Suatu masa ketika doa menjadi sulit diucapkan, tetapi lagu mengungkapkannya untuk kita.
Hidup itu naik dan turun. Ada satu perumpamaan yang mengatakan “hidup itu seperti roda”, kadang posisinya di atas kadang menjadi di bawah. Hal ini seperti roda yang berputar, demikianlah hidup (manusia) kadang di posisi naik, kadang posisi turun. Ada kalanya terasa datar dan stagnan. Pada posisi di atas (yang biasanya ditandai dengan happy/gembira/senang), kita sering mengungkapkannya dengan bersyukur, merayakan dengan kebahagiaan. Ketika di bawah, posisi yang sulit, rencana tidak ada yang sesuai harapan, lebih sering kita sedih dan berharap (membaik) sambil mengungkapkan doa. Kita merasa seperti Tuhan itu jauh, kita harus mendekat dengan terus mendaraskan doa-doa kita. Ada kalanya dimana kita merasa keadaan tidak juga membaik, dan mungkin kita merasa semua yang dilakukan sia-sia, kita makin terus terpuruk. Hal ini akan berimbas pada cara kita berdoa, kadang kita akhirnya merasa doa itu begitu sulit diucapkan. Kata-kata seperti habis seiring dengan kondisi hidup kita. Kondisi hati kita ditarik oleh kondisi hidup sehingga makin tidak menentu.
Kebuntuan, dilancarkan. Dalam kondisi hati yang tidak menentu, hidup seolah tidak berarah, dan doa tidak bisa lagi diucapkan dengan hati, pertolongan seperti tidak ada yang mendekat, semua seperti menjauh. Dalam kondisi yang bising seperti itu, kadang ada suasana hening yang justru tiba-tiba muncul. Keheningan itu bisa muncul dari sepenggal lirik yang masuk ke telinga kita. Potongan kisah dari sebuah lagu yang terdengar dan dengan penggalan itu justru hati kita seperti ditenangkan. Kisah lagu itu begitu menggambarkan suasana kita, dan beberapa liriknya menjelma seperti doa yang akan kita ungkapan. Itulah keajaiban kecil yang kita alami, tapi kita sering mengingkarinya sebagai kebetulan saja. Hal itulah yang sebenernya awal kebuntuan mulai dilancarkan. Tidak semua keheningan itu berarti Tuhan menjauh. Ada kalanya, kita sedang diminta untuk berhenti dan merasakan kasih karunia Tuhan apapun kondisinya.
Lagu itu sangat spesial. Setiap lagu memiliki cerita dari penciptanya. Lagu bercerita tentang sesuatu yang seperti biasa, tetapi bisa menjadi sangat personal bagi pendengarnya. Seperti biasa, kita coba rumuskan:
kata + melodi + pengalaman pribadi = makna baru
Rangkaian kata yang ada dalam syair lagu, ditambahkan melodi dari penciptanya; ketika didengarkan oleh orang yang mempunyai pengalaman pribadi, ini dapat menjadikan makna baru bagi pendengarnya. Inilah mengapa, kadang sewaktu kita mendengarkan lagu, mendapatkan “aha moment” yaitu “Ini yang sebenarnya ingin kukatakan kepada Tuhan.” Lagu itu menjelma menjadi Doa paling tulus dari hati kita. Kita menggunakan kata-kata orang lain untuk mengatakan sesuatu yang sangat pribadi.
Lagu itu milik orang lain.
Suaranya milik orang lain.
Kisah di baliknya mungkin bukan kisah kita.
Tetapi ketika kita mendengarnya dalam situasi tertentu, lagu itu berubah menjadi sesuatu yang personal.
Sebab doa tidak selalu dimulai ketika kita menemukan kata-kata. Kadang doa dimulai ketika kita akhirnya berani datang tanpa kata-kata.
“Qui cantat, bis orat” *
referensi:*Latin expression that translates to “he who sings, prays twice.“https://en.wikipedia.org/wiki/He_who_sings,_prays_twice