Tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Yang sering terjadi, kita yang tidak sabar menunggunya.
Kita hidup di zaman yang suka memotong jalan. Ingin cepat kaya, cepat sukses, cepat dikenal. Padahal kalau mau jujur, hidup sendiri tidak pernah menawarkan jalan pintas. Lihat saja perjalanan kita masing-masing.
Semua Ada Prosesnya
Kita lahir sebagai bayi. Lalu menjadi balita, anak-anak, remaja, dan dewasa. Di tengah jalan, sebagian dari kita bahkan masih kekanak-kanakan di usia yang sudah dewasa. Pada akhirnya, kita semua menutup mata dan meninggal.
Tidak ada satu pun tahap yang bisa dilompati. Bayi tidak bisa langsung berlari. Anak-anak tidak bisa langsung bijak. Kedewasaan tidak bisa dibeli, ia harus dijalani.
Memang ada proses yang bisa dipercepat. Orang yang rajin belajar bisa lebih cepat paham. Orang yang mau diajari bisa lebih cepat matang. Tapi dipercepat bukan berarti dilewati. Tetap harus dijalani, hanya ritmenya yang berbeda.
Lalu, Di Mana Momentum?
Di sinilah banyak orang bingung. Sudah berusaha, sudah berdoa, tapi kok belum terjadi juga?
Saya percaya ada satu unsur lagi yang tidak bisa kita atur: momentum.
Rumusnya sederhana:
Usaha dilakukan + harapan diyakini + doa dipanjatkan = ruang bagi momentum untuk datang.
Usaha adalah bagian kita. Harapan adalah arah kita. Doa adalah penyerahan kita. Setelah ketiganya dikerjakan, akan tiba saatnya ada sesuatu yang “mematik” harapan itu sehingga menjadi nyata. Pertemuan yang tepat, kesempatan yang terbuka, pintu yang tiba-tiba tidak terkunci lagi.
Hasil adalah buah dari usaha. Momentum adalah katalisator yang membuat usaha itu akhirnya berbuah. Kita tidak tahu kapan ia datang. Tapi satu hal yang saya yakini: usaha dan proses yang selaras justru yang mengundang momentum itu datang. Ia tidak muncul untuk mereka yang diam, dan jarang singgah pada mereka yang melompati proses.
Jalani, Percayakan, Panjatkan
Jadi, jalani prosesnya. Tidak perlu iri pada tahap orang lain, karena kita sedang menulis bab kita sendiri.
Percayakan pada harapan. Jangan biarkan ia padam hanya karena hasilnya belum kelihatan.
Panjatkan doa. Bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai pengakuan bahwa ada yang lebih besar dari rencana kita.
Momentum itu pasti ada. Kapan datangnya? Serahkan kepada Dia yang Maha Kuasa atas waktu.
Tugas kita bukan mempercepat jam, tapi memastikan kita sudah siap saat jamnya berbunyi.
