Hati-hati (jangan) Iri Hati

Semakin sering kita membandingkan diri dengan orang lain, semakin sulit kita menghitung berkat yang sudah ada di tangan kita sendiri.

Sifat Manusia. Ada satu sifat manusia yang aneh. Semakin banyak yang dimiliki, belum tentu semakin puas. Kadang justru semakin gelisah.

Penyebabnya bukan karena kekurangan. Penyebabnya adalah perbandingan.

Di zaman media sosial, ketika semua orang menampilkan dirinya dari kata-kata sampai cerita seribu kata berupa posting instagram, lalu tanpa sadar muncul pertanyaan di benaknya:

“Mengapa saya belum?”

“Mengapa hidup saya tidak seperti itu?”

Karena hal itu muncul formula:

Iri = Kemampuan Orang ÷ Kemampuan Saya

Ini hanya cara sederhana untuk memahami apa yang terjadi di hati manusia.

[menurut kbbi: merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya); cemburu; sirik; dengki:]

Ketika mulai membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang dimana kemampuan orang itu luasnya tak terbatas.

Kemampuan kita kalau memang belum mampu atau memiliki maka nilainya mendekati nol.

Nah kalau sampai membandingkan terus kita nilainya nol, hasilnya bisa tak terdefinisikan atau tak terhingga.

Ketika kita melihat kemampuan, keberhasilan, atau pencapaian orang lain, kita mulai membaginya dengan ukuran diri kita sendiri.

Selama kita masih mengenal kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita, hasilnya mungkin masih masuk akal. Kita bisa mengagumi tanpa harus iri.

Tetapi masalah muncul ketika penyebutnya mendekati nol.

Saat kita lupa bahwa Tuhan juga menitipkan talenta kepada kita.

Saat itulah rasa iri mulai membesar.

Dalam matematika, angka berapa pun yang dibagi dengan angka yang mendekati nol akan menghasilkan nilai yang sangat besar. Bahkan ketika penyebutnya benar-benar nol, hasilnya tidak terdefinisi. Seolah-olah nilainya melonjak ke tak berhingga.

Begitulah iri hati. Bagaimana mereduksi ini? Karena sumber iri hati bukanlah apa yang dimiliki orang lain. Sumber iri hati adalah penyebut yang terus mengecil di dalam diri kita. Iri hati membuat mata kita hanya melihat apa yang belum ada. Syukur membuat mata kita melihat apa yang sudah ada.

Kurangi iri hati. Mungkin cara mengurangi iri hati bukan dengan mengecilkan keberhasilan orang lain. Melainkan dengan memperbesar penyebutnya. Mengingat kembali talenta yang Tuhan berikan. Menghitung berkat yang sudah diterima.

Menyadari bahwa perjalanan hidup setiap orang berbeda. Karena ketika rasa syukur bertumbuh, penyebut itu tidak lagi nol. Dan ketika penyebutnya tidak lagi nol, iri hati kehilangan kekuatannya untuk menjadi tak berhingga.

Iri hati lahir ketika kita menghitung berkat orang lain. Syukur lahir ketika kita mulai menghitung berkat kita sendiri.