Dalam hidup, kita sering baru memahami sebuah titik penting setelah kita melewatinya.
Konsep turunan dalam matematika. Ketika masih sekolah, saya sering bertanya-tanya untuk apa belajar turunan.
Mengapa harus mencari nilai ketika f'(x) = 0?
Mengapa harus repot mencari titik maksimum dan minimum? Biasanya kita akan fokus pada hasil akhirnya, berapa nilai sebuah fungsi, bukan begitu?
Hidup adalah sebuah fungsi. Bertahun-tahun kemudian, saya justru menemukan bahwa konsep itu jauh lebih dekat dengan kehidupan daripada yang saya kira. Bayangkan hidup kita adalah sebuah fungsi.
Hari ini ada nilainya. Besok ada nilainya. Minggu depan ada nilainya. Sepuluh tahun lagi juga ada nilainya.
Masalahnya, ketika sedang berada pada sebuah titik, kita tidak pernah tahu grafik besar yang sedang dibentuk.
Saat mendapat promosi, kita mengira grafik akan terus naik. Saat kehilangan sesuatu yang berarti, kita mengira grafik akan terus turun. Saat doa belum terjawab, kita mengira hidup sedang berhenti. Padahal kita hanya melihat satu titik.
Kita belum melihat seluruh kurva. Kita harus zoom out dari titik-titik yang tadi ada nilainya untuk melihat bentuk kurvanya. Dalam matematika, ada yang disebut titik ekstrim, yaitu sebuah titik ketika sebuah fungsi mencapai puncak atau lembah sebelum arahnya berubah.
Menariknya, titik ekstrim memiliki satu ciri khas:
Turunan pertama bernilai nol.
Secara sederhana, laju perubahannya berhenti sejenak. Grafik yang tadinya naik menjadi datar. Grafik yang tadinya turun menjadi datar.
Ada sebuah momen hening sebelum arah berubah.
Dalam kehidupan rohani pun berlaku. Saya merasa kehidupan rohani sering bekerja seperti itu. Kita mengira titik penting hidup terjadi saat semuanya bergerak cepat. Padahal seringkali justru terjadi ketika segala sesuatu terasa diam.
Saat kita kehilangan yang sangat berarti. Saat doa terasa tidak dijawab. Saat rencana hidup mendadak berhenti. Kita merasa tidak sedang ke mana-mana.
Tidak naik. Tidak turun. Hanya diam.
Namun dalam bahasa matematika, bisa jadi kita sedang berada di titik ekstrim. Titik ketika Tuhan sedang mengubah arah grafik kehidupan kita.
Masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa mengenali titik ekstrim ketika sedang berdiri tepat di atasnya. Kita baru menyadarinya setelah melihat rangkaian titik yang sudah dilalui. Barulah kita berkata:
“Oh, ternyata kehilangan yang itu, membawa saya untuk mendapatkan yang yang ini, lebih baru.”
“Oh, ternyata kegagalan itu yang mempertemukan saya dengan orang-orang yang tepat.”
“Oh, ternyata masa menunggu itu yang membentuk karakter saya.”
Grafik baru bisa dibaca setelah beberapa titik terhubung. Bukan saat kita sedang berada di salah satu titiknya. Mungkin karena itulah hidup mengajarkan kita untuk sesekali berhenti.
Diam.
Melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui. Memplot titik-titik yang pernah terjadi. Bukan untuk menyesali masa lalu, melainkan untuk menemukan pola yang selama ini tidak terlihat.
Karena tanpa melihat grafik secara utuh, kita tidak pernah tahu apakah hari ini adalah titik biasa. Atau justru titik ekstrim yang akan mengubah seluruh arah hidup kita. Dan mungkin iman adalah keberanian untuk tetap percaya kepada Sang Pembuat Grafik, bahkan ketika kita belum bisa melihat bentuk kurva yang sedang digambar-Nya.
Ketika hidup terasa diam, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa tidak ada yang terjadi. Dalam matematika maupun dalam iman, titik perubahan terbesar sering dimulai ketika turunan itu menjadi nol.