Berlatih Adaptasi

Challenge the status quo!

Katanya status quo itu enak, jadi ngapain berubah?

Dunia sudah berubah. Sekarang ini suka atau tidak suka, perubahan terjadi setiap hari. Detik demi detik waktu berubah bukan? Jadi perbubahan itu suatu keniscayaan, tidak bisa dihindari. Tapi perubahan yang kecil tidak akan terasa (seperti waktu). Perubahan akan terasa kalau besar event-nya. Seperti pindah kerja, pindah rumah, berubah status atau apa saja yang besar atau berpengaruh besar bagi hidup masing-masing orang. Setelah perubahan pastinya orang akan berusaha menjadi normal (seperti biasa atau Business As Usual). Laksana air di bejana yang digoncang-goncang; awalnya akan beriak-riak hingga mungkin luber (atau tumpah). Tapi lama-lama akan tenang atau diam. Karena energi goncangannya habis atau teredam. Kalau sudah diam kemudian lama-lama menjadi status quo.

Memulai lagi. Cycle perubahan akan dimulai dari diri sendiri untuk memulainya tapi terkadang karena keadaan (baca: perubahan strategi bisni). Dengan perubahan besar orang akan kembali berlatih untuk beradaptasi. Jadi mari kita berlatih beradaptasi sendiri dengan cycle-nya masing-masing. Bisa 10 tahun sekali dengan renovasi rumah atau pindah rumah (baru), pindah kerja tiap 2/3 tahun sekali, atau apa saja yang dianggap sebagai perubahan signifikan.

Koperasi Digital

Zaman digital dengan merebaknya telepon selular telah banyak merubah bisnis termasuk koperasi. Kalau berbicara bank/institusi finansial, sudah banyak yang membuat layanan digital memudahkan orang bergabung. Hal tersebut karena tuntutan zaman. Semua layanan digital dengan mudah dimulai, daftar menggunakan nomor handphone/alamat e-mail dan handphone itu sendiri, beres dan jadi. Bisa langsung digunakan.

Koperasi going to digital. Ada beberapa layanan koperasi yang ikut menjadi digital dengan “menjual” tabungan. Jadi dengan mudah menabung dengan membuka layanan melalui handphone. Orang bisa mempunyai e-wallet, tabungan, bayar tagihan, transfer dan lain lain. Seperti halnya digital bank tapi ini koperasi digital. Kemudian bisa ditawarkan pinjaman karena produk koperasi kan simpan dan pinjam.

Rapat Anggota. Kalau menjadi anggota koperasi melalui digital kemudian rapat anggotnya gimana ya? Atau ternyata menjadi anggota luar biasa sehingga tidak memiliki suara di Rapat Anggota. Atau nanti voting lewat aplikasi online. Nanti dicari tahu lebih jauh.

 

Mewaspadai Lawan

Siapa yang menyangka bahwa ojek akan mejadi lawan dari perusahaan taxi?

Individu vs Grup. Kalau kita lihat secara langsung secara fisik, tidak mungkin ojek (yang merupakan individu dan bukan moda transportasi) akan menjadi lawan taxi apalagi perusahaan taxi. Ojek menjadi alternatif dari alat transportasi yang ada, jadi akan dipakai karena memang yang utama tidak ada atau tidak memungkinkan. Dengan segala remeh-temehnya (harga seenaknya dll), orang memakai jasanya karena terpaksa. Ojek menjadi alternatif dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Bagi beberapa orang bahkan ojek menjadi moda transportasi utama karena dia sudah tahu siapa tukang ojek-nya (baca: langganan). Jadi untuk menjadi ojek yang “enak” bagi beberapa orang harus melewati beberapa macam syarat yang dia tentukan, dengan cara langganan ojek, semua itu bisa didapat.

Ojek adalah individu-individu yang memberikan service-nya sendiri-sendiri dengan tarif seenaknya sendiri, karena memang tidak ada yang mengatur. Sementara itu, tengoklah taxi. Moda transportasi yang dimiliki oleh sebuah koroporasi yang memiliki aset dan diatur oleh regulator (organda, dephub). Secara kasat mata, ojek akan mustahil mengalahkan taxi dengan dukungan ekosistemnya termasuk dibelakangnya group perusahaannya.

Zaman Informasi. Dengan perkembangan zaman informasi dan teknologi sekarang ini, membuat orang menjadi mudah dalam mencari informasi dan mendapatkan informasi. Menurut Google, tidak ada lagi “Zero moment of truth“, orang tidak lagi terkejut dengan sebuah fakta dalam membuat keputusan karena memang sudah tahu persis luar-dalam, kiri-kanan dan atas-bawahnya. Kondisi ini menjadikan fenomena baru di sosial media, orang berbagi sewaktu jalan-jalan, mau makan, ada acara bersama, dan lain-lain. Kebiasaan berbagi menjadi merambah ke dunia yang lebih luas yaitu bisnis. Orang berbagi rumahnya untuk disewakan menjadi seperti hotel dan peluang ini diambil oleh AirBnB dan sukses menjadi perusahaan yang besar. Sharing ini kemudian menjalar juga ke dunia transportasi melalui UBER dengan membuat orang berbagi mobilnya menjadi seperti “taxi”. Banyak lagi diluaran sana sharing ekonomi menjadi “bisnis” tersendiri. Dan tren ini terbawa ke dunia perojekan juga. G0-jek dengan ide brilian membawa solusi untuk “bisnis” ojek sehingga membuat orang dengan mudah memakainya. Serta membuat orang juga tidak malu menjadi tukang ojek. Ini yang banyak orang disebuat “disruption” di dunia ojek.

Pengguna menjadi Raja. Dengan kekuatan “digital disruption”  (menggunakan media digital) dan pengguna yang cukup banyak membuat ojek jadi bukan lagi individu-individu, tapi adalah kekuatan kolektif melalui Go-jek sebagai pemersatunya. Dan disambut oleh antusiasme pengguna dengan memakainya sehingga ojek kemudian menjadi pilihan utama orang-orang untuk pergi jarak dekat atau menghindari kemacetan. Pengguna menjadi raja dengan bebas memilih ojek dan mulai meniggalkan taxi sebagai pilihan utama. Hal ini menjadi “ancaman” bagi taxi, karena pengguna banyak beralih. Bahkan sempat terjadi friksi antara taxi dan ojek karena hal ini. Selama ini ojek yang kecil bukan siapa-siapa bagi taxi dan perusahaan taxi tapi dengan kekuatan “digital disruption” serta “sharing economy” menjadi musuh bagi yang besar.

Waspadai Musuhmu. Jadi sekarang ini, tidaklah mustahil disekitar kita yang sekarang ini kita anggap bukan siapa-siapa atau mungkin mustahil untuk mengancam; bukan berarti tidak mungkin mengancam kita. Dengan cycle bisnis yang mulai memendek, serta kekuatan “digital disruption” dan “sharing economy” kita harus selalu belajar dan waspada. Siapa tahu yang ada disekitar anda itulah yang akan mengancam anda (baca: profesi anda). Bersiaplah untuk mempunyai kemampuan beradaptasi karena di zaman now: “Beradaptasi atau Mati“!

 

 

Tontonanku: YouTube

“Pah, aku nonton YouTube ya”

itu adalah password untuk nonton YouTube di rumah saya. Jadi anak-anak harus self declare kalau mereka akan menonton YouTube dan orang tuanya akan mengontrol secara random yang ditonton.

Kids Zaman Now lebih suka nonton YouTube dibanding TV. Kenapa ya?

Anak-anak senang sekali nonton TV sebelum mengenal YouTube. Mereka akan beralih ke YouTube (setelah tahu apa itu YouTube) karena mereka sendiri yang kontrol materi yang akan ditonton. Kalau lagi senang nonton “My Little Poni” terus-terusan nonton similar content (seri yang lain) sampai bosan.

Tantangan untuk orang tua adalah materi yang ditonton itu tidak disensor dan bisa disusupi apa aja. Jalan terbaik adalah memberikan pengertian kepada anak dan menanamkan trust. Meminta mereka untuk bercerita content apa saja yang ditonton utk check and recheck.

 

Simalakama

“Bagai makan buah simalakama”

Pribahasa ini sering menjadi rujukan untuk suatu kondisi dimana kita akan selalu salah jika menghadapi suatu pililhan. Jadi memang pribahasa ini sangat tidak mengenakkan.

Demikian juga kalau kita sudah berhadapan dengan asuransi terutama kesehatan. Ada kalanya kita akan mengalami mirip seperti peribahasa itu. Jika Anda peserta Asuransi kesehatan untuk rawat jalan & rawat inap dengan menggunakan kartu (biasanya asuransi kumpulan dari perusahaan) bisa jadi mengalami kondisi terjepit.

Pilihan sulit. Ada kalanya dokter akan merekomendasikan untuk rawat inap (dengan tentunya serentetan proses diagnosa sebelumnya, kemudian kita dihadapkan pada pilihan untuk ikuti saran dokter tersebut dengan tentunya akan memberikan pertanyaan klarifikasi mengapa hal tersebut dibutuhkan. Dengan adanya asuransi kesehatan rawat inap dan setelah pertimbangan akan rekomendasi dokter, kita akan mengikuti saran dokter tersebut. Dengan logika, dijamin asuransi dan rekomendasi dokter, apakah hal tersebut cukup sebagai sarat untuk memenuhi klaim? Tentunya tidak! Ada kalanya asuransi menolak klaim kita dengan alasan bahwa kurangnya indikasi medis untuk melakukan rawat inap sedangkan dokter dengan segala pengalamannya lebih tahu bagaimana kondisi pasien saat rekomendasi tersebut diberikan. Jadi peserta akan mengalamai kondisi jika tidak mengikuti rekomendasi yang diberikan dan terjadi apa-apa yang lebih jelek, akan disalahkan. Sedangkan begitu klaim ditolak karena ‘salah’ peserta dimana kondisi itu belum layak rawat inap.

Data. Antara dokter dan analis klaim memiliki gap yang hanya dijembatani dengan data. Masing-masing memiliki cara pandang berbeda dengan data yang sama, akhirnya yang jadi korban adalah peserta asuransi. Akan menjadi lebih repot untuk menjembatani antara keduanya. Masing-masing ‘merasa’ benar dan kembali pesertalah yang akhirnya karena ‘kelemahannya’ harus menjembatani gap ini.

Jadi kalau Anda sudah taat aturan, tidak ada kebijakan yang dilanggar, kemudian sudah cukup cerdas untuk mempertanyakan semua diagnosa dokter; mengikuti rekomendasi dokter belum tentu klaim anda diterima.

Paradox

Definition of paradox. Menurut Merriam-Webster dictionary [1]:

  1. :  a tenet contrary to received opinion

  2. 2a :  a statement that is seemingly contradictory or opposed to common sense and yet is perhaps true

    b :  a self-contradictory statement that at first seems true

    c :  an argument that apparently derives self-contradictory conclusions by valid deduction from acceptable premises

 

:  one (as a person, situation, or action) having seemingly contradictory qualities or phases

Boleh diartikan bahwa paradok itu suatu statement/premis yang saling kontradiksi (mengandung unsur kebenaran dan salah secara bersamaan).

Matematika dan Paradok. Paradok banyak ditemui di dunia matematika. Hal ini banyak berhubungan dengan logika. Ada premis yang akan saling berkontradiksi. Contoh Paradoks Zeno: Achilles dan Kura-kura. Achilles berlomba dengan kura-kura. Sang kura-kura boleh berlari 1 km di depan Achilles dan Achilles berlari santai dengan kecepatan 2 kali kecepatan kura-kura. Siapa yang akan menang lari? Menurut Zeno, Achilles tidak akan pernah menyalib sang kura-kura. Karena itulah kura-kura yang menang. Tetapi 2000 tahun kemudian (dengan adanya konsep ketaterhinggaan) dibuktikan bahwa Zeno salah.

Zaman Media Sosial. Di zaman media sosial, dimana privasi setiap orang dengan sadar dan tanpa paksaan diumbar, banyak sekali paradok yang bisa kita lihat. Status di media sosial, cukup banyak contoh paradok.

Contohnya: Status di media sosial “Saya tidak suka pamer” padahal ditulis di dinding media sosial yang bisa dilihat oleh semua orang seantero jagad media sosial.

 

 

References: [1] https://www.merriam-webster.com/dictionary/paradox

QR Code Payment

google_search_-_albertus_hendro

Definisi. QR (Quick Response) Code adalah barcode 2 dimensi digunakan pertama kali di industri otomotif Jepang, merupakan label yang bisa dibawa lewat mesin dan memiliki informasi yang berhubungan dengan label tersebut. Jadi kalau barcode (berupa garis tebal tipis) yang dapat dibaca oleh mesin berisikan angka-angka, ditambahkan informasi lain jadilah QR Code ini. Sekarang ini barcode sudah banyak dikenal dan dipakai oleh industri untuk memberikan informasi SKU atau kode barang. Hampir semua kemasan makanan sekarang ini sudah ada barcode-nya. Untuk membacanya sudah banyak device yang dijual cukup terjangkau di pasaran. Bahkan ketika kita membayar di kasir convenience store a.k.a *mart itu, mbak kasirnya memindai kode barcode tersebut. Kemudian aplikasi POS-nya akan menampilkan harga dan juga deskripsi barangnya. Barcode memiliki keterbatasan yang hanya berupa label, untuk itulah QR code diciptakan. Penggunaan QR Code sekarang ini mulai meluas setelah diadopsi oleh indstri selain otomotif di Jepang. Banyak yang memakai QR code untuk menampilkan informasi yang banyak.

Design QR Code.  Kalau barcode hanya terlihat seperti garis-garis hitam dengan ketebalan yang berbeda-beda, QR code mulai banyak pilihannya. Sekarang ini desain QR Code bisa ditambahkan logo perusahaan sehingga bisa menjadi alat untuk promosi juga. QR Code berguna untuk menampilkan informasi yang lebih banyak dengan representasi seperti barcode.

QR Code payment. Di dunia fintech, sekarang ini QR Code juga dipakai sebagai salah satu media untuk melakukan pembayaran. Jadi merchant akan mencetak QR Code ketika pembeli akan melakukan pembayaran. Setelah dipindai, pembeli akan mengetahui detail transaksi yang akan dibayar. Jika setuju akan membayar, pembeli akan memproses pembayaran melalui aplikasi mobile yang sudah terhubung dengan akun untuk melakukan pembayaran tersebut. Bisa akun e-Wallet atau bahkan akun tabungan (kartu debit) melalui mobile banking. Payment method semacam ini jadi mungkin karena sekarang ini mayoritas pengguna handphone memiliki kamera. Di Taiwan atau Cina, aplikasi chatting yang populer dan banyak dipakai sudah mengimplementasikan QR Code payment. Jadi pengguna hanya memakai aplikasi chatting tersebut. Cukup mudah karena sudah terintegrasi dan juga banyak merchant yang memakai cara pembayara ini.

Tantangan. Walaupun penggunaan smartphone dan handphone berkamera sudah sangat bayank, QR Code scanner belum menjadi default app di banyak HP. Pengguna harus mengunduh aplikasi tambahan untuk dapat memindai QR code ini. Jadi ini salah satu hambatan mengapa payment method jenis ini belum banyak dipakai. Selain itu kemampuan memindai QR Code tergantung dari tampilan QR Code sendiri. Jika ditampilkan di layar POS/EDC yang resolusinya kurang memadai, akan sulit bagi aplikai pemindai untuk menampilkan informasi yang terkandung dalam kode tersebut.

Peluang. Berkaca dari pengalaman di Cina atau Taiwan, aplikasi QR Code payment ini harus terintegrasi dengan aplikasi yang sering dipakai orang. Artinya kemudahan mempunyai fasilitas/metode bayar QR Code payment ini mejadi kunci akan dipakainya metode ini. Selain itu harus banyak merchant yang bisa menerima cara pembayaran ini. Kalau merchant punya aplikasi yang bisa memproses metode bayar ini dengan mudah, misalnya dengan HP yang dimiliki penjualnya maka akan lebih luas lagi penerimaan masyarakat akan cara bayar QR ini. Jadi kalau kita bisa beli gorengan atau teh botol di pinggir jalan bisa bayar pakai QR Code ini maka itu tanda bahwa metode ini sudah banyak diterima dan dipakai oleh masyarakat luas. Apakah Anda pernah membayar dengan metode ini?

Credit Union (CU) Mobile App

credit-union

Memberdayakan anggota untuk dapat menolong dirinya sendiri

Credit Union. Apa sih Credit Union? supaya lebih mudah, adalah sebuah koperasi (anggota yang berserikat dan berkumpul untuk mendapatkan manfaat bersama) dengan fokus pemberdayaan anggota untuk dapat menolong dirinya serta mengubah cara pandang atas kehidupan melalui pendidikan. Jadi kalau CU tidak memberikan banyak program pendidikan akan seperti koperasi pada umumnya yang akan cuma berorientasi pada simpan dan pinjam saja (uang semata).

Pemberdayaan Anggota. CU lebih fokus pada memberdayakan anggota dengan pendidikan. Orang akan berubah jika cara pandangnya diubah. Untuk itu CU percaya bahwa pendidikan akan mengubah anggotanya. Anggota akan berdaya dan lebih menghargai masa depan dengan mulai mempersiapkannya sendiri. Dimulai dari program pendidikan dasar yang memberikan nilai-nilai CU, pola kebijakan produk dan layanan serta bagaimana mengatur keuangannya sendiri sehingga anggota bisa menabung dan juga bertanggung jawab jika memiliki pinjaman. Menyadarkan anggota itu merupakan program berkelanjutan, sehingga di CU diberikan pelatihan-pelatihan lain seperti Literasi Keuangan, kewirausahaan, dll.

Walk the talk. Mekanisme CU seperti koperasi, semua anggota adalah pemilik lembaga dan kekuasaan tertinggi ada di rapat anggota. Semua anggota mempunyai kewajiban untuk saling mengingatkan jika ada anggota yang lalai dalam membayar kewajiban angsuran pinjaman. CU sangat mencerminkan semangat gotong-royong, saling menolong dan kemandirian. CU percaya bahwa yang bisa mengubah nasih manusia adalah dirinya sendiri. Untuk itu semboyan “membantu anggota untuk menolong dirinya sendiri” tidak menjadi retorika belaka tapi merupaka “walk the talk” dari semangat CU.

Digital Era. CU juga harus modern. Salah satu tokoh dalam pengembangan CU adalah Rm. Fredy Rante Taruk, Pr. percaya bahwa CU juga harus beradaptasi dengan perkembangan jaman terutama tantangan masyarakat urban (seperti di Jakarta) berbeda dengan masyarakat di daerah. CU harus mampu memberikan pelayanan yang profesional. Salah satu bentuk adaptasi terhadap perkembangan jaman adalah dibuatnya aplikasi Android untuk CU Pelita Sejahtera (CUPS). CUPS adalah CU yang dibentuk di wilayah Blok Q Jakarta Selatan. Aplikasi mobile ini memungkinkan anggota untuk mengecek informasi saldo pinjaman dan simpanannya serta mengetahui perkembangan CUPS. Selain itu anggota juga bisa melakukan simulasi pinjaman untuk mengetahui jumlah angsuran serta meliha daftar anggota yang mempunyai bisnis sehingga dapat dihubungi jika dibutuhkan.

Aplikasi CUPS Mobile ini bisa diunduh di Google Play.

google_play-290x100