Lima Titik, Lima Lagu

Tentang lima lagu, sebuah keputusan kecil, dan satu pertanyaan yang belum sepenuhnya selesai.

Ada yang perlu saya akui sebelum album Titik yang Berulang terbit tanggal 10 Oktober nanti.

Lima lagu di dalamnya tidak saya nyanyikan sendiri. Vokal dan aransemennya dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Liriknya saya tulis sendiri, kata demi kata. Tapi suara yang Anda dengar nanti bukan suara saya.

Saya ingin menjelaskan kenapa. Bukan untuk membela diri, tapi karena menurut saya Anda berhak tahu sebelum menekan tombol putar.

Saya tahu batas. Saya bisa menulis, dan itu yang saya lakukan di blog ini bertahun-tahun. Tapi bernyanyi di tingkat album adalah keterampilan yang lain sama sekali, dan saya tidak memilikinya. Bisa saja saya memaksakan diri, merekam berulang kali, lalu menghasilkan sesuatu yang membuat pendengar sibuk memaafkan suaranya sampai lupa mendengarkan kata-katanya. Kalau begitu, untuk apa lagunya dibuat?

Lagu-lagu ini tidak lahir sebagai lagu. Mereka lahir dari naskah buku yang sedang saya tulis. Saat membaca ulang, beberapa bagian ternyata tidak terdengar seperti catatan. Ada iramanya, ada yang terus berulang, dan kalimat-kalimatnya seperti minta dinyanyikan. Saya punya kata-katanya. Saya tidak punya suaranya.

Lalu datang pertanyaan yang lebih sulit. Apakah sebuah doa masih doa kalau yang menyanyikannya bukan pita suara kita sendiri? Pertanyaan ini cukup lama saya timbang. Jujur saja, sempat membuat saya ragu untuk melanjutkan.

Yang akhirnya saya pegang. Selama saya berdoa dengan lagu yang ditulis dan dinyanyikan orang lain, saya memutarnya di perjalanan, di dapur, di pagi hari sebelum bacaan harian, dan meminjam liriknya untuk menyuarakan apa yang belum sanggup saya ucapkan sendiri. Doa itu tetap sampai. Tidak pernah ada yang mempersoalkan bahwa suaranya bukan suara saya.

Kali ini kebalikannya. Kata-katanya milik saya, suaranya yang dipinjam. Bagi saya, yang menentukan sebuah doa bukan siapa yang menyuarakannya, melainkan dari mana kata-katanya berasal.

Saya juga tidak menutup mata. Musik buatan AI masih diperdebatkan, dan sebagian keberatannya masuk akal. Ada musisi yang hidup dari suara dan keterampilan mereka, dan teknologi ini menyentuh ruang itu. Saya tidak punya jawaban yang rapi untuk semuanya. Saya bisa saja mengajak seorang penyanyi, dan mungkin suatu hari akan saya lakukan. Tapi untuk proyek sekecil dan sepribadi ini, pilihan yang realistis bagi saya hanya dua: lima lagu dengan bantuan AI, atau tidak ada lagu sama sekali.

Kenapa saya menuliskannya terbuka. Buku yang melatari album ini, sejak halaman pertama, berbicara tentang kejujuran. Rasanya aneh kalau justru di bagian ini saya menyembunyikan sesuatu. Karena itu juga saya memberinya nama sendiri, Reditus Wening. Itu bukan nama seorang penyanyi, melainkan nama proyek ini. Tulisan ini tempat saya menjelaskannya lebih panjang, sekali saja.

Album Titik yang Berulang bisa didengarkan mulai 10 Oktober 2026 di platform musik digital favorit anda. Silakan akses ini untuk informasi lebih lanjut.

Suaranya boleh dipinjam. Doanya tetap milik saya.

Unknown's avatar

Author: albertushendro

Belajar bersyukur dan berlari di pagi hari :)

Leave a comment