Kita terlalu mudah mengatakan sesuatu itu jelek.
Judgemental. Buku yang tidak menarik bagi kita. Musik yang terasa berisik. Lukisan yang sulit dipahami. Film yang membuat kita mengernyitkan dahi. Bahkan makanan yang tidak cocok di lidah kita.
Lalu, dengan enteng, kita memberi satu kata: jelek.
Padahal, setiap karya punya ceritanya sendiri.
Proses yang memakan waktu. Ada waktu yang dicurahkan, proses yang dilalui, passion yang dijaga, cinta yang ditanamkan, dan nilai yang ingin disampaikan. Semua itu mengkristal menjadi sesuatu yang bisa kita nikmati, lihat, dengar, baca, atau rasakan.
Buku, musik, lukisan, film, hingga sepiring makanan. Masing-masing lahir dari proses penciptaan yang tidak selalu kita ketahui.
Mungkin kita tidak menyukai hasilnya. Tetapi, apakah ketidaksukaan kita otomatis membuat karya itu jelek?
Belum tentu.
Bisa jadi kita tidak memahami pesannya. Bisa jadi pengalaman kita berbeda. Atau, sesederhana itu, selera kita memang tidak sama.
Dan itu tidak apa-apa.
Kita tidak harus menyukai semua hal. Tidak semua musik harus masuk ke daftar putar kita. Tidak semua buku harus ada di rak kita. Tidak semua makanan harus cocok dengan lidah kita.
Namun, ada perbedaan antara tidak menyukai dan merendahkan.
Kita boleh punya penilaian. Kita boleh memberikan kritik. Bahkan, kita boleh mengatakan bahwa sebuah karya belum berhasil mencapai tujuannya. Tetapi, bukankah lebih bijaksana jika kita memahami terlebih dahulu sebelum menjatuhkan penilaian?
Sebab, di balik sesuatu yang tidak kita sukai, mungkin ada orang yang mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang bermakna.
Jadi, lain kali ketika kita menemukan karya yang terasa aneh, tidak menarik, atau tidak sesuai dengan selera kita, cobalah mengganti satu kalimat.
Bukan, “Karya ini jelek.”
Melainkan,
“Karya ini belum sesuai dengan selera saya.”
Sederhana, bukan?
Kita tidak kehilangan hak untuk berbeda pendapat. Kita hanya belajar menempatkan selera pribadi pada tempatnya.
Tidak semua yang tidak kita sukai itu jelek. Bisa jadi, kita saja yang bukan audiensnya.
Dan dunia akan menjadi jauh lebih menarik jika kita berhenti mengukur semua karya dengan satu ukuran: ukuran selera kita sendiri.
