasional yang mahal dan bergengsi serta multi language. Ini bukan generalisasi (steretotif) hanya  potret (snapshot). Semoga kita dijauhkan dari kondisi seperti diatas dan memberikan perhatian kepada generasi penerus kita.

Dangdut Elektronika

Dangdut is the music of my country” -project pop

Realita yang tidak dapat dipungkiri, dangdut adalah pemersatu bangsa. Diacara kampanye, syukuran atau acara pengumpulan masa lainnya. Dangdut adalah pemersatunya, semua berbaur mau bergoyang.

Duo kreatif asal Jogja menamakan diri Libertaria, beranggotakan Kill The DJ dan Balance, merilis album baru mereka dengan aliran dangdut elektronika. Yang menarik adalah tema lagu-lagu yang diangkat sangat relevan dengan tren sekarang dari digital (ojek/taksi online, citra/image) sampai masalah sosial (politisi serta realita kemiskinan). Kreatif sekali mereka dan lirik yang dipilih tidak lah vulgar (seperti campursari) tapi lebih cenderung cerdas dan kekinian.

Yang menarik bagi saya adalah lagu D.N.A (Dangdut Nang jero Ati – dangdut didalam hati) sangat relevan dengan digital era sekarang ini.

Dulu minyak tanah, sekarang elpiji // Naik ojek taksi pakai aplikasi // Perubahan jaman tak bisa dihindari // Tapi musik Dangdut tak kan pernah terganti! …” D.N.A by Libertaria Music.

Kewer-Kewer
List lagu Libertaria Music

Silakan download secara gratis di libertaria.id

Hidup Dangdut!

Belajarlah dari #FinTech

Beruntung bekerja di bank dimana budaya belajar diatur dalam sebuah peraturan bank Indonesia. Merupakan kewajiban bagi institusi untuk terus memberikan pelatihan dan pengembangan kepada karyawannya sehingga wawasannya menjadi lebih luas dan dapat bekerja dengan baik. Dengan adanya kewajiban ini, maka bank kami setiap tahun membuat event yang namanya Learning Week kemudian namanya menjadi Learning Fair merupakan acara belajar selama seminggu penuh (diluar jam kerja) dengan mengambil tema yang sedang tren yang tentunya ada hubungannya dengan pekerjaan (finansial institusi) dan juga pengembangan diri (termasuk hobi). Learning Fair tahun ini mengambil tema Digital seiring dengan visi institusi kami untuk melakukan transformasi menjadi digital.

#FinTech Sesuai dengan tema digital dan juga tren yang ada sekarang berupa e-commerce, fintech dan community empowerment. Supaya sesuai dengan tema dan juga seiring dengan visi institusi, maka dipilihlah tema financial technology (#fintech). Dikarenakan secara bank kita memberikan pelayanan personal loan, investment dan juga transaction service ke nasabah maka kami belajar dari pinjam.co.id, bareksa.com serta dompetku. Selain itu kami juga belajar dari wujudkan.com (crowdfunding) yang merupakan bagian dari community empowerment. Cukup menarik mendengarkan pengalaman dari para founder/co-founder serta group head product-nya (utk dompetku). Bagaimana mereka mempunyai cita-cita mulia untuk berkontribusi membantu UKM dan juga memajukan industri digital di tanah air tercinta.

Pinjam.co.id adalah #fintech yang memberikan pelayanan pinjaman kepada nasabah dengan jaminan yang dimiliki (emas atau bpkb) semua lewat website. Seperti diketahui banyak orang akan malu utk “menyekolahkan” asetnya untuk mendapatkan pinjaman. Dengan adanya media digital memungkinkan mereka melalukan itu tanpa diketahui orang. Fokus pada pelayanan dengan kecepatan dan juga dalam penjemputan data serta kolateral asetnya. Mereka mengambil celah antara bank dan pegadaian. Dengan menyasar segmen UKM dengan memberikan fasilitas pinjaman yang lebih cepat.

Bareksa.com adalah portal investasi yang juga fokus pada edukasi. Menurut mereka Indonesia masih harus lebih banyak edukasi sambil memberikan layanan investasi lewat mereka sebagai supermarket reksadana.

Dompetku+ adalah e-wallet yang dikembangkan sebagai aplikasi Over The Top (OTT) sehingga memungkinkan pengguna telko lain register dompetku+

Wujudkan.com adalah crowdfunding service yang membuka pekerja kreatif dapat mewujudkan ide mereka dari donasi yang dikumpulkan secara transparan dari penggunaannya serta pertanggung-jawabannya.

Terus belajar. Semangat terus belajar adalah yang melandasi untuk belajar dari (calon) kompetitor kita. Belajar bagaimana mereka akan “mencuri” bisnis kita sehingga kita bisa mempersiapkan diri kita dikemudian hari untuk “melawan” mereka atau bekerja bersama mereka. Belajar dari analogi air dan beton. Dibanyak presentasi, orang sering mengasosiasikan bank dengan gedung yang kokoh kuat dari beton, sedangkan #fintech adalah air yang terlihat lemah dibanding beton, yang terus menerus menetesi dinding beton. Sadar atau tidak sadar, air itu akan mengikis beton bahkan bisa melubangi atau menghancurkan. Untuk itu perlu kita belajar dari kompetitor sebelum benar-benar menjadi kompetitor sehingga “beton” kita manjadi aman.