Ada masa-masa ketika hidup terasa seperti lingkaran.
Siklus harian hidup. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur. Besok mengulang lagi. Berdoa hal yang sama. Menghadapi masalah yang sama. Bergumul dengan kelemahan yang sama. Tidak sedikit orang akhirnya bertanya: apakah saya sedang berjalan maju, atau sebenarnya hanya berputar-putar di tempat?
Inspirasi Rosario. Pertanyaan itu muncul juga ketika orang melihat Rosario. Salam Maria diulang berkali-kali. Bapa Kami kembali diucapkan. Kemuliaan pun demikian. Dari luar, Rosario bisa tampak seperti doa yang terus mengulang kalimat yang sama. Tetapi mungkin kita perlu melihatnya dari sudut yang berbeda.
Titik berulang, lihat polanya. Jika kita hanya melihat satu titik, kita tidak akan memahami polanya. Sebuah titik hanyalah sebuah titik. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Namun ketika titik-titik itu mulai digambar dalam sebuah grafik, kita mulai melihat sesuatu. Ada arah. Ada bentuk. Ada kecenderungan. Ada makna. Titik yang tampak sama ternyata tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar.
Refleksi Iman dalam Rosario. Kalimatnya mungkin sama, tetapi orang yang mengucapkannya tidak pernah benar-benar sama. Hari ini kita mengucapkannya dengan hati yang penuh syukur. Besok dengan hati yang lelah. Minggu depan dengan hati yang bingung. Tahun depan dengan hati yang sudah lebih matang karena pengalaman hidup. Kata-katanya tetap, tetapi jiwa yang mengucapkannya terus berubah. Karena itu Rosario bukan sekadar pengulangan kata. Rosario adalah perjalanan hati yang direkam melalui pengulangan.
Seperti seorang pelari yang mengitari lintasan stadion berkali-kali.
Dari luar, ia tampak melewati titik yang sama.
Tetapi sebenarnya tidak.
Setiap putaran membuat tubuhnya lebih kuat.
Setiap putaran menambah daya tahannya.
Setiap putaran membawanya lebih dekat kepada tujuan.
Begitu pula dengan Rosario.
Butir demi butir bukanlah tanda kita terjebak di tempat yang sama. Justru ia menjadi penanda bahwa kita sedang berjalan bersama Tuhan, meskipun langkahnya mungkin tidak selalu terlihat.
Barangkali itulah mengapa banyak orang kudus mencintai Rosario.
Mereka menemukan bahwa Tuhan sering bekerja bukan melalui peristiwa-peristiwa besar yang spektakuler, melainkan melalui kesetiaan pada hal-hal yang sederhana dan berulang.
Sama seperti hujan yang jatuh setetes demi setetes.
Sama seperti ombak yang datang berulang kali ke pantai.
Sama seperti detak jantung yang tidak pernah berhenti mengulang iramanya.
Pengulangan bukan musuh pertumbuhan.
Kadang justru di dalam pengulangan itulah pertumbuhan terjadi.
Rosario mengingatkan kita bahwa hidup rohani tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Sering kali ia bergerak seperti lingkaran yang perlahan naik ke atas, seperti tangga spiral.
Kita merasa kembali ke titik yang sama.
Padahal sebenarnya kita sudah berada pada ketinggian yang berbeda.
Dan mungkin, ketika suatu hari kita melihat kembali seluruh perjalanan hidup kita, kita akan menyadari bahwa semua titik yang berulang itu ternyata sedang digambar Tuhan menjadi sebuah pola yang indah.
Masalahnya bukan karena hidup kita terlalu banyak pengulangan, kita hanya belum cukup jauh untuk melihat gambar besar yang sedang dibentuk oleh titik-titik itu.
Selamat memperingati Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.
