Manusia itu luar biasa.
Kemampuan menghafal. Kita bisa mengingat wajah, menghafal lagu, mengenali pola, bahkan memanggil kembali kenangan bertahun-tahun lalu. Semua itu dilakukan oleh otak yang bekerja dengan energi relatif kecil.
Cukup sarapan sebutir telur, misalnya. 🙂 Tentu, otak membutuhkan lebih dari sekadar telur untuk bekerja, tetapi bukankah menarik bahwa tubuh manusia dapat menjalankan begitu banyak fungsi dengan sumber daya yang relatif terbatas?
Perkembangan AI. Salah satu kemampuan yang terus dikembangkan dalam dunia AI adalah memory. AI tidak hanya diharapkan mampu menjawab pertanyaan berdasarkan informasi yang tersedia saat itu, tetapi juga mengingat konteks, mengenali pola dari interaksi sebelumnya, dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu kita di kemudian hari.
Menariknya, kemampuan yang sudah dimiliki manusia sejak lama justru menjadi salah satu hal yang ingin direplikasi oleh teknologi.
AI resources-nya besar. Untuk menjalankan model AI modern, dibutuhkan infrastruktur komputasi, listrik, chip, dan data center dengan kapasitas sangat besar. Sementara itu, otak manusia mampu menjalankan beragam fungsi kognitif dengan kebutuhan energi sekitar 20 watt.
Bayangkan jika suatu hari AI mampu menyamai kemampuan otak manusia dalam mengingat, belajar, dan menghubungkan informasi, tetapi dengan kebutuhan energi dan sumber daya yang sama kecilnya.
Tech Leapfrog. Kita mungkin sedang membayangkan lompatan teknologi yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat AI menjawab pertanyaan dengan lebih cepat.
Bukan berarti manusia otomatis akan kalah. Sebab, manusia bukan sekadar mesin penyimpan informasi.
Kita juga memiliki pengalaman hidup, kesadaran, emosi, intuisi, dan kemampuan memberi makna.
Sejauh mana semua itu dapat direplikasi oleh AI masih menjadi pertanyaan besar.
Tetapi, satu hal jelas: kita tidak bisa mengandalkan keunggulan manusia hanya karena teknologi hari ini masih membutuhkan begitu banyak sumber daya.
Jangan-jangan, yang membuat kita unggul bukan semata-mata apa yang bisa kita lakukan, melainkan juga betapa efisiennya kita melakukannya.
Hari ini, AI membutuhkan data center untuk memproses begitu banyak informasi. Manusia? Kadang, cukup sebutir telur untuk memulai hari.
Jadi, sebelum terlalu cepat menyimpulkan bahwa manusia akan segera digantikan oleh AI, mungkin kita perlu mengingat satu hal: teknologi masih sedang belajar meniru sesuatu yang selama ini kita anggap biasa.
