Sesuatu yang terus muncul, dan awalnya tidak kita anggap penting.
Repetisi hal kecil. Ada hal-hal kecil yang terjadi berkali-kali dalam hidup, tapi karena ukurannya kecil, kita jarang berhenti untuk memperhatikannya. Sebuah kebiasaan yang diulang. Sebuah dorongan yang muncul lagi padahal sudah pernah diabaikan. Sebuah momen hening yang terasa familiar, entah kenapa.
Satu titik seperti itu, kalau berdiri sendiri, memang tidak terlihat seperti apa-apa. Judul Titik yang Berulang lahir dari situ, dari titik-titik kecil semacam itu, yang pada akhirnya saya sadari tidak sedang berdiri sendiri.
Titik baru terlihat artinya kalau dilihat cukup lama. Satu titik hanya titik. Tapi kalau titik yang sama terus muncul, dalam bentuk yang berbeda-beda, lama-lama ada pola yang kelihatan. Bukan pola yang kita buat sendiri, melainkan pola yang baru terlihat setelah kita berhenti sejenak dan menengok ke belakang.
Itu sebabnya judulnya bukan “Titik-Titik”, tapi “Titik yang Berulang”. Ada penekanan pada pengulangannya, karena di situlah makna sebenarnya baru muncul. Bukan pada satu kejadian, tapi pada hal yang terus kembali.
Kenapa ini jadi judul buku sekaligus album?
Waktu menulis buku ini, saya baru sadar belakangan bahwa titik-titik itu sebenarnya sudah lama ada, jauh sebelum saya mulai menulis. Menulis hanya membantu saya melihatnya lebih jelas.
Begitu buku itu selesai, ternyata ceritanya belum berhenti. Ada bagian yang terus terngiang, bukan sebagai kalimat, tapi sebagai nada. Dari situ lahir album dengan judul yang sama, karena keduanya memang bicara tentang hal yang sama, hanya lewat bentuk yang berbeda.
Kenapa ini relevan untuk siapa saja?
Saya kira banyak orang punya titik-titiknya sendiri. Sesuatu yang terus muncul dalam hidupnya, yang kalau diabaikan terus bisa saja terlewat begitu saja, padahal sedang membentuk sesuatu yang lebih besar.
Minggu ini saya akan membagikan beberapa tulisan yang mengikuti titik-titik itu, dari benda kecil yang jadi simbolnya, sampai lagu-lagu yang lahir darinya. Semua berangkat dari pertanyaan yang sama.
Kapan sebuah titik berhenti jadi kebetulan, dan mulai terlihat sebagai panggilan?
