Ketika Tuhan tidak pernah terlambat, hanya kita yang belum melihat seluruh waktunya.
Jam dan harapan. Setiap manusia memiliki jam, tentu sesuai dengan kondisinya masing-masing.
Ada jam bangun. Jam sekolah/kuliah. Jam bekerja. Jam meeting. Jam makan. Jam tidur.
Di sisi lain, kita juga punya jam harapan.
Saya ingin ini terjadi sekarang. Saya ingin jawaban sekarang.
Saya ingin doa ini dikabulkan sekarang.
Saya sudah berusaha. Mengapa hasilnya belum datang?
Dan ini adalah pertanyaan yang sering kita lontarkan:
“Mengapa Tuhan terlambat?”
Einstein sudah lebih dulu menunjukkan. Ia telah menunjukkan sesuatu yang pada zamannya sangat mengguncang pemahaman tentang waktu:
waktu tidak selalu diukur sama oleh semua pengamat.
Dalam kondisi gerak relatif, dua pengamat dapat memperoleh pengukuran selang waktu yang berbeda. Fenomena ini disebut time dilation.
Kita sering mengira waktu adalah sesuatu yang mutlak. Einstein menunjukkan bahwa waktu berkaitan dengan siapa yang mengamati dan dari kerangka acuan mana ia mengamati.
Kita sering menilai kehidupan dari jam kita sendiri.
Hari ini gagal → saya merasa semuanya gagal.
Usaha belum menghasilkan → saya merasa usaha saya sia-sia.
Doa belum terkabul → saya merasa Tuhan diam.
Padahal kita hanya melihat satu titik pada garis waktu. Seperti kita berfokus melihat satu titik pada grafik kehidupan tanpa melihat keseluruhan kurvanya. Ketika kita berada di satu titik, Tuhan pasti melihat seluruh perjalanan kita.
Doa + Usaha + Harapan. Dalam Teori Relativitas mengingatkan saya bahwa bahkan dalam dunia fisika saja, waktu tidak sesederhana yang saya kira. Maka dalam iman, saya belajar untuk tidak menjadikan jam saya sebagai satu-satunya ukuran bagi karya Tuhan. Kita tidak pernah diminta mengetahui kapan semuanya akan terjadi. Kita hanya diminta setia menjalani bagian hari ini. Kita ingin melihat titik akhir, tetapi Tuhan mengajak kita menjalani titik demi titik. Terkadang, ketika titik titik itu berbaris rapi, baru kita sadar bahwa Tuhan sedang memanggil.
Kalau hari ini belum terjadi, berdoalah.
Kalau masih ada yang bisa dikerjakan, berusahalah.
Kalau hasilnya belum terlihat, berharaplah.
Kita melihat waktu dari satu titik. Tuhan melihat perjalanan yang utuh. Waktu Tuhan selalu yang terbaik.
