Ketika Buku jadi Lagu

Buku menjelaskan dengan deretan kata, lagu menjadikan deretan nada suatu keindahan.

Sebuah buku yang tidak berhenti di halaman terakhir.

Waktu naskah Titik yang Berulang selesai ditulis, saya kira pekerjaannya sudah tuntas. Tinggal menunggu proses terbit. Ternyata tidak begitu.

Beberapa bab terus terngiang, bukan sebagai kalimat, tapi sebagai nada. Ada bagian yang terasa lebih jujur kalau dinyanyikan daripada dibaca. Dari situ album ini mulai ada, bukan karena direncanakan dari awal, tapi karena buku itu sendiri yang meminta bentuk lain.

Lima Lagu, Sintesa Perjalanan.

Album Titik yang Berulang berisi lima lagu, dan masing-masing lahir dari titik tertentu dalam buku. Bukan ringkasan bab, bukan lagu tema. Lebih tepat disebut jejak, jejak dari apa yang tersisa setelah sebuah bab selesai ditulis dan masih terus dipikirkan.

Judul albumnya sama dengan judul bukunya, karena keduanya memang berbicara tentang hal yang sama. Titik-titik kecil yang tampak berulang dan tidak berarti, sampai suatu hari terlihat sedang membentuk sebuah garis.

Kenapa lewat AI, bukan suara saya sendiri.

Ini pertanyaan yang sudah lebih dulu saya duga akan muncul. Jawabannya sederhana. Saya menulis, bukan menyanyi. Vokal dan aransemen di album ini dikerjakan dengan bantuan AI, di bawah nama Reditus Wening, sementara liriknya tetap dari tangan saya sendiri.

Saya pilih untuk terbuka soal ini, bukan menyembunyikannya. Ceritanya sendiri sudah cukup jujur untuk tidak butuh suara yang dipaksakan.

Kenapa bukan sekadar pelengkap.

Album ini bisa saja dianggap merchandise dari buku, semacam bonus. Tapi bagi saya posisinya sejajar. Buku menulis dengan kata, album menulis dengan nada, dan keduanya berangkat dari titik yang sama.

Orang yang membaca bukunya bisa berhenti di situ saja, dan itu sudah cukup. Tapi bagi yang ingin mendengar bagian yang tidak selesai dikatakan lewat tulisan, album ini adalah tempat itu berlanjut.

Kenapa 10.10.2026.

Album ini rilis besok, 10 Oktober 2026. Tanggal yang dipilih seperti mempunyai pola, dan juga bukan sesuatu yang perlu dijelaskan di sini. Doa dalam bentuk Album ini adalah cara saya menjawab pola yang terjadi.

Besok, titik-titik itu akan berbaris rapi. Sampai jumpa di sana.