Ada masa ketika doa tidak lagi keluar sebagai kalimat. Sepertinya Tuhan memang menyediakan lagu untuk menggantikan kata-kata yang tidak sanggup kita ucapkan.
Tidak mampu berdoa. Terkadang ketika seseorang sedang menghadapi kehilangan, sakit, kegagalan, atau kecemasan; akan sulit mengucapkan doa karena lidah yang kelu sekelu perasaan hatinya. Akan tetapi adakalanya dia masih mampu bersendandung. Memang ajaib hati manusia, di tengah kegalauan dia masih tetap bisa merespon melodi yang menyentuhnya.
Melihat fenomena di musik dangdut. Coba perhatikan bagaimana fenomena lagu dangdut. Terkadang ada lagu dengan tema cerita yang amat sedih sampai ambyar tetapi penyanyinya tetap bergoyang dan juga pendengarnya terkadang ikut. Jadi, melodi itu memberi rasa yang berbeda pada sebuah cerita.
Emosi tidak muat dalam kalimat. Beberapa kasus ada perasaan atau emosi yang tidak muat untuk diungkapkan dalam sebuah kalimat. Begitu nada membentuk rangkaian melodi dan melingkupi kata-kata/syair itu, muncullah perasaan yang diinginkan. Ajaib? Memang begitulah yang terjadi.
Tradisi dalam Iman. Mari kita tengok tradisi iman. Kita mengenal suatu syair yang dinyanyikan untuk memuji sang Pencipta, dalam kasus ini disebut Kidung. Lebih khusus, jika syair-syair itu bersumber dari kitab Mazmur maka dia disebut Mazmur. Mari kita coba lihat dalam Ritus Keagamaan, dalam hal ini Perayaan Ekaristi atau Misa Kudus, kenapa ada nyanyian? Karena nyanyian itu merupakan dari bagian dari Doa untuk memuji Allah. Mungkin untuk Ritual Agama lain ada padanannya tapi saya tidak punya kapasitas membahas hal tersebut.
Ketika Lagu Menjadi Penopang Iman. Bagian paling personal dari pengalaman Iman masing-masing pribadi, banyak orang bertahan bukan karena menemukan jawaban, melainkan karena ada satu lagu yang terus mereka nyanyikan.
Kadang Tuhan menitipkan jawaban atas masalah kita melalui sebuah lagu yang terus kita nyanyikan, bahkan ketika kita sudah tidak sanggup mengucap doa.