Menanti Kuasa Gelap: Perjanjian Darah

Riset kecil secara pribadi dari sesuatu yang (ternyata) besar.

sumber gambar: https://paragonpictures.id/wp-content/uploads/2026/09/Untitled-September-09-2026-at-22.08.13-5-THUMBNAIL-KGPD-YOUTUBE.png Copyright (C) Pargon Pictures, 2026

Bulan Oktober nanti (8 Oktober 2026), layar bioskop Indonesia kedatangan tamu baru, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Saya melihat kabar soal poster dan trailernya lewat lini masa, dan entah kenapa rasa penasaran saya jauh lebih besar setelah bulan lalu sangat heboh di YouTube mengenai pesugihan. Pertentangan dari para netizen dan YouTuber sangat beragam, dari yang mengomentari tempat ritual, jenisnya, dugaan orang-orangnya dan macam-macam. Perbedaan pandangan adalah hak netizen di zaman sekarang ini.

DISCLAIMER. Saya bukan bagian dari tim produksi film ini. Bukan tim penulis naskah, bukan tim promosi, dan tidak menerima apa pun dari siapa pun untuk menulis artikel ini. Tulisan ini murni lahir dari rasa ingin tahu seorang penonton biasa, yang kebetulan senang menelusuri titik temu antara iman, akal sehat, dan budaya kita sendiri. Saya juga sampai saat ini, tidak ada ada hubungan dengan channel YouTube yang membahas hal terkait pesugihan. Karena agama saya adalah Katolik, jadi artikel ini akan juga menggunakan sudut pandang Agama Katolik. Saya tidak mewakili Gereja atau yang terkait dengannya, saya memakai sudut padang Iman Katolik karena hanya ini yang membuat saya merasa tenang menuliskan karena saya mengimaninya; dan juga karena pengalaman saya ini. Untuk Agama dan Kepercayaan lain silakan merujuk kepada sumber yang resmi dan artikel ini bukan bermaksud untuk membandingkan atau semacamnya.

Rasa penasaran itu yang akhirnya membawa saya melakukan riset kecil-kecilan sendiri. Bukan untuk mengulas filmnya, saya bahkan belum menontonnya karena belum rilis, tapi untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih tua dari film ini. Kenapa kepercayaan pada pesugihan tidak pernah benar-benar hilang, bahkan di zaman kita sudah bicara soal kecerdasan buatan dan investasi kripto?

Jawaban pertama datang dari psikologi. Ada teori lama bernama learned helplessness, tentang bagaimana orang yang berulang kali gagal secara ekonomi lama-lama merasa kendali atas hidupnya sudah lepas, lalu memindahkan harapan itu ke kekuatan di luar dirinya. Ada juga yang disebut ilusi kendali, keyakinan bahwa sebuah ritual bisa “melakukan sesuatu” terhadap nasib, padahal secara nalar tidak ada hubungan sebab akibat sama sekali di situ. Masuk akal, kalau di tengah tekanan hidup yang berat, jalan pintas gaib terasa seperti jalan keluar yang paling mungkin.

Jawaban kedua datang dari berita, bukan dari legenda. Saya menelusuri kasus-kasus yang benar-benar tercatat, ritual di Gunung Kemukus yang sempat ditertibkan pemerintah Jawa Tengah, situs di Gunung Kawi yang sekarang malah dibingkai ulang sebagai wisata religi, sampai heboh babi ngepet di Depok yang ternyata rekayasa manusia biasa. Yang paling menyayat justru kasus pembunuhan berantai di Bekasi dan Cianjur, tempat kriminolog menduga ada motif pesugihan di baliknya. Fenomena ini nyata, bukan sekadar mitos, tapi kenyataannya lebih sering soal manusia dan keputusasaan daripada soal kekuatan gaib itu sendiri.

Jawaban ketiga, yang paling saya pegang, datang dari iman. Ajaran Gereja Katolik sebenarnya sederhana soal ini. Hanya Allah yang mencipta dari ketiadaan. Setan, sehebat apa pun dianggap orang, tetaplah makhluk, bukan pencipta. Maka apa pun “kekayaan” yang ditawarkan lewat jalan gelap, sifatnya cuma memindahkan, bukan menciptakan. Tidak ada yang benar-benar gratis di situ. Selalu ada yang dikorbankan, entah waktu, hubungan, atau bahkan orang lain.

Jadi sambil menunggu Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tayang 8 Oktober 2026 nanti, saya memilih menunggu dengan cara yang berbeda, dengan pertanyaan yang lebih jujur, kekuatan apa yang sebenarnya memang layak dan pantas kita andalkan sebagai seorang beriman hari ini?

Karena pada akhirnya, jalan pintas yang paling berbahaya bukanlah yang menuju kekayaan, melainkan yang menuju kelalaian untuk terus bertanya.

Catatan: bagi yang tertarik membaca hasil riset kecil-kecilan saya, silakan kirim e-mail ke info@albertushendro.com