
Hitung hal-hal kecil, maka kita akan melihat betapa besarnya itu.
Integral. Ketika masih sekolah, saya sering bertanya:
Mengapa harus belajar integral?
Rumusnya panjang.
Hitungannya rumit.
Dan yang paling membingungkan, integral adalah proses menjumlahkan sesuatu yang sangat kecil hingga menjadi sesuatu yang besar.
Bertahun-tahun kemudian saya sadar.
Ternyata hidup bekerja dengan cara yang sama.
Hal besar itu dari hal kecil. Kita sering hanya mengingat peristiwa besar.
Wisuda.
Pernikahan.
Promosi jabatan.
Kelahiran anak.
Padahal hidup tidak dibangun oleh peristiwa-peristiwa besar itu.
Hidup dibangun oleh ribuan hal kecil yang terjadi sebelum dan sesudahnya.
Tidak ada pernikahan yang bahagia karena satu hari pesta.
Pernikahan bahagia adalah integral dari ribuan percakapan, pengorbanan, pengertian, dan pengampunan.
Tidak ada orang menjadi ahli karena satu kali belajar.
Keahlian adalah integral dari ribuan jam latihan.
Tidak ada iman yang kuat karena satu kali retret.
Iman adalah integral dari doa-doa sederhana yang mungkin bahkan tidak kita ingat lagi.
Menariknya, setiap potongan dalam integral tampak tidak penting.
Semua itu baik. Terlalu kecil untuk diperhatikan.
Sama seperti doa satu menit.
Satu halaman buku.
Satu tindakan baik.
Satu ucapan terima kasih.
Sendirian, nilainya terasa hampir nol.
Tetapi ketika dikumpulkan selama bertahun-tahun, hasilnya mengubah hidup.
Mungkin itulah sebabnya kita sering salah menilai diri sendiri.
Kita mengukur hidup berdasarkan momen-momen besar.
Tuhan mungkin melihatnya berbeda.
Ia melihat akumulasinya.
Ia melihat kesetiaan yang kecil-kecil.
Karena pada akhirnya, karakter seseorang bukan dibentuk oleh satu keputusan besar.
Melainkan oleh integral dari keputusan-keputusan kecil yang terus diulang.
Jika hidup adalah integral, maka tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dihitung.
Tuhan menghitung semuanya.