Haruskah Kita Selalu Berada di Tengah?

Distribusi normal membuat kita terbiasa mencari posisi. Tetapi hidup bukan sekadar mencari tempat di antara rata-rata.

Lihatlah distribusi normal.

Ada yang berada jauh di kiri.

Ada yang berada di tengah.

Ada yang berada jauh di kanan.

Lalu kita mulai bertanya:

“Saya ada di mana?”

Di bawah rata-rata?

Rata-rata?

Atau di atas rata-rata?

Tanpa sadar, kita mulai menempatkan diri.

Nilai kita dibandingkan.

Penghasilan kita dibandingkan.

Karier kita dibandingkan.

Bahkan kebahagiaan kita pun kadang dibandingkan.

Seolah-olah hidup meminta kita memilih posisi dalam sebuah kurva.

Padahal distribusi normal hanya menjelaskan bagaimana data tersebar. Ia tidak mengatakan bahwa yang berada di tengah lebih berharga daripada yang berada di ujung.

Begitu juga hidup.

Tidak semua orang harus berada di tempat yang sama.

Ada yang dipanggil untuk berjalan cepat.

Ada yang perlu berjalan perlahan.

Ada yang hidupnya terlihat biasa saja, tetapi justru memberi dampak besar bagi orang-orang di sekitarnya.

Masalahnya bukan ketika kita mengetahui posisi kita.

Masalahnya ketika posisi itu kita jadikan ukuran nilai diri.

Mungkin kita memang perlu tahu di mana kita berdiri.

Tetapi setelah itu, pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah saya di atas atau di bawah rata-rata?”

Melainkan:

“Untuk apa saya berada di titik ini?”

Karena Tuhan tidak membutuhkan semua orang berada di tengah kurva.

Ada yang ditempatkan di titik yang tidak biasa.

Dan mungkin justru dari sanalah sesuatu yang baru dimulai.

Jangan habiskan hidup mencari posisi yang dianggap paling baik. Temukan alasan mengapa Tuhan menempatkanmu di titikmu.

Unknown's avatar

Author: albertushendro

Belajar bersyukur dan berlari di pagi hari :)

Leave a Reply